Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan

Hijab Undel-Undel Tur Ting Slawir?


Saya sudah pernah menulis tentang hijab disini dan disini Kali ini saya menulis kembali tentang hijab dengan topik yang berbeda.

Saat memutuskan untuk mempublikasi tulisan ini di blog pribadi, semuanya didasari oleh semangat ingin berbagi. Hanya ingin berbagi dengan pembaca tentang sesuatu yang saya pahami, bukan ingin menghakimi, apalagi menghina.

Sebagai orang yang bergerak di bidang fashion, kami (saya dan seorang teman usaha) banyak membeli majalah-majalah yang memuat model busana wanita sebagai bahan “contekan”dan mengambil ide.
Karena kami memang mengkhususkan diri menjahit baju muslim/muslimah, maka majalah yang kami beli adalah majalah yang banyak memuat model busana muslim.
Namun lama kelamaan kok saya menjadi sedih saat melihat trend berhijab akhir-akhir ini.
Kenapa trendnya menjadi banyak menyalahi aturan busana muslimah?
Menurut saya semakin lama kok gayanya semakin berlebihan ya?.
Dari model kerudung yang diundel-undel, ditumpuk-tumpuk, dilipat-lipat, sampai penambahan asesori di kepala segede baskom.
Belum lagi jika ada yang memakai kerudung dengan tambahan untaian manik-manik yang ting slawir (menggantung di sana-sini) di kepala.
Namun walau bertumpuk-tumpuk tapi tidak sempurna menutup dada.

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Namun dalam hal manusia berusaha memperindah sesuatu, Allah menetapkan aturan.
Beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam berhijab yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu sebagai berikut :

1.Menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan (QS. Al Ahzab/33:59)
Sabda Rasulullah : "Wahai Asma!, sesungguhnya apabila seorang wanita telah haidh (sudah baligh), maka tidak boleh terlihat darinya ini dan ini"
Kemudian Rasulullah menunjuk wajah dan telapak tangan beliau.

2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan.(QS An Nur/24:31)
Sabda Nabi : "Ada tiga golongan, jangan engkau tanya tentang mereka (karena mereka golongan orang-orang yang binasa). Seorang istri yang suaminya sedang tidak ada, padahal suaminya telah mencukupkan kebutuhan duniawinya, namun setelah itu dia bertabarruj (bersolek untuk laki-laki yang bukan mahromnya), maka janganlah engkau tanya tentang mereka.
Dalam bahasa sederhana saya tuh gini lho : salah satu fungsi hijab kan untuk menutupi "perhiasan" (bentuk tubuh dan perhiasan yg melekat di tubuh yang harus ditutupi) agar tidak menarik perhatian. Tapi lha kok malah penutupnya dibikin heboh dan sengaja dibuat untuk menarik perhatian... lha iki trus njuk piye tho?

3. Bukan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas).
Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar. Ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang memakai pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya di hari Kiamat lalu membakarnya dengan api neraka"

4. Tidak memakai pakaian yang ada gambar mahluk hidupnya.
(disarikan dari majalah As-Sunnah, no 11/THN. XVI, Rabiul Akhir 1434)

Dari beberapa buku yang saya baca, diutamakan memakai pakaian berwarna gelap. Wallahu a'lam

Jadi jika Allah telah menetapkan syarat seperti tersebut diatas, sejatinya tak lagi ada yang berlebih-lebihan dalam berhijab.
Sebenarnya masih ada banyak syarat yang belum saya cantumkan disini, namun semoga beberapa syarat yang sudah saya tuliskan dapat menjadi bahan renungan kita (terutama saya), apakah gaya berpakaian kita telah syar'i?

Untuk apa sih kita sibuk berjam-jam didepan cermin mematut diri demi tampil genjreng wah membahana jika apa yang kita kenakan dilaknat Allah?
Bukankan sederhana itu indah?

Semoga kita semua dapat istiqomah hidup sesuai aturan Allah.

*Terima kasih buat #beliau yang telah banyak memberikan buku-buku bermanfaat.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya*





»»  Baca Selengkapnya...

Pusat Perkulakan, Supermarket Vs Toko Tetangga



Hari ini adalah grand opening pusat perkulakan di dekat rumahku. Kebetulan hari ini aku belum bekerja di studio jahit setelah tiga hari terkapar karena HB rendah, maka kuajak tetangga sebelah rumah untuk sekedar melihat-lihat seperti apa sih pusat perkulakan yang lokasinya di seberang rumah kami.

Pusat perkulakan, supermarket dan mall bukanlah tempat yang kusukai, aku bukan orang yang memilih pusat perkulakan sebagai tempat rekreasi, atau sekedar jalan-jalan. Aku lebih suka menghabiskan waktu luangku dengan tiduran, membaca atau nyalon di rumah.
Dari rumahku, hanya dibutuhkan waktu satu menit menuju pusat perkulakan yang baru dibuka tersebut. Seperti pusat perkulakan pada umumnya, begitu masuk, kami telah disuguhi dengan pemandangan tumpukan kardus. Tempat ini lumayan luas dengan jarak yang memadai antara rak satu dengan satunya.
Dulu, saat pertama kali dibukanya pusat perkulakan di kotaku, ada banyak wacana tentang pengaruh dari toko “bergaya” seperti ini. Dikhawatirkan toko-toko penjualan sembako yang tak sebesar ini akan perlahan mati.

Pertama kali mendengar kata “Pusat perkulakan”, pikiran kita akan diarahkan pada penjualan barang-barang dalam partai besar. Misalnya membeli mie instan tak boleh per bungkus, namun harus satu kardus. Ternyata tidak, sama seperti toko-toko yang ada selama ini, boleh membeli satuan.
Dahulu aku pernah menuliskan tentang pasar tradisional versus supermarket disini.
Aku bukan ahli ekonomi, risetkupun tak mendalam, yang  kutahu adalah, tetangga yang berjualan gula dan beras di dekat rumah akan bahagia jika aku tetap membeli beras, gula dan beberapa sembako padanya, tak lantas berpindah ke pusat perkulakan, walau harganya lebih murah.
Tak dapat dipungkiri, berbelanja di supermarket/pusat perkulakan lebih nyaman, tempat yang lebih luas, barang lebih beragam dan kitapun bebas memilih, membaca apa yang tertera dikemasannya dan tak sungkan jika harus berlama-lama untuk membandingkan harga/komposisi antara merk satu dengan merk yang lain. Hal ini tak akan kita dapatkan jika membeli di toko langgananku.
Namun hidup tak hanya melulu soal uang. Mungkin aku akan diprotes beberapa pembaca, jika tetap memilih membeli di toko langganan yang letaknya tak jauh dari rumah dan aku kenal dengan pemiliknya. Tapi aku punya alasan. Aku tetap membeli di toko langganan karena aku menempatkan diriku sebagai dia. Tentulah sedih jika pelanggannya berpindah ke lain toko hanya karena harga. Padahal keuntungan yang didapatnya hanya beberapa ratus rupiah per item. Bagiku, biarlah aku “merugi” sepuluh ribu rupiah per bulannya, namun aku menjadi salah satu api kecil yang tetap menghidupkan toko tersebut. Alasanku mungkin terlalu besar ya, namun bukankah sesuatu yang besar selalu dimulai dari yang kecil?.

Lho bukankah aku pernah menuliskan tentang perempuan yang mutlak harus berhemat?, wah berlawanan dong dengan sikapku kali ini?. Tidak!, aku tetap kekeuh untuk hemat, namun hemat itu kan bukan hanya sekedar membeli barang dengan harga murah?, ada banyak aspek dalam kehidupan yang mempengaruhi gaya berhemat kita. Jika atas alasan hemat kita enggan membagi kue yang kita buat ke tetangga, tentulah itu bukan hemat yang cerdas. Begitu pula denganku. Aku tak mau hanya menghemat uang sepuluh ribu rupiah per bulan, namun pelan-pelan membunuh usaha tetangga, atau minimal mengkerdilkan usahanya.

Pusat penjualan besar tak akan mati jika kita membeli barang di tetangga sekitar rumah, karena para penjual ini juga membeli di pusat perkulakan kok.
Aku lebih suka membantu yang disekitarku dahulu sebelum aku membantu menggelembungkan laba pada supermaket/pusat perkulakan besar.
Apakah aku anti supermaket/tempat perkulakan?, hehehe, tentu saja tidak. Tadi aku membeli biskuit rendah lemak dan body lotion di pusat perkulakan yang baru dibuka itu, karena tetanggaku tidak menjualnya.

Bagaimana dengan pembaca?
»»  Baca Selengkapnya...

Memilih yang Baik



Dulu saya pernah memposting perihal pilihan disini
Kini saya menuliskan kembali soal pilihan yang membawa saya pada apa yang disebut dengan bahagia lahir batin #cetaaaaaaaar
Allah meminta kita untuk bergaul dengan orang-orang sholeh. Hal ini dimaksudkan agar kesholehan mereka “menular” kepada kita.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak sholeh?, dijauhi?.
Ya kalau pembaca bisa membuatnya lebih baik, monggo didekati dan dinasehati agar sholeh, tapi kalau merasa belum mampu menasehati, menurut saya, lebih baik menjauh dan menghindar saja. Eh ini menurut saya lho ya, kalau beda pendapat ya silahkeun.

Kadang kita baru tersadar telah salah memilih setelah melewati satu peristiwa.
Itulah yang saya alami. Saya tidak menyebutnya salah bergaul, namun salah memilih orang yang patut untuk didengar dan dilaksanakan omongannya.
Saya tidak akan menyalahkan orang lain atas peristiwa apapun yang saya alami, karena semua peristiwa yang terjadi, tentulah atas ijinNYA. Jika pandai memetik hikmah, peristiwa sepahit apapun akan terlihat bagai sebongkah batu yang dapat kita pijak, agar kita bisa lebih tinggi, sehingga dapat melihat lebih luas.

Karena sebuah tanggung jawab, mengharuskan saya setiap hari bertemu dengan “segerombol” orang-orang ini *kita namakan saja mereka gerombolan komentator ya (soalnya “profesi tetap” mereka adalah mengomentari orang lain)*
Gerombolan ini tak sepaham dengan saya, misalnya mereka menganggap pilihan saya untuk menjadi penjahit adalah pilihan salah, karena profesi penjahit itu tidak keren, tidak bergengsi. Sayapun mulai berpikir, mungkin benar ya jadi penjahit itu tidak keren?, tapi saya memang suka sekali menjahit dan ingin mempunyai usaha dalam bidang jahit menjahit, jadi bingung deh. Mulailah saya ragu dengan pilihan saya, akhirnya saya hanya membuat baju untuk diri sendiri demi memuaskan hobi menjahit.
Kemudian saya melirik dunia tulis menulis, dengan harapan saya akan “satu pemahaman” dengan mereka, karena memilih dunia yang lebih keren dari “hanya sekedar menjadi penjahit” (harus pakai tanda petik dan ditulis miring, PENTING!). Tapi apa yang terjadi?, saya dikomentari pemalas, karena kerjanya hanya di depan laptop terus (idih, padahal saya kan juga ngurus mama yang sakit, mengerjakan urusan rumah, masak, bebersih, ngelesin privat, #Hrrrrgggg). Pada tahap ini sayapun belum sadar kalau saya seharusnya tak perlu mendengarkan komentar mereka. Akhirnya saya memilih menuruti apa kata gerombolan ini, berhenti menulis dan tidak lagi terkoneksi dengan internet, walau dengan hati perih bagai tersayat sembilu #lebaaaaaaaayyyyyy.

Njahit gak boleh, nulis gak boleh, okh ngaji mungkin boleh ya?, mulailah saya aktif kembali mengaji, setelah pernah berhenti selama 3 tahun. Seiring dengan bertambahnya ilmu dan pemahaman saya, penampilan sayapun mulai berubah. Saya memakai baju muslim, gamis lebar, kerudung menutup dada.
Aoalaaaaaaahhh, lagi-lagi dikomentari miring. Mereka bilang penampilan saya ndeso, tidak modis, bajunya kegedean. Sayapun diperingatkan untuk tidak perlu “seperti itu” (gak perlu ngaji maksudnya), khawatir saya jadi teroris, karena bergaul dengan teman mengaji yang mengenakan cadar. #pyuuuh #ngelappeluh.

Yup! cukup sampai disini!, saya mulai berpikir untuk “memberontak” atas penilaian mereka.
Hingga pada satu peristiwa yang membuat saya yakin bahwa mengabaikan mereka adalah lebih baik bagi saya *ekstrem ya*.
Mulailah hari itu juga saya proklamirkan ke diri sendiri, bahwa saya layak untuk melakukan apa yang saya suka, apa yang saya anggap baik, tanpa harus menuruti mereka. Toh semua yang saya lakukan dan dikomentari miring itu bukanlah hal yang melanggar batas apapun. Jadi apa yang harus saya khawatirkan?.

Dengan membawa rasa percaya diri segede gaban, saya mulai menghubungi sahabat saya semasa SMA. Kami memutuskan untuk bekerja sama dalam bisnis jahit menjahit.
Saya mulai membuka internet kembali, memuaskan menulis dan membaca.
Jika dulu saya harus berganti baju saat akan bertemu salah satu orang dari gerombolan ini *biar tidak dikomentari miring*, kini dengan tenangnya saya akan memakai gamis segede payung terkembang, dengan kerudung menjulur panjang.

Lalu tiba-tiba dunia menjadi indah berwarna-warni, awan berarak, bunga berseri-seri, kumbang menari lincah. Seperti itulah dunia yang saya lihat, begitu saya tak lagi khawatir akan komentar gerombolan ini.
Hidup terasa sangat menyenangkan saat kita mengerjakan apa yang kita suka, sampai saya ingin salto jumpalitan tiap hari karena senangnya,.
Saya merasa nyaman diantara gulungan kain dan kertas-kertas pola.
Saya juga merasa seksi saat dikelilingi tumpukan buku, kemudian mengahadap laptop dan konsentrasi menulis apapun yang ada dalam pikiran saya. Pokoknya nulis, mau di publikasi atau tidak, saya tetap senang mengerjakannya.
Saya juga merasa tenang mengenakan gamis lebar, karena busana model itulah yang saya pahami sebagai busana yang baik.

Tak sekalipun saya menyalahkan mereka, karena memang sayalah yang salah, kenapa juga saya ijinkan mereka menyetir hidup saya?, dah gitu nyetirnya bukan ke arah yang saya tuju *cakar-cakar aspal*.
Pilihan mengabaikan yang tak baik membuat saya dapat tersenyum.
Tersenyum saat melihat tulisan saya ada diantara halaman majalah atau koran, puas meraba payet yang berbaris rapi di baju pelanggan dan kadang tertawa saat membaca komentar teman di internet.
Menjahit, menulis, online dan tetap mengaji membuat hidup saya merona.
Selain merona, kegiatan itu juga membuat saya bisa mengumpulkan rupiah demi rupiah.

Pengalaman inilah yang kini membuat saya lebih baik menjauh dari lingkungan yang membuat saya tak nyaman, karena sadar, saya belum mampu mewarnai yang buruk menjadi baik, salah-salah saya yang akan terwarnai oleh aura buruk.
Menjauh dari orang-orang yang gemar berkomentar miring pada siapapun dan menghindar dari orang-orang bermulut tajam.
Kita diminta untuk saling menasehati dalam kebaikan, namun saya baru dalam tahap menghindar, karena saya memang belum mampu menasehati.
Maafkan saya yang belum pandai menasehati orang selain menasehati diri sendiri.
Semoga.

»»  Baca Selengkapnya...

Dia Hidup pada Zaman yang Berbeda dengan Zamanmu


Kecuali nabi Adam, semua manusia adalah anak dari orangtuanya. Begitu pula saya. Saya telah mengalami fase menjadi anak, dan berharap secepat mungkin Allah berkenan memberi saya fase berikutnya, sebuah peran yang telah saya tunggu sekian lama, menjadi ibu yang melahirkan anak dari rahimnya.

“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”, begitulah nasehat Umar bin Khatab, salah seorang sahabat nabi Muhammad.
Sebuah nasehat yang masih dan akan tetap sesuai dalam segala era.
Karena kehidupan selalu berubah, mengalir, bertumbuh, maka zamanpun juga begitu, berubah. Bahkan kadang saya menyadari betapa cepatnya zaman berubah.

Ibnul Jauzi dalam kitab Tanbihun Na’ilmil Ghamir ala Mawasimil ‘Umur membagi fase kehidupan manusia dalam 5 fase, yaitu fase :
1. Dari lahir hingga baligh ( kira-kira usia 15 tahun).
2. Dari baligh hingga akhir usia syabab (35 tahun).
3. Dari usia 35 hingga 50 tahun.
4. Dari usia 50 hingga 70 tahun.
5. Dari usia 70 tahun ke atas.
Ada beberapa fase dimana kita butuh panutan, diantara sekian banyak panutan, yang paling dekat adalah orangtua kita.

Jika ditanya apa harapan saya (sebagai anak) kepada orangtua?. jawabnya sederhana, saya ingin orangtua saya bahagia dunia akhirat. Sebuah jawaban sederhana yang ternyata sangat rumit dalam penerapannnya.
Orangtua saya bukanlah orangtua yang sempurna, sebagaimana saya juga merasa bukan anak yang sempurna. Bagaimanapun ketidaksempurnanya orangtua saya, saya tetap merasakan mereka adalah pasangan yang paling mengerti saya, orang yang paling saya percayai, orang yang paling saya cari ketika saya ingin bercerita, orang yang paling cepat membuat saya menangis jika mengingat jasanya dan orang yang paling saya perjuangkan untuk tidak merasakan panasnya api neraka (karena merekalah, saya berupaya sekuat mungkin berusaha menjadi wanita sholehah, walau saya tahu itu adalah “titel” yang sangat sulit didapat, karena hanya anak-anak yang sholeh yang mampu “membebaskan” orangtuanya dari api neraka, begitulah ajaran dari apa yang saya yakini).

Meskipun saat SD saya sempat mengalami kecanggungan dalam berkomunikasi dengan ayah, Alhamdulillah, saat SMP saya merasakan kehangatan komunikasi dengan kedua orangtua.
Saya melewati masa ABG dengan aman dan menyenangkan karena saya mampu berbicara apa saja dengan orangtua.

Pengalaman ini ternyata tidak dialami oleh beberapa murid les privat saya.
Saya pernah hampir menangis (namun saya tahan, agar tak jatuh airmata), saat mendapati murid saya tak pernah dibelai oleh orangtuanya.
Ceritanya, saya seminggu tiga kali mendatangi sebuah rumah mewah untuk rutin mengajar les privat pada seorang anak kelas 6 SD, ternyata anaknya sedang menangis di kamar, tidak mau belajar. Saya katakan , “oke hari ini kita tidak belajar, tapi katakan pada miss, kenapa mas menangis?” (saya memanggil murid saya dengan panggilan mas/mbak). Lalulah berceritalah si anak SD ini, dia belum mempunyai seragam olahraga, sementara besok akan ada pertandingan olahraga. Sebenarnya seragam itu telah ada di sekolah, namun orangtuanya selalu lupa menitipkan uang baju olahraga tersebut pada anaknya, hingga saat pertandingan menjelang.
Saya belai anak itu, dan saya tawarkan solusi agar dia menelepon gurunya, menanyakan rumahnya dimana, agar saya bisa mengantarkan uang seragam olahraga, sehingga keesokan paginya seragam itu sudah bisa dipakai. Ternyata murid saya ini tidak mempunyai nomer telepon gurunya, sehingga semakin keraslah tangisnya. Tidak banyak yang bisa saya perbuat kecuali menenangkannya sambil membelainya.
Setelah tenang, anak itu berkata pada saya “Miss, ternyata dibelai itu enak ya, rasanya menenangkan”. LHO???? Jadi mas tak pernah dibelai? OMG!

Pengalaman di atas adalah sepenggal kisah bahwa anak-anak butuh komunikasi yang hangat, menenangkan, menyenangkan dan memberi solusi baik. Bukankah komunikasi bukan hanya secara verbal?, tatapan mata yang ramah, senyum dan pelukan juga merupakan komunikasi.
Maka harapan terbesar saya bagi para orangtua adalah menyediakan diri untuk menjadi orang nomer satu yang akan selalu bersedia mendampingi anak dalam situasi apapun. Menyediakan diri untuk mendengar dan merespon dengan baik.

Mengapa harus ada komunikasi hangat antara orangtua dan anak?
Keluarga, dimana orangtua dan anak berkumpul adalah tempat pertama yang diharapkan akan menumbuhkan fondasi yang kuat bagi anak. Jika fondasinya kokoh maka anak tak anak mudah ambles dalam pusaran pengaruh buruk.
Kapan harus ada komunikasi hangat?
Setiap saat, bahkan sejak akan melakukan proses pembuahan dalam rahim. Karena anak yang kehadirannya diinginkan dan diterima dengan ikhlas adalah landasan utama membangun kepercayaan diri seseorang.
Dimana komunikasi hangat dilakukan?
Dimana saja, jarak, ruang dan waktu bukanlah penghalang. Bahkan saat usia anak beranjak dewasa, komunikasi hangat antara orangtua dan anak harus tetap terjaga.
Mengapa harus komunikasi hangat?
Karena hangat itu adalah keadaan antara dingin dan panas. Kondisi tidak marah dan tidak tak peduli. Kondisi dimana komunikasi bukan seperti titah majikan pada pesuruhnya. Komunikasi yang menjembatani antara pendapat anak yang masih sedikit pengalaman hidup, dengan orangtua yang telah berpengalaman menjadi seusia anaknya.
Bagaimana caranya menciptakan komunikasi hangat?
Komunikasi hangat hanya bisa terbentuk dimana ada rasa saling percaya antara anak dengan orangtuanya. Rasa percaya yang dibangun dari pengamatan keduanya dalam keseharian. Orangtua yang gemar (atau tak sengaja) mengabaikan janji pada anak sulit dipercayai anak, maka tak heran jika anak kurang percaya pada orangtuanya.
Orangtua yang penuh janji manis agar anak tenang, namun jarang memenuhi janjinya, membuat anak menilai perkataan orangtua tak bisa dipercaya.

Tentu saja masih banyak ya harapan anak pada orangtua (begitu pula sebaliknya), namun menurut saya pekerjaan besar selalu saja dimulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil.
Jika kita sebagai anak, yuk kita bahagiakan orangtua selagi mereka masih ada mendampingi kita.
Jika kita telah menjadi orangtua, mari mendampingi anak-anak kita dengan bekal pengalaman kita yang pernah sebagai anak seusia mereka.

Semoga harapan anak pada orangtua dan sebaliknya akan terwujud tanpa harus melalui perdebatan sengit dan kekerasan.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

Meracik Bumbu Kehidupan

Gambar diambil dari sini
Hidup harus jujur, hidup harus menyenangkan, hidup harus belajar dari semua kejadian, hidup harus bertoleransi, hidup harus memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri dan orang lain, hidup harus kuat, hidup harus tak boleh mencari musuh, hidup harus merdeka, hidup harus ….*silahkan menambahkan*
Yup!..inilah hidup, penuh kata “harus”, dibumbui kata “kalau bisa”, “semestinya”,  “sebaiknya” dan kata-kata  lain. Tak pandai meracik bumbu kehidupan, bisa membuat hidup terasa hambar, tak enak, bahkan beracun.

Akhir dari semua usaha kita meracik bumbu-bumbu  tersebut adalah rasa yang memanjakan lidah dan menyehatkan tubuh.
Dalam kehidupan, rasa yang memanjakan lidah adalah terciptanya sebuah harmoni.
Sebuah tatanan hidup yang tidak saling menyakiti, tidak saling berebut apa yang bukan haknya, tidak saling mengintimidasi atas nama apapun, dan banyak kata "tidak" lagi.

Perpaduan yang sesuai dari asamnya cuka, getirnya lengkuas, hangatnya jahe dapat memberi cita rasa yang pas di lidah. Begitu pula dengan hidup. Adakalanya kita harus meringis merasakan getirnya tuduhan orang, merasakan asamnya perlakuan teman atau kita tersenyum lebar saat merasakan manisnya keberhasilan.
Sudah Sunatullah, hidup selalu mempunyai dua sisi. Ada pujian, ada pula cerca dan hinaan. Semakin banyak dipuji, kemungkinan untuk dihina juga semakin banyak.

Dimanapun, cita rasa asli dari sebuah makanan akan lebih lezat dan menyehatkan daripada cita rasa artifisial. Kita tentu lebih suka menikmati sup dengan kuah kaldu yang dibuat dari rebusan tulang sapi, daripada kaldu yang dibuat dari campuran air dengan bubuk kaldu bukan?.
Begitu pula hidup, semakin banyak yang palsu, semakin tak indah dan tak menyehatkan.
Lihatlah bagaimana ribetnya orang yang bertingkah palsu, orang yang menyembunyikan bukti dari hasil jarahannya atas hak orang lain misalnya. Atau orang yang dalam hidupnya berjuang untuk mengumpulkan pujian manusia, maka sekuat tenaga berbuat apapun agar dipuji manusia, termasuk berbuat hal palsu, pura-pura. Mungkin orang semacam ini tak paham, bahwa disaat yang sama, kala manusia memujinya maka Allah memurkainya, karena palsu.

Dan menurut pengamatan saya (jadi jangan heran kalau beda dengan pengamatan lembaga survei manapun), banyak orang memilih berlaku palsu demi pujian manusia. Manusia dengan perilaku seperti ini biasanya secara sistematis merusakan alarm nuraninya sendiri. Pastilah saat dia melakukan kepalsuan untuk pertama kalinya, alarm nuraninya berdering, mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang lurus, namun napsu untuk sebuah pujian menafikan dering alarm tersebut. Dan jika dilakukan berulang kali, maka alarm tersebut tak lagi berdering, rusak, karena keseringan berdering dan tak direspon.

Masih patutkah disebut manusia jika tanpa nurani?.
Maka upaya merusakan alarm nurani sama dengan upaya mensejajaran diri dengan mahluk dibawah manusia (tak perlu saya sebut nama mahluknya bukan?).
Tak ada yang bisa kita banggakan hidup diwarnai dengan kepalsuan, apalagi hidup dalam kepalsuan.
Yuuk kita paksakan diri untuk menjadikan kepalsuan sebagai yang sebenarnya. Jika kita ingin terlihat kaya raya akan harta, maka paksakan diri untuk menjadi kaya tanpa kepalsuan, jika kita ingin terlihat cantik, maka paksakan diri untuk terlihat cantik tanpa ada hal palsu yang disumpalkan.
Lho kok pake acara paksa memaksa sih?. Bukankah akan lebih baik memaksakan diri berbuat hal baik daripada bersenang dalam kepalsuan?

Wallahu a’lam bishshawab

»»  Baca Selengkapnya...

Pakaian Kebesaran

Gambar diambil dari sini

Saya jadi ingat larangan Almh mama untuk tidak mengenakan daster selain untuk tidur (bahkan untuk keseharian di rumahpun dilarang). Nah karena “prinsip” itu, mama tidak pernah membelikan saya daster. Seumur-umur saya hanya berpengalaman mempunyai 1 potong daster, itupun saya beli sendiri karena tertarik dengan corak batik dan warnanya yang tak biasa. Sekarang daster semata wayang itu sudah tak lagi terpakai, karena robek.
Wah masa’ pakai daster aja dilarang sih?. Hehehe, setiap orang mempunyai aturan yang dianggap terbaik bagi dirinya kan?. Pakai daster itu sah-sah saja, tidak mengganggu aliran listrik *apa hubungannya??*. Jadi kalau orang lain merasa nyaman memakai daster ya monggo saja. Bahkan untuk beberapa wanita, daster telah dianggap sebagai pakaian kebesaran. Pakaian kebesaran dalam arti sesungguhnya, karena memang ukurannya yang besar atau pakaian kebesaran dalam arti "pakain wajib", yaitu pakaian yang paling sering dikenakannya.

Semua benda di dunia ini dibuat untuk tujuan tertentu dan ada aturan pakainya. Daster tidak dirancang untuk digunakan keluar rumah, menjemput anak sekolah, belanja atau aktivitas di luar rumah.
Menurut hasil tanya pada mbah google, definisi daster adalah pakaian longgar yang digunakan untuk di dalam rumah.
Mungkin alasan malas berganti baju, kerap saya jumpai ibu-ibu yang menjemput anaknya dengan masih mengenakan daster (kadang baby doll). Yang memakai jilbab, menutupi dasternya dengan jilbab besar hingga siku atau menambahkan cardigan/jaket.
Nah jika kedua alasan itu yang menyebabkan para ibu-ibu “salah kostum”, maka saya memberikan sedikit alternatif agar tak masuk kategori salah kostum saat menjemput anak sekolah atau saat belanja.
Daster memang pakaian yang nyaman, dengan model sederhana, longgar dan biasanya bahannya dingin/adem dan tak kaku. Maka jika tak ingin direpotkan acara berganti baju saat akan keluar rumah, maka bisakanlah di rumah memakai baju yang juga layak dikenakan saat keluar rumah.
"Akh baju untuk keluar rumah kan gak nyaman".
Ikh sapa bilang? Bisa kok bikin baju rumah yang nyaman laksana daster tapi dengan model yang yang orang tidak akan menamainya sebagai daster.
Ini salah satu contoh "daster" yang bisa dikenakan di luar rumah.
Kalau tak ingin lengan panjang, tinggal mendekin lengannya aja.
"Mahal dunk!"
Tidak juga, banyak kok kain katun yang murah. Kain katun kan juga dingin dan tidak kaku.
"Akh harus menjahitkan dund!"
Kalau tak bisa menjahit dan tak mau menjahitkan, maka jelilah saat memilih baju rumah yang akan dibeli.
"Akh suka-suka saya dong, mau pake apa aja!"
Waduh kalau alasannya sudah kayak gitu, ya saya tidak bisa memberi saran lagi, karena saya kan tidak berhak memaksa orang untuk mengenakan baju dengan model apa.
#kemudianhening.

Apakah teman-teman juga suka pakai daster di luar rumah?


»»  Baca Selengkapnya...

Lebih Suka Twitter = Benci Facebook?

Gambar diambil dari sini
Kemarin saya membaca sebuah tulisan seorang teman. Sebuah opini pribadi yang menyatakan ketidaksukaannya pada sebuah organisasi yang menamakan dirinya sebagai pembela salah satu agama di Indonesia. Dalam tulisan itu disertakan contoh bagaimana organisasi itu merusak klub-klub malam dengan cara brutal.
Sebuah tulisan dengan inti yang sudah sering saya baca, menyatakan tidak suka kekerasan. Namun bagi saya tulisan ini menjadi menarik saat membaca salah satu komentar pembacanya. Komentar singkat dan nylekit.
Si komentator menyimpulkan jika tidak setuju klub malam dihancurkan maka si penulis dianggap sebagai pendukung dan mungkin penikmat klub malam.

Membaca komentar tersebut saya teringat pengalaman saya. Sudah lebih dari 10 tahun saya memulai puasa berbeda dengan apa yang diterapkan pemerintah. Biasanya saya memulai dulu sebelum pemerintah menetapkan awal puasa.
Dalam keluarga saya, hanya saya yang memulai duluan, dan Alhamdulillah tidak dianggap aneh, menyimpang, kafir atau termasuk dalam jaringan Islam radikal. *peluk erat ortu*.
Di Indonesia, kita mengenal dua organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Biasanya Muhammadiyah memulai puasa lebih dahulu dari yang ditetapkan pemerintah.
Nah, ada beberapa orang yang ketika mengetahui saya memulai puasa lebih awal lalu “menuduh” saya pengikut/anggota Muhammadiyah. Padahal saya bukan pengikut/anggota keduanya,baik Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama. Jadi saya ikut apa?, akh itu bukan topik yang ingin saya bahas dalam postingan saya kali ini. Yang pasti saya tahu ada banyak organisasi massa Islam selain Muhammadiyah dan NU, ada Salafi, Tarbiyah, Hizbut Thahrir dll.

Contoh lain, saat saya memasang status “Lebih suka twitter daripada facebook”, lalu ada yang berkomentar, kalau suka twitter, kenapa masih menggunakan fasilitas facebook?
Lho?? memang jika kita lebih suka satu daripada yang lainnya, kita tak berhak menggunakan lainnya?, jika menggunakan lainnya dianggap tidak konsisten dengan ucapannya?, dianggap lucu, ambigue?. Mungkin lebih parah lagi diberi label munafik, karena ucapan dan perilaku berseberangan.

Huuuudfff *ngelap keringat di jidat* . Ternyata orang-orang “satu aliran” dengan komentator diawal postingan ini banyak ya. Mereka menganggap dalam hidup ini segalanya hanya ada dua pilihan. Jika tidak hitam PASTI putih. Jika saya lebih suka Twitter, maka saya tidak boleh memakai facebook, jika saya tidak suka putih pasti saya dianggap suka hitam.

Memang ada beberapa hal yang hanya menyediakan dua pilihan saja, misalnya hidup atau mati, hamil atau tidak hamil, menikah atau tidak menikah, dll.
Namun juga ada yang menyediakan banyak pilihan, sehingga kita boleh memilih lebih dari satu. Misalnya pilihan warna favorit, saya tidak suka putih bukan berarti saya pasti suka hitam. Saya suka ungu dan hijau.
Saya lebih suka twitter atas beberapa alasan, bukan berarti otomatis saya jadi pembenci facebook, lalu dianggap tidak boleh menggunakan facebook.
(Padahal jika ditanya, suka twitter atau blog?, saya akan memilih blog)

Mari kita umpamakan banyaknya pilihan itu sebagai banyaknya varian makanan yang disuguhkan untuk kita. Ada hamburger, ayam goreng, makaroni schotel dan gethuk. Semua yang tersuguh itu adalah makan favorit saya, namun jika ditanya makanan mana YANG PALING saya sukai?, saya akan memilih hamburger. Lalu apakah dengan begitu saya otomatis menjadi tidak suka dengan gethuk atau ayam goreng?, oh nooooooooooo, tidaaaaaak, saya masih fans berat mereka. Apakah saya salah?, apakah saya tidak konsisten?, apakah saya munafik?, apakah saya tidak boleh menyukai lebih dari satu makanan?. Jawabannya saya serahkan pada anda, tanpa keinginan saya untuk membela diri.

Saat kita paham mana yang hanya menyediakan dua pilihan dan mana yang menyediakan beragam pilihan, maka diharapkan kita tak begitu saja menertawakan orang lain, menuduh atau menghujat mereka atas pilihan sadarnya.
Jika kita ingin orang tersebut mempunyai pilihan yang sama dengan kita, maka ada banyak cara luwes, trik cantik dan komunikasi asertif yang tidak agresif agar target tanpa rasa terpaksa dan tanpa terluka mengikuti pilihan kita.
Bagaimana cara dan triknya?, yuuk kita gali bersama seiring berjalannya kehidupan ini, sebanyak hikmah yang dapat kita ambil, karena saya sendiri sampai saat ini juga masih terus, terus dan terus belajar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Wallahu’alam


»»  Baca Selengkapnya...

PON, Korupsi, Nafsu dan Diet

Gambar diambil disini

Kini di Propinsi dimana saya berdomisili sedang mengadakan perhelatan akbar, Pekan Olah Raga Nasional (PON ke XVIII), berita miring seputar pelaksanaan PON pun menyeruak, dari pembangunan sarana yang belum siap 100%, ambruknya kanopi salah satu venue, padahal venue itu baru saja dibangun dan belum digunakan, lalu kasus korupsi sehubungan dengan PON ini pun dimuat di media.
Saya tak hendak menuliskan tentang kegiatan PON dan korupsi, karena terus terang saya memang tidak mengikutinya, saya hanya tahu salah satu venue tenis ada di dekat rumah saya.
Namun sebagai penduduk Riau, yang mempunyai teman di seluruh Indonesia, saya dijadikan rujukan beberapa orang teman yang bertanya seputar  PON, saya pun menjawab sebatas apa yang saya lihat saja, saya tak akan memperkeruh dengan menjawab hal-hal yang hanya saya dengar atau baca, selain tak bisa saya pertanggungjawabkan, saya juga ingin perhelatan ini sukses. Jika tak bisa meredam berita buruk setidaknya saya tak menambah buruk.

Trus tulisan ini tentang apa dunk??.
Tulisan ini sih sebenarnya ada hubungannya dengan PON, yang disinyalir ada kaitannya dengan korupsi. Nah korupsi itu bersahabat erat dengan nafsu. Jadi mari kita bahas tentang nafsu.

Selain jasad dan akal, dalam diri manusia dilengkapi dengan nafsu, satu komponen tak terlihat wujudnya namun mempunyai peran penting dalam hidup kita. Nafsu membuat kehidupan kita menjadi menarik, memunculkan ragam pilihan dan selera. Nafsu membuat manusia merancang jalan hidup, mengejar mimpi, meraih keinginannya.

Setiap mahluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) mempunyai ciri yang sama, bertumbuh, membutuhkan oksigen, membutuhkan makan dan minum dan berkembang biak. Namun manusia tak cukup puas hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya saja, karena nafsu manusia ingin membuat hidupnya lebih nyaman, lebih indah, lebih menggairahkan.
Manusia ingin tempat berlindung, namun tak cukup hanya berteduh di bawah pohon, maka mereka merancang rumah, yang kemudian tak cukup hanya dinding dan atap, mereka ingin rumah yang begini begitu,  dilengkapi sarana ini dan itu.
Tak sekedar ingin melestarikan keturunan dengan mencari pasangan hidup, namun mereka ingin yang bertaqwa, penuh cinta kasih, sopan, bertanggung jawab, rajin menolong , tabah, hemat cermat dan bersahaja, pokoknya Dasa Dharma Pramukalah.

Wajar dan normal jika manusia mempunyai nafsu pada pesona dunia, namun sang Pencipta juga telah memberi rambu-rambu agar tak senantiasa memperturutkan nafsu. Nafsu bagai jalan tak berujung, ingin lebih, lebih dan lebih hingga berlebihan, meluap, melimpah dan keluar jalur hingga lepas kendali.

Atas nama nafsu pula apa yang dilarangNYA dilanggar, apa yang diperintahkanNYA diabaikan.
Seperti halnya korupsi yang (pelakunya disebut koruptor), tentu bukan koruptor namanya jika dia hanya memakan dan mengambil apa yang menjadi haknya.
Begitu pula hal-hal yang kita anggap kecil dan remeh, misalnya merokok. Atas nama nafsu para perokok mengabaikan kesehatannya, mengabaikan perasaan orang-orang yang peduli padanya, yang akan merasa sakit jika dia sakit, mengabaikan kebutuhan udara yang bebas asap rokok bagi orang disekitarnya.
Atas nama nafsu pula saya belum bisa patuh pada program diet saya.

Lalu benarlah jika perang yang paling utama adalah berperang melawan nafsu yang menggelincirkan.
Semoga kita adalah orang-orang yang senantiasa menang melawan dorongan nafsu yang mengarah ke luar JalurNYA.

Wallahu’alam
»»  Baca Selengkapnya...

Menahan Diri

Gambar diambil disini

Hari Minggu kemarin pengajian kami mengadakan Liqo’ Syawal (semacam halal bihalal), jadi semua teman-teman pengajian tersebut tumplek blek ngumpul di satu tempat. Bertemu teman yang telah lama menghilang itu rasanya menyenangkan.
Saat saya baru mulai mengaji, saya satu kelompok dengan (sebut saja “A”), perempuan mungil, anak ke 8 dari 17 bersaudara , orang tuanya bercerai, tinggal di satu rumah berjubel dengan anggota keluarga lainnya.
Saya sempat kaget mengetahui jumlah keluarganya, kaget melihat rumahnya yang seperti tempat penampungan karena padatnya penghuni, kaget saat melihat seluruh penghuninya sangat akrab, sayang, perhatian satu dengan lainnya.
Setelah fase terkaget-kaget, saya malah senang bermain kerumahnya, hingga saat A menikah kemudian pindah rumah, sejak itu saya tak lagi bertemu dengannya, apalagi jadwal mengaji kami juga berbeda, karena beda tingkatan.
Sampailah hari minggu kemarin, setelah kurang lebih 5 tahun tidak bertemu, kami kembali bersua. Penampilannya masih seperti dulu, sederhana. Setelah ngobrol, dia meminta pada saya untuk mengajarinya menjahit. Saya pun menyetujuinya. Saya baru mengetahui pemilik perumahan mewah itu adalah A, setelah dia memberitahu alamat rumahnya, kemudian saya berkomentar "Wah masuk perumahan elit nih", lalu seorang teman mengatakan bahwa A adalah pemilik perumahan tersebut. Dan terulanglah fase terkaget-kaget dulu. kaget karena kagum dengan kesederhanaannya.

A bersama suaminya membangun satu kawasan perumahan kelas menengah atas, dengan jumlah rumah lebih kurang 300 buah. Perumahan ini terkenal di Pekanbaru. Yang saya catat dari pertemuan itu adalah dia sangat menahan diri dari sanjungan, dia sama sekali tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dia adalah pemilik perumahan mewah. Bahkan  rumahnya adalah rumah termurah di kawasan tersebut.
Teman ini menahan diri untuk tidak memperlihatkan kehebatannya (bahkan terkesan menyembunyikannya) karena khawatir saat sanjungan datang akan membuatnya tinggi hati, dia memilih tidak populer demi menjaga keselamatan hatinya.

Kisah diatas menggambarkan bahwa dalam kehidupan ini kita akan menghadapi bermacam sikap dan penilaian orang terhadap kita.
Satu perbuatan, akan dipandang beragam oleh orang yang melihatnya. Pandangan, komentar maupun penilaian orang tentu berdasar banyak faktor. Faktor pendidikan, faktor latar belakang, faktor kedekatan pribadi, dll.

Bergaul dengan banyak orang memberi peluang kepada kita untuk banyak mengambil hikmah dan pelajaran.
Dari pergaulan kita akan mengenal secara nyata mana sikap baik, buruk, menyenangkan, meresahkan, mana yang membuat orang lain nyaman dan mana yang tidak, mana yang lebih sering mendahulukan buruk sangka dan mana yang memilih untuk berbaik sangka, mana yang rajin, mana yang pemalas, mana si pengeluh dan mana si optimis, mana yang ingin terlihat hebat, mana yang hebat namun tak ingin memperlihatkannya, mana yang sok tahu dan mana yang memang tahu namun tidak sok dan sebagainya.
Saya juga pernah mendapati orang yang saat diundang, dia enggan datang karena menilai si pengundang tidak selevel dengannya, marah saat dalam satu peristiwa dia tidak dilibatkan, merasa diabaikan. Sekuat tenaga dia memperlihatkan bahwa dirinya “berkelas” (pakai tanda petik ya), untuk itu dia wajib menonjol.
Beragamnya sikap orang lain yang kita temui ini seharusnya mampu membuat kita sadar, bahwa kita masih harus banyak belajar yang kemudian membuat kita tidak menjadi orang yang merasa paling tahu, paling baik, paling peduli, paling hebat  dan paling-paling yang lain.

Seperti tulisan-tulisan saya lainnya, tulisan ini sekedar berbagi opini dengan para pembaca daripada menasehati pembaca. Toh saya sendiri masih harus banyak belajar. Bukankah sepanjang hidup kita selayaknya tak berhenti untuk belajar?.
Semoga kita dihindarkan dari rasa tinggi hati, rasa paling tahu, paling hebat dan rasa merendahkan orang lain.

Wallahu a’lam bishshawab

»»  Baca Selengkapnya...

Ini Pilihanku


Saat melihat tayangan  suatu acara di televisi internasional, saya "tertarik" (lebih tepatnya "terusik") dengan pilihan kalimat dari seorang homoseksual yang diwawancarai. Dia bilang, “Biarlah orang berkata apa, yang penting kami bahagia, ini hidup kami, hak kami memilih menjalaninya seperti apa, it’s my choice”

Yup, semua setuju bahwa itu hidupnya, itu juga pilihannya, tidak ada yang boleh semena-mena merampas haknya atau memaksakan kemana arah hidupnya.
Tidak saya, tidak juga anda boleh memaksakan kehendak padanya.
Namun benarkah bahwa kita mempunyai hak mutlak atas diri kita?, lalu bebas memilih hidup seperti apa yang akan kita jalani?
Jika jawabnya “Ya”, mengapa kita tidak bebas memilih dari rahim siapa kita terlahir, dengan kulit warna apa kita terlahir, dimana dan kapan kita akan meninggal.
Lalu kita dengan gampangnya menjawab pertanyaan diatas dengan dalih, bahwa hal tersebut diluar kekuasan kita sebagai manusia.
Hohoho, lalu kita membagi dengan seenaknya, dimana  kekuasaan manusia dan dimana pula kekuasaan Tuhan.
Parahnya kita memilih ada dalam kuasa manusia dan menafikan kuasa Tuhan untuk hal-hal yang sesuai nafsu kita.
Sehingga peran Tuhan kita batasi hanya dalam proses kelahiran dan kematian saja. Untuk urusan hidup di bumi kita menetapkan itu mutlak hak dan kuasa manusia.

Tak mengapa jika kita bersikukuh memilih jalan sesuai dengan keinginan kita, bersikeras tak mau didikte dengan aturanNYA, tak mengapa…tak mengapa…baiklah.
Sesungguhnya Sang Pencipta juga menyiapkan resiko dari pilihan yang sesuai keinginan hati kita.

Sebenarnya DIA Yang Maha Mengetahui telah membekali kita dengan seperangkat “alarm” dalam kehidupan kita. Alarm ini akan berbunyi jika kita melangkah bukan pada jalanNYA, jika kita peka, maka begitu kita mendengar alarm, dengan segera kita kembali ke jalanNYA.
Namun ada juga yang mengabaikan alarm, sehingga “kabel” alarm tersebut putus karena terus menerus berbunyi tanpa dipedulikan.
Perasaan gundah, gelisah, tak tenang serta dikejar-kejar rasa dosa adalah resiko awal saat kita menjalani pilihan hidup yang bukan merupakan Pilihan Tuhan.
Jangankan untuk memilih hidup tidak sesuai fitrah, saat kita sedang berkelahi dengan teman saja kita sudah merasa tak enak, tidak tenang. Namun seringkali kita berusaha memulihkan rasa tak tenang itu dengan bermacam dalih yang intinya membenarkan diri sendiri. Menuding teman tersebut yang salah, lalu dengan sombongnya kita berkata, aku lebih baik darimu. Kita telah menetapkan kemenangan mutlak atas sebuah pertikaian, dengan mengambil kesimpulan tanpa menghadirkan Tuhan.
Jika kita mengambil kemenangan dengan menghadirkan Tuhan, kita tak perlu menyalahkan orang, kitapun dengan ikhlas menetralisir keadaan, menyapanya terlebih dahulu, mengabaikan prasangka-prasangka buruk atas perilakunya kepada kita.

Mungkin ada yang merasa sukses mengabaikan fitrah, merasa bahagia dengan pilihannya yang bukan PilihanNYA, namun tahukah kita, bahwa diujung jalan kehidupan yang pendek ini ada kehidupan abadi?. Ada kehidupan setelah melewati pintu kematian.
Sebuah kehidupan yang tiketnya adalah tabungan amal sholeh kita selama menjalani kehidupan di bumi.  Lalu masihkan kita berbangga dengan pilihan kita yang bukan merupakan pilihanNYA?.
Tulisan ini saya buat bukan karena ingin menggurui, sekedar dokumentasi untuk mengingatkan diri sendiri agar tak memilih  pilihan yang bukan PilihanNYA.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

World Hijab Day


8 tahun yang lalu, pemerintah Inggris, tepatnya di London membuat sebuah larangan bagi para mahasiswa untuk mengenakan simbol keagamaan apapun bentuknya, termasuk hijab di tempat umum. Keputusan ini mengundang protes banyak orang, khususnya wanita muslim yang memang diwajibkan mengenakan busana yang menutupi aurat.

Kericuhan ini membuat para petinggi negara panik dan dibuatlah Konferensi London 4 September 2004 yang dihadiri 300 delegasi dari 102 organisasi di Inggris dan 35 negara lainnya. Pertemuan ini menghasilkan dukungan kepada para muslimah dan memperbolehkan untuk tetap mengenakannya di muka umum. Tanggal itu pula ditentukan sebagai Hari Solidaritas Hijab Dunia.
Wanita di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Turki dan sebagainya pun merayakan hari berhijab sejak tanggal tersebut. Hari ini bukan hanya sekedar hari memakai hijab, melainkan menyemangati wanita di seluruh dunia agar tak takut lagi menentukan pilihan berbusananya atas larangan siapapun.

Di Prancis, anak perempuan dilarang masuk ke sekolah tertentu jika ia mengenakan hijab. Di Turki, wanita pemakai hijab tidak boleh mendapat perawatan medis, dan di Tunisia, wanita berhijab akan dimasukkan ke bui dan disiksa. Inilah contoh konkret betapa berartinya Hari Solidaritas Hijab Dunia dikumandangkan.
(Sumber : wolipop )

Bersyukurlah muslimah di Indonesia kini bebas mengenakan hijab (waktu SMA saya masih merasakan "tekanan" dari pihak sekolah saat mengenakan hijab)
Saya pernah memposting tentang hijab disini

Tadi saat saya kelayapan di twitterland menemukan kultwit bagus dari @awyyyyy , seorang tuip yang sedang belajar di tanah Arab.
Saya sarikan kultwitnya ya, kira-kira seperti ini :
Hijab sebenarnya tidak berhubung langsung dengan akhlak, sebab hijab itu masuk bagian syariat (Islam) sementara akhlak ranahnya adalah (Ihsan). Maka jika muslimah berusaha kaaffah ("sempurna") dalam din-nya, agamanya, dia harus ber-Islam sekaligus ber-Ihsan. Artinya, hijab adalah keharusan menyendiri bagi setiap muslimah, tanpa melihat akhlaknya baik atau belum.Otomatis, dalam aturan syariat, jika seseorang itu telah baligh, maka dia mendapat taklif (pembebanan, melakukan syariat itu), dan salah satunya adalah berhijab. Maka muslimah harus tahu, saat dia baligh, dia punya keharusan berhijab, tanpa melihat akhlaknya baik atau belum, siap atau belum siap, saat baligh, saat saat itu juga dia dikenai kewajiban berhijab
Maka tentu bukan jadi alasan andai muslimah belum mau berhijab sebab akhlaknya belum baik.
Penjilbaban hati hanyalah pelarian istilah saja untuk kabur dari keharusan mengenakan hijab dalam keseharian. Perkara mengenakan atau tidak, itu kembali kepada kebebasan muslimah masing-masing. namun harus tahu syariat seperti itu. Artinya, jika dia memilih tidak mengenakan, itu pilihan dia, namun konsekuensi syariat tetap jalan, yaitu dosa.
Tepiskan cibiran andai kebetulan ada muslimah tapi akhlaknya masih urakan,(misalnya ada komentar "Masa' berhijab tapi kok begitu moralnya") sekali lagi!!, hijab tak berhubung langsung dengan akhlak.
Untuk itu, hindari komentar seperti diatas dengan menjadi muslimah yang kaaffah, berperilakulah yang baik, dan tentu saja kenakan hijab.
Jangan termakan dengan hasutan "Tidak perlu berhijab, asal tampil rapi" (tanpa harus menutup semua aurat), atau hijab adalah adatnya orang Arab saja.
Andai benar berhijab adalah adat, maka harus diketahui, bahwa jika adat diakui syariat, dengan nash, maka ia jadi bagian syariat. Jika telah ditetapkan syariat, maka ia tak lagi jadi adat yang bisa ditinggal kapan saja.
Hal ini sangat maklum sekali, terutama bagi yang mempelajari ilmu ushul fiqh.
Benarkah hijab adalah adat Arab?. Saat opening ceremony olimpiade London 2012 kemarin, ada segerombolan orang yang mengenakan pakaian khas pedesaan Inggris, yang penggembala/petani wanitanya mengenakan apa?, penutup kepala dan baju panjang kan? Artinya itu bukan adat Arab.
Berdasarkan penjelasan diatas, kini sudah saatnya memulai komitmen menjadi muslimah kaaffaah dengan berhijab dan berhias akhlak yang baik.
Hijab adalah proteksi alamiah bagi seorang muslimah, bodyguard Ilahy. Hijab menjadi proteksi bagi dirinya sendiri (sehingga berakhlak baik) dan proteksi dari gangguan luar serta dapat mengangkat harkat.
Jika dicermati rata-rata alasan keengganan sebagian muslimah berhijab, bukan sebab tidak siap, tapi lebih karena nafsu. Tentu saja nafsu apapun, tidak harus nafsu syahwat saja. Entah itu nafsu ketakutan tidak bisa kerja, ketakutan terlihat tidak menarik, dll.
Percaya, saat muslimah berjilbab, dia semakin anggun, cantik dan saat yang sama semakin berwibawa dan "terhormat".

Nah, masihkah para muslimah ragu berjilbab setelah membaca postingan ini?
Apa alasan keraguanmu?
»»  Baca Selengkapnya...

Gaji Suaminya Sedikit kaleee


Bertemu kembali dengan teman yang telah sekian lama tak bersua, selalu saja menyenangkan hati. Ingin tahu beritanya, melihat segala perubahannya, dan yang paling sering mengenang saat masih bersama.
Pertanyaan pertama di saat kita berjumpa teman lama biasanya, dimana domisilinya sekarang?, kemudian disusul dengan pertanyaan, anaknya sudah berapa?, masih kerja di tempat lama? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saat berjumpa kembali, kita juga bisa melihat perubahan fisik dan gayanya.
Nah, suatu kali saya mendengar teman yang nyletuk, “Gaji suaminya kecil kaleee”, saat melihat teman lama kami yang kini tampilannya berubah. Dia yang dulu kulitnya putih, kini terlihat cukup gelap dengan raut wajah yang terlihat capek. Busananya juga terkesan kusam karena (sepertinya) sudah sering dipakai, sampai warna kainnya mbladus (pudar & terlihat kotor).

Kita memang cenderung gampang melontarkan komentar atas apa yang kita lihat dan dengar.
Padahal tidak semua harus dikomentari bukan?, dan tidak semua komentar harus di verbalkan.
Selain agak terkejut demi mendengar celetukan teman, saya juga mikir, kenapa sang komentator begitu gampangnya menuduh gajinya suami teman tersebut kecil?
Ternyata benarlah apa yang disebutkan dalam ajaran agama saya, bahwa masing-masing dari pasangan adalah “pakaian” bagi pasangannya. Pakaian berfungsi menutup yang seharusnya memang mesti ditutup, selain itu juga berfungsi sebagai identitas.
Pakaian sebagai sebuah identitas dapat kita ketahui saat seseorang mengenakan pakaian model tertentu atau seragam tertentu. Kita akan dengan mudah menebak profesi seseorang sebagai satpam jika dia mengenakan kemeja putih, celana dongker (blue black) dengan model tertentu.
Perempuan yang memakai jilbab, maka dapat dipastikan dia adalah muslimah, karena umumnya yang memakai jilbab adalah muslimah. Walaupun ini juga tak selalu benar. Adalakanya pemakaian  jilbab merupakan suatu aturan di suatu tempat, tak pandang apakah dia muslimah atau tidak. Namun bolehlah disebut bahwa jilbab adalah identitas ataupun pembeda perempuan muslim dari yang lainnya.

Jika seorang istri diibaratkan sebagai pakaian bagi suaminya, maka wajib hukumnya agar istri menampilkan citra yang baik bagi suaminya sehingga memperkecil peluang untuk “dihinakan”.
Seperti contoh kasus diatas, dengan mudah tuduhan suaminya bergaji sedikit meluncur dari mulut seseorang, bisa jadi karena dipikirnya suami teman tersebut tak mampu membelikan pakaian yang lebih layak dari pakaian yang sudah mbladus.
Memang setiap individu tak bisa seenaknya sendiri berlaku, selalu saja harus mempertimbangkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang harus patuh dengan aturan karena status sosial yang disandangnya, ada pula yang harus meredam keinginannya karena jika dilakukan akan berdampak tak baik bagi yang lain. Namun diatas semua aturan yang membatasi, yang paling aman adalah memakai patokan AturanNYA sebagai “peta” hidup, sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan.
Mungkin baju mbladus itu nyaman dikenakannya.
Meskipun kita paham, tak patut menilai orang hanya dari pakaian yang dikenakannya, namun keseharian kita mengajarkan, bahwa kesan pertama adalah kesan yang tertangkap oleh panca indera. Sebelum kita mengenal orang lain, kita terlebih dulu membuat gambaran orang tersebut berdasarkan apa yang terlihat dan terdengar. Bagaimana pakaiannya, bagaimana intonasi suaranya, bagaimana gerak tubuhnya, bagaimana pandangan matanya dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Kembali lagi ke teman berpakaian mbladus tadi, usut punya usut ternyata tuduhan bahwa suaminya bergaji sedikit itu salah lho.
Kulitnya yang dulu putih kini menjadi gelap bukan karena dia tidak mampu beli lulur, tapi karena kini dia menggunakan motor sebagai alat transportasi, dulu dia menggunakan angkot. Kalau angkot kan ada atapnya, jadi lebih terlindung dari panas, beda jika memakai motor, bagian tubuh yang tak tertutup akan cepat menghitam karena paparan matahari *pengalaman pribadi*.
Lalu wajah yang terlihat lelah, itu disebabkan kini aktivitasnya meningkat, selain mengasuh anak, dia juga masih bekerja. Kalau dulu saat kami bertemu kan belum mempunyai anak. Selain bodinya telah berubah karena melahirkan, tentulah aktivitasnya bertambah dengan mengasuh anak. Yang belum pernah mengasuh anak, cobalah barang setengah hari saja mengasuh balita sendirian, capeknya melebihi capek nyuci, setrika, masak. Percaya deh

Jadi ternyata tampil layak itu wajib ya sodara-sodara (deskripsikan sendiri kata “layak”nya ya).
Tidak hanya bagi wanita, tapi juga bagi pria. Jangan sampai menerima tamu dengan memakai kaos dalam, pergi kemana-mana dengan jaket butut yang nyucinya hanya setiap bulan purnama atau pergi kemanapun pakai sandal jepit. Senyaman-nyamannya sandal jepit, itu tak layak jika dipakai ke kondangan.

So, *nih wajib dibaca para suami*, jika istrinya minta biaya perawatan tubuh dan wajah, jangan pelit-pelit ya. Itu bukan hanya berguna bagi sang istri, tapi juga berguna menjaga (bahkan mendongkrak) citra suami.
Kok tulisannya terkesan “membela” wanita?, hehehe… saya kan wanita, belum pernah dan tidak ingin menjadi pria, jadi saya menulis ya dari sisi kewanitaan .
Begitulah pendapat saya, anda punya pendapat berbeda?, berbagi yuk.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

Kesungguhan Licikwan Serakahwan


Satu tahun ini berat badan saya terus meningkat, membuat beberapa hal menjadi harus diubah. Yang paling terasa adalah banyak baju yang tak lagi dapat saya kenakan karena sempit.
Bahkan pernah tanpa saya sadari celana jins kesayangan saya robek di bagian pahanya karena mbetetet membungkus paha yang ukurannya tak lagi seperti dulu.

Selama bertahun-tahun berat badan saya ideal dan stabil. Saya merasa nyaman dengan berat badan 63-65 kg dengan tinggi tubuh 172 cm. *berasa seperti Luna Maya*
Oleh karena daripada itu sebabnyalah *bahasa yang mubadzir*, saya memaksakan diri untuk diet dan rutin berolah raga.
Maka saya pun membuat program diet dan olah raga. Namun apa yang terjadi?, selama setahun ini saya tetap saja sakenake udele dewe , makan apa yang saya inginkan, mengabaikan tingginya jumlah kalori yang terkandung, lalu olah raga hanya angkat beban sekilo di depan televisi, itupun hanya beberapa menit. Padahal semangat sudah membara, bayangan dapat mengenakan pakaian yang dulu pun sudah menari-nari di dalam bayangan, Namun sebagus apapun sebuah rencana tapi tidak dilaksanakan, ya tak akan tampak hasilnya.

Dua bulan yang lalu saya berhadapan dengan orang yang saya anggap licik dan serakah. Saya yang bekerjasama dengannya dengan tegas menolak untuk meng mark up uang yang kami hasilkan, sehingga teman yang lain memperoleh pembagian yang berkurang dari perjanjian. Jelas saya menolak, menurut saya, ini bukan hanya masalah enaknya mengantongi uang banyak, tapi saya memikirkan nama baik, kepercayaan orang dan kredibilitas saya jikalau kelak kasus ini terbongkar. Pastilah akan sulit mendapatkan kembali kepercayaan orang pada kita jika sudah pernah terbukti tidak amanah.

Jika saya perhatikan perilaku para licikwan/serakahwan, mereka adalah orang-orang yang tangguh (walaupun harus membuang rasa malu). Mereka mampu melakukan manuver-manuver tajam, melobi dan menyuap orang-orang demi keuntungan pribadi, sekuat tenaga menyingkirkan orang-orang yang dianggap berpotensi membuka aibnya, jika perlu menggalang kelompok untuk mendukung "programnya".
Lalu sayapun membandingkan manuver para licikwan serakahwan ini dengan rencana diet saya.
Saya yang jelas-jelas melakukan hal baik, yang tak melanggar norma apapun saja malas-malasan menjalankannya. Padahal disitu ada janji Allah untuk membantu dan mendampingi orang-orang yang berusaha baik.
Ini baru urusan kecil, bagaimana saya bisa bersungguh-sungguh untuk urusan besar jika rencana kecil saja saya abaikan?.
Sementara para pembangkang Allah melakukan pembangkangannya dengan bersungguh-sungguh, dengan detail, dengan "promosi" manisnya.

Jika dilihat dalam skala besar, tak heranlah bila di negara kita yang mayoritas penduduknya religius namun tingkat korupsinya juga tinggi. Bisa jadi para orang-orang baik belum bersungguh-sungguh melakukan kebaikannya, sementara para koruptor merancang rencana dan melakukan dengan sangat detail, rapi dan tentu saja dengan kesungguhan.

Akh tak perlulah saya berkoar-koar teriak saya menderita karena ulah para licikwan serakahwan, akan lebih baik saya menguatkan niat baik, lalu terus berjalan, merealisasikan niat baik tersebut dengan kesungguhan tingkat tinggi, mengerahkan kemampuan maksimal, lalu kita lihat hasilnya. Toh Allah sudah menjanjikan akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang tak membangkangNYA.

Mari kita bersungguh-sungguh dalam kebaikkan, agar kita tak kalah oleh kesungguhan para licikwan, serakahwan dan para pembangkang Allah.

Wallahu a’lam bishshawab



»»  Baca Selengkapnya...

Fenomena Mudik


Kata "Mudik" begitu sering kita dengar saat menjelang Idul fitri. Berbondong-bondong orang menuju kampung halamannya. Kembali ke kampung halaman di masa Idul Fitri memang bukan sekedar menjejakkan kaki kembali di tanah kelahirannya, toh banyak yang tak lahir di kampung sana. Namun sepertinya mudik adalah jawaban kerinduan pada tempat dan suasana saat kita belum menjadi apa-apa, saat kita bisa berkumpul dengan teman-teman masa kecil dan kerinduan mengenang masa lalu.

Sebenarnya mudik dapat dilakukan kapan saja. Malah akan lebih murah dan tak macet jika dilakukan saat di luar Lebaran. Namun mengapa mereka memilih mudik saat Lebaran yang tentu saja harga tiket melambung, macet gak ketulungan, belum lagi berdesak-desakana dengan penumpang lain, bahkan menginap di stasiun kereta demi mendapatkan tiket pun dijalani. Kebanyakan dari pemudik menganggap Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul, karena jika dihari lain mereka tak akan mendapatkan suasana seperti saat Lebaran.

Mudik saat Idul Fitri memang berbeda dengan mudik lainnya, karena aura Idul fitri mewarnai kita. Lihatlah betapa ramah, santun, senyum dan keridhaan mewarnai pemandangan saat Idul Fitri, semua orang sepertinya berbahagia dan berlapang dada memaafkan kesalahan (walau tak Idul fitri pun kesalahan bisa dimaafkan).Aura keramahan dan kesantunan nasional ini tak akan kita temui di luar Idul Fitri.
Mudik juga mengembalikan diri pada silaturohim, menjalin hubungan kekerabatan, bertatap muka, bertukar sapa dan berbagi kebahagian.

Mudik memang suatu fenomena Nasional yang unik, saya tak tahu apakah di negara lain juga ada fenomena mudik dengan segenap kerepotannya.
Jika mudik kita maknai kembali ke asal, maka mudik dapat menjadi sarana yang baik untuk mencerahkan jiwa kita, berinteraksi penuh keramahan dan mudah memaafkan.

Wallahu alam

»»  Baca Selengkapnya...

Pemahaman dan Kesadaran



Beberapa hari yang lalu aku diingatkan kembali akan kekuatan doa. Selama ini aku merasa telah berdoa dengan cukup. Mau tidur berdoa, mau masuk kamar mandi berdoa, mau makan berdoa, bercermin berdoa, naik kendaraan berdoa,dll.
Namun ternyata masih banyak kegiatan yang diawali tanpa doa (walau sudah diniatkan karena Allah), misalnya, mau nyuci baju, setrika, akan bertandang ke pesta dll.
Padahal doa itu juga bernilai kesadaran.
Kesadaran yang lahir dari pengetahuan yang kita miliki, informasi yang kita serap dan pilah, sikap yang kita pilih, lalu tentang tindakan yg kita rencanakan dll. Dari kesadaran ini muncullah proses pemahaman.

Ya agaknya kita memang sering berkata & bertindak tanpa diiringi dengan pemahaman atau bahkan kesadaran. Kita sering terjebak dalam rutinitas.

Mengapa kita shalat?,karena setiap hari kita shalat, karena orang tua kita shalat, karena di sekolah diajari sholat, dll.
Maka kita tidak lagi merindukan shalat, tidak lagi merancang shalat berikutnya lebih khusuk, malah kadang kita mengeluh, eh kok dah masuk waktu sholat lagi ya?, padahal masih sibuk bekerja.

Ketika kita melangkahkan kaki menuju kantor, tempat usaha, kaki kita seringkali melangkah karena telah terpola demikian. Begitu juga saat kita mandi, berpakaian, sarapan, lalu berangkat untuk satu tujuan. Semuanya hanyalah rutinitas yang telah terpola dan kita lalai untuk menghadirkan pemahaman.
Suatu amalan tanpa pemahaman tentu sia-sia dan tidak lagi menghadirkan "rasa".
Kita tidak lagi menikmati amalan tersebut yang artinya kita tidak menikmati anugerah yang telah Allah pilihkan untuk kita. Kemudian tanpa terasa waktu berlalu dan kita menyesal karena semuanya telah berakhir.

Kini saatnya kita biasakan untuk menghadirkan kesadaran, mengawali setiap tindakan dengan pertanyaan : "Apakah Allah Ridho?", lalu dilanjutkan dengan pertanyaan : apa?, mengapa? dan bagaimana hidup saya?.
Sehingga kita punya pijakan kuat dan keyakinan tentang apa yang telah kita lakukan saat kesadaran dan tindakan kita tak diterima oleh sebagian orang.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

Apakah Agenda Ramadhan Kita?


Ramadhan sudah di depan mata. Segera datang kewajiban bagi orang-orang beriman untuk berpuasa. Jadwal makan dan tidur akan berubah. Akankah kita juga mengubah diri kita untuk menjadi lebih dekat denganNYA?.

Banyak yang berubah saat Ramadhan, bulan yang selalu saya tunggu. Terlihat masjid penuh sesak, kajian Islam marak dimana-mana, bacaan Al Quran terdengar hampir setiap saat.
Sepertinya suasana Ramadhan memudahkan orang untuk menjadi lebih baik.
Di tempat saya belajar tahsin, kami para murid telah sepakat bulan Ramadhan khatam Al Quran dengan bacaan yang benar (diawasi guru) *Insya Allah*.

Ada ungkapan “Sungguh celakalah orang yang kualitas dirinya pada hari ini lebih buruk daripada kemarin dan merugilah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin”.
Ungkapan diatas merupakan standar kita dalam menilai upaya perbaikan diri.
Sikap dan perilaku manusia dibentuk oleh pengalaman hidup dan terjadinya pengulangan pengalaman.
Lihatlah bagaimana seorang yang kerja di pabrik roti piawai memasukkan roti dalam plastik kemasan. Kepiawaiannya itu tidak terjadi dalam sekejap, namun karena pekerjaan itu terus berulang, maka secara tak sadar semakin lama dia semakin cepat dan piawai memasukkan roti dalam kemasan plastik.
Diharapkan dengan adanya Ramadhan ini kita pun akan lebih mudah menjadi lebih sholeh. Suasana sosial yang mendukung dapat memberi motivasi tambahan untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Pengulangan pola makan/tidur selama sebulan akan mempermudah kita menjalani puasa sunnah pada bulan lainnya. Proses ini adalah sebagai upaya pendisiplinan diri.
Biasanya kita lebih takut untuk melanggarnya karena Allah telah “mengumumkan” hukuman bagi yang tidak mengerjakan ibadah wajib. Hal ini berbeda dengan saat kita melakukan ibadah sunnah, yang dianggap lebih ringan karena tidak ada “hukuman” jika tidak melakukannya.

Kadang kita merasa butuh waktu yang cukup untuk pada sampai pada titik tertentu. Kita ingin mengubah sikap dan perilaku untuk menjkadi lebih baik. Ramadhan, selama sebulan setidaknya mampu memberikan perbaikan mendalam dalam diri. Namun bukan berarti seorang harus menunggu Ramadhan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Sebaiknya lakukan sesegera mungkin, karena siapa yang menjamin usia kita akan sampai pada Ramadhan berikutnya?
Jadi mengapa harus menunda, jika bisa melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik sekarang?

Wallahu’alam
»»  Baca Selengkapnya...

Ibu yang Marah dan Standar Ideal


Sering kali saya mendapat curhat ibu yang tak terima dirinya “dituduh” sebagai ibu yang tak piawai mengurus rumah tangganya.
Beberapa bulan lalu, di sebuah perpustakaan, seorang teman bercerita, bagaimana dongkol hatinya “dituduh” temannya sebagai ibu yang lebih mementingkan eksis di media sosial facebook daripada ngurus anaknya, hanya karena pagi-pagi sudah nulis status di facebook.
Jelas saja teman saya ini murka, lha wong menurut dia, anaknya selalu disisinya, hanya saat belajar di sekolah saja tidak berada di sisinya.
Menurut teman saya ini, dia langsung menuliskan komentar pemberitahuan bagaimana keseharian dia. Dari pagi menyiapkan sarapan, ngantar anak sekolah, lalu ngurus usahanya, siang jemput anak sekolah, sore ngantar les, masuk rumah sudah magrib, lalu makan malam.

Kemudian, minggu lalu, tiba-tiba saya dapat sms, tulisannya
“Jeung aku pengen ngamuk”.
Whew…terperanjat saya, kok teman baik saya ingin ngamuk, ngamuk pada sayakah?. Ternyata dia hanya ingin menumpahkan emosinya, dan saya diminta untuk jadi pendengar yang baik.
Teman saya ini tidak terima dituduh sebagai ibu yang tidak cerdas, karena anaknya sulit makan.
Menurut teman saya ini, sang wanita penuduh dirinya tidak cerdas itu mengatakan bahwa anak sulit makan itu karena ibunya tidak pintar dan malas mencoba kreasi makanan baru.
Saya tahu sendiri, bagaimana teman saya ini ngubek-ubek internet dan toko buku demi mencari informasi bagi tumbuh kembang anaknya.
Tidak heran jika dia ngamuk, karena yang dituduhkan itu tidak benar, mungkin teman saya belum menemukan makanan sehat yang disukai bagi anaknya yang baru berusia 6 bulan, baru mengenal makanan pendamping ASI. Lha kok ada orang yang dengan semena-mena nuduh dirinya gak cerdas, padahal si penuduh itu baru ketemu teman saya sekali.
»»  Baca Selengkapnya...

Dosa Sosial

Tas yang kubawa sehari-hari (gak pake mahal)

Kalimat “dosa sosial” saya dapatkan dari sebuah tayangan talk show di televisi.
Saya tergelitik dengan kalimat ini, kemudian saya menerjemahkan dengan versi saya sendiri tentang makna dosa sosial. Dosa sosial adalah perilaku yang menafikan atau menghilangkan rasa down to earth , rasa empati dengan masalah sosial yang sedang terjadi di sekitar kita.

Ini adalah salah satu contoh dosa sosial :
Bulan lalu , tanpa sengaja saya melihat sebuah tayangan di televisi yang menampilkan artis tidak terkenal, yang dengan bangga mengatakan bahwa tasnya berharga 150 juta (itu harga tas sebiji!!), dan yang paling mahal berharga 800 juta. Demi mendengar pernyataan itu saya terkejut, bukan terkejut tentang harganya, tapi terkejut dengan ekspresi artis itu, bangga gitu kelihatannya.
Lalu tas seperti apa yang seharga rumah itu?, ternyata tas biasa, bukan tas yang mirip kantong ajaib Dora Emon, atau tas yang jika kita miliki maka kita akan dijamin bahagia dunia akhirat.
Saya sama sekali tidak kagum dengan pernyataan artis tidak terkenal itu. Saya membayangkan, apa yang akan dia rasakan saat menyandang tas tersebut, lalu didepannya melintas orang-orang gerobak (orang yang tidak punya rumah, lalu menjadikan gerobak sebagai rumahnya, yang bisa dibawa kesana kemari bagai siput membawa cangkangnya), merasa bersalahkah dia?

»»  Baca Selengkapnya...

Santun dan Nyaman Saat Menyusui di Tempat Umum

-->

 Tadi pagi saya melihat seorang ibu yang dengan “tanpa rasa bersalah” mengeluarkan bagian tubuhnya demi menyusui bayinya di tempat umum. Waduh sepertinya ibu ini belum tahu perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk menyusui di tempat umum.

Ruang khusus untuk ibu menyusui yang tersedia di negara kita ini sangatlah kurang, sehingga kadang seorang ibu harus menahan malu atau risih saat harus menyusui bayinya di tempat umum. Tentulah proses menyusui menjadi tidak nyaman jika ibunya saja sudah merasa risih.

Menyusui adalah kodrat seorang wanita, dan bayi tak mau tahu saat dimanapun/kapanpun merasa lapar/haus dia akan meminta haknya untuk menyusu. Jadi hal yang wajar jika seorang ibu harus menyusui di tempat umum. Namun menjadi tidak wajar jika harus menampakkan payudaranya di tempat umum kan?. Selain memperlihatkan aurat, juga tidak sesuai dengan kesantunan umum.
Untuk itu diperlukan beberapa perlengkapan agar ibu nyaman menyusui di tempat umum.
Apa saja persiapan, perlengkapan dan yang harus dilakukan sebelum menyusui?
»»  Baca Selengkapnya...

Bekerja

-->

Seorang teman, yang bekerja sebagai editor menulis di sebuah note bahwa bekerja adalah perjalanan menjelajahi relung terjujur hidup kita.  Tanpa itu kita hanyalah robot.
Yup! Benar, bekerja dengan jujur menjadikan kita “manusia”, ada rasa ingin menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi. Dalam bekerja ada semburat rasa pegal yang kemudian tertutupi oleh rasa lega saat apa yang kita maksud terwujud. Tidak seperti robot yang bekerja hanya untuk menghasilkan suatu produk tanpa ada sentuhan rasa.

Bagi saya bekerja adalah sebuah kebanggaan dan kepuasan. Kebanggaan bagi diri sendiri, bukan untuk dibanggakan pada orang lain. Puas karena saya bahagia dan nyaman dengan pilihan saya.

Syukurlah saya dilahirkan dan dididik oleh orang tua yang bukan pengejar citra di mata orang. Karena kami paham, citra akan datang sendiri saat kita tidak melawanNYA. Begitu pula dengan pilihan pekerjaan.
Saya yang dari SMP sudah menginginkan bisa menjahit, memilih sekolah menegah atas dengan pelajaran jahit menjahit sebagai pelajaran utamanya.  Sekolah yang saat itu dipandang sebagai tempatnya anak buangan, anak dengan nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang tidak mencukupi untuk masuk sekolah negeri, maka larinya akan ke sekolah itu.
Saat itu NEM saya diatas rata-rata nilai NEM untuk dapat masuk sekolah negeri, tapi saya tetap memilih untuk sekolah jahit menjahit, dan orangtua mengijinkan.
Walaupun banyak komentar miring saat itu,
“Untuk apa sekolah menjahit?”,
“Nilainya rendah ya?, tidak mencukupi masuk ke SMA negeri ya?”, sampai yang paling ekstrim saat orangtua dipandang tidak pandai mengarahkan saya. Karena menurut saja saat saya memilih sekolah anak buangan tersebut. Hal terakhir ini yang menyakitkan hati. Tidak ada anak yang ingin orangtuanya dihina bukan?. Alhamdulillah Almh mama saya hanya berkata begini “Yang akan menjalani hidup ini adek (panggilan mama pada saya),  bukan orang yang berkomentar. Yang tahu dirimu adalah kamu dan orangtuamu, melebihi semua orang yang mengaku lebih tahu kamu daripada dirimu sendiri”.
Hiyes!!! Orangtua hebat bukan?, tidak sibuk dengan komentar orang dan tak membebani anaknya dengan pencitraan. #sungkempadaortu


»»  Baca Selengkapnya...
Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa