Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Dia Hidup pada Zaman yang Berbeda dengan Zamanmu


Kecuali nabi Adam, semua manusia adalah anak dari orangtuanya. Begitu pula saya. Saya telah mengalami fase menjadi anak, dan berharap secepat mungkin Allah berkenan memberi saya fase berikutnya, sebuah peran yang telah saya tunggu sekian lama, menjadi ibu yang melahirkan anak dari rahimnya.

“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”, begitulah nasehat Umar bin Khatab, salah seorang sahabat nabi Muhammad.
Sebuah nasehat yang masih dan akan tetap sesuai dalam segala era.
Karena kehidupan selalu berubah, mengalir, bertumbuh, maka zamanpun juga begitu, berubah. Bahkan kadang saya menyadari betapa cepatnya zaman berubah.

Ibnul Jauzi dalam kitab Tanbihun Na’ilmil Ghamir ala Mawasimil ‘Umur membagi fase kehidupan manusia dalam 5 fase, yaitu fase :
1. Dari lahir hingga baligh ( kira-kira usia 15 tahun).
2. Dari baligh hingga akhir usia syabab (35 tahun).
3. Dari usia 35 hingga 50 tahun.
4. Dari usia 50 hingga 70 tahun.
5. Dari usia 70 tahun ke atas.
Ada beberapa fase dimana kita butuh panutan, diantara sekian banyak panutan, yang paling dekat adalah orangtua kita.

Jika ditanya apa harapan saya (sebagai anak) kepada orangtua?. jawabnya sederhana, saya ingin orangtua saya bahagia dunia akhirat. Sebuah jawaban sederhana yang ternyata sangat rumit dalam penerapannnya.
Orangtua saya bukanlah orangtua yang sempurna, sebagaimana saya juga merasa bukan anak yang sempurna. Bagaimanapun ketidaksempurnanya orangtua saya, saya tetap merasakan mereka adalah pasangan yang paling mengerti saya, orang yang paling saya percayai, orang yang paling saya cari ketika saya ingin bercerita, orang yang paling cepat membuat saya menangis jika mengingat jasanya dan orang yang paling saya perjuangkan untuk tidak merasakan panasnya api neraka (karena merekalah, saya berupaya sekuat mungkin berusaha menjadi wanita sholehah, walau saya tahu itu adalah “titel” yang sangat sulit didapat, karena hanya anak-anak yang sholeh yang mampu “membebaskan” orangtuanya dari api neraka, begitulah ajaran dari apa yang saya yakini).

Meskipun saat SD saya sempat mengalami kecanggungan dalam berkomunikasi dengan ayah, Alhamdulillah, saat SMP saya merasakan kehangatan komunikasi dengan kedua orangtua.
Saya melewati masa ABG dengan aman dan menyenangkan karena saya mampu berbicara apa saja dengan orangtua.

Pengalaman ini ternyata tidak dialami oleh beberapa murid les privat saya.
Saya pernah hampir menangis (namun saya tahan, agar tak jatuh airmata), saat mendapati murid saya tak pernah dibelai oleh orangtuanya.
Ceritanya, saya seminggu tiga kali mendatangi sebuah rumah mewah untuk rutin mengajar les privat pada seorang anak kelas 6 SD, ternyata anaknya sedang menangis di kamar, tidak mau belajar. Saya katakan , “oke hari ini kita tidak belajar, tapi katakan pada miss, kenapa mas menangis?” (saya memanggil murid saya dengan panggilan mas/mbak). Lalulah berceritalah si anak SD ini, dia belum mempunyai seragam olahraga, sementara besok akan ada pertandingan olahraga. Sebenarnya seragam itu telah ada di sekolah, namun orangtuanya selalu lupa menitipkan uang baju olahraga tersebut pada anaknya, hingga saat pertandingan menjelang.
Saya belai anak itu, dan saya tawarkan solusi agar dia menelepon gurunya, menanyakan rumahnya dimana, agar saya bisa mengantarkan uang seragam olahraga, sehingga keesokan paginya seragam itu sudah bisa dipakai. Ternyata murid saya ini tidak mempunyai nomer telepon gurunya, sehingga semakin keraslah tangisnya. Tidak banyak yang bisa saya perbuat kecuali menenangkannya sambil membelainya.
Setelah tenang, anak itu berkata pada saya “Miss, ternyata dibelai itu enak ya, rasanya menenangkan”. LHO???? Jadi mas tak pernah dibelai? OMG!

Pengalaman di atas adalah sepenggal kisah bahwa anak-anak butuh komunikasi yang hangat, menenangkan, menyenangkan dan memberi solusi baik. Bukankah komunikasi bukan hanya secara verbal?, tatapan mata yang ramah, senyum dan pelukan juga merupakan komunikasi.
Maka harapan terbesar saya bagi para orangtua adalah menyediakan diri untuk menjadi orang nomer satu yang akan selalu bersedia mendampingi anak dalam situasi apapun. Menyediakan diri untuk mendengar dan merespon dengan baik.

Mengapa harus ada komunikasi hangat antara orangtua dan anak?
Keluarga, dimana orangtua dan anak berkumpul adalah tempat pertama yang diharapkan akan menumbuhkan fondasi yang kuat bagi anak. Jika fondasinya kokoh maka anak tak anak mudah ambles dalam pusaran pengaruh buruk.
Kapan harus ada komunikasi hangat?
Setiap saat, bahkan sejak akan melakukan proses pembuahan dalam rahim. Karena anak yang kehadirannya diinginkan dan diterima dengan ikhlas adalah landasan utama membangun kepercayaan diri seseorang.
Dimana komunikasi hangat dilakukan?
Dimana saja, jarak, ruang dan waktu bukanlah penghalang. Bahkan saat usia anak beranjak dewasa, komunikasi hangat antara orangtua dan anak harus tetap terjaga.
Mengapa harus komunikasi hangat?
Karena hangat itu adalah keadaan antara dingin dan panas. Kondisi tidak marah dan tidak tak peduli. Kondisi dimana komunikasi bukan seperti titah majikan pada pesuruhnya. Komunikasi yang menjembatani antara pendapat anak yang masih sedikit pengalaman hidup, dengan orangtua yang telah berpengalaman menjadi seusia anaknya.
Bagaimana caranya menciptakan komunikasi hangat?
Komunikasi hangat hanya bisa terbentuk dimana ada rasa saling percaya antara anak dengan orangtuanya. Rasa percaya yang dibangun dari pengamatan keduanya dalam keseharian. Orangtua yang gemar (atau tak sengaja) mengabaikan janji pada anak sulit dipercayai anak, maka tak heran jika anak kurang percaya pada orangtuanya.
Orangtua yang penuh janji manis agar anak tenang, namun jarang memenuhi janjinya, membuat anak menilai perkataan orangtua tak bisa dipercaya.

Tentu saja masih banyak ya harapan anak pada orangtua (begitu pula sebaliknya), namun menurut saya pekerjaan besar selalu saja dimulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil.
Jika kita sebagai anak, yuk kita bahagiakan orangtua selagi mereka masih ada mendampingi kita.
Jika kita telah menjadi orangtua, mari mendampingi anak-anak kita dengan bekal pengalaman kita yang pernah sebagai anak seusia mereka.

Semoga harapan anak pada orangtua dan sebaliknya akan terwujud tanpa harus melalui perdebatan sengit dan kekerasan.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

Santun dan Nyaman Saat Menyusui di Tempat Umum

-->

 Tadi pagi saya melihat seorang ibu yang dengan “tanpa rasa bersalah” mengeluarkan bagian tubuhnya demi menyusui bayinya di tempat umum. Waduh sepertinya ibu ini belum tahu perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk menyusui di tempat umum.

Ruang khusus untuk ibu menyusui yang tersedia di negara kita ini sangatlah kurang, sehingga kadang seorang ibu harus menahan malu atau risih saat harus menyusui bayinya di tempat umum. Tentulah proses menyusui menjadi tidak nyaman jika ibunya saja sudah merasa risih.

Menyusui adalah kodrat seorang wanita, dan bayi tak mau tahu saat dimanapun/kapanpun merasa lapar/haus dia akan meminta haknya untuk menyusu. Jadi hal yang wajar jika seorang ibu harus menyusui di tempat umum. Namun menjadi tidak wajar jika harus menampakkan payudaranya di tempat umum kan?. Selain memperlihatkan aurat, juga tidak sesuai dengan kesantunan umum.
Untuk itu diperlukan beberapa perlengkapan agar ibu nyaman menyusui di tempat umum.
Apa saja persiapan, perlengkapan dan yang harus dilakukan sebelum menyusui?
»»  Baca Selengkapnya...

Raport dan Masa Depan Anak


Hari ini mbak-mbak yang bekerja di studio jahit meminta ijin untuk datang terlambat, karena mereka akan mengambil raport anaknya.
Sehari sebelum mengambil raport, mereka berkisah pada saya, bahwa banyak dari guru-guru di sekolah anaknya yang terkesan memaksa untuk memberi “kenang-kenangan”.
Ketika saya katakan untuk tidak membiasakan memberi uang pada guru saat mengambil raport, karena itu sama saja kita yang membiasakan perilaku buruk. Eh mbak itu menjawab begini, “Dulu saya juga pernah tidak memberi uang saat mengambil raport, tapi kemudian anak saya dipanggil, dan ditanya wali kelasnya, mana kenang-kenangan untuk saya?” #tepokjidat.

Mendengar kata “Raport”, saya jadi terkenang sebuah peristiwa.
Setelah pembagian raport, biasanya saya akan bertanya pada murid
”Bagaimana nilai raportnya?”.
Karena fokus saya adalah mengajar bahasa Inggris (walaupun untuk SD, saya mengajar semua mata pelajaran), maka pertanyaan akan dilanjutkan dengan “Berapa nilai bahasa Inggrisnya?”.
AlhamduliLlah kebanyakan nilai mereka diatas 8.5 (biasanya sih 9).
»»  Baca Selengkapnya...

Ibu Itu Cemburu Padaku.

Sebagai guru les privat maka sayalah yang mendatangi rumah murid untuk mengajar, bukan sebaliknya.
Rata-rata orang tua murid berpenghasilan besar. Uang bukanlah masalah bagi mereka.
Suatu hari salah seorang orang tua murid bertanya apakah saya masih mempunyai waktu luang untuk mengajar, karena teman orang tua murid ini berminat memakai jasa saya untuk mengajari anak-anaknya.
singkat cerita saya pun janjian dengan ibu calon murid, untuk datang ke rumah beliau.
Keesokan paginya saya datang ke alamat yang sudah diberikan ibu itu lewat sms.  Sebuah rumah mewah (paling mewah di komplek itu), dengan beberapa mobil berjajar rapi plus beberapa pembantu.
Saya pun bertemu dengan ibu calon murid, seorang ibu yang ramah, dan kemudian saya ketahui dia mempunyai beberapa usaha. Beliau meminta saya langsung mengajar hari itu juga.

»»  Baca Selengkapnya...

“Miss Datang Bulan Ya?”

Judul diatas adalah pertanyaan murid saya (saya guru les privat) yang akan terus diulang jika telah masuk waktu sholat, dan saya tidak menunaikannya.
Bagi saya pertanyaan seperti itu biasa saja.
Tulisan ini, berdasarkan pengalaman saya mengajar, melihat kebutuhan murid akan pengetahuan seksual.
Saya paham, saya bukan guru terbaik, namun saya berani meyakinkan pembaca, bahwa saya mengajar memberikan yang terbaik yang saya punya.

Saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, bagaimana seorang anak SMA kelas 2 harus rela keluar (atau dikeluarkan?) sekolah karena hamil.
Saya melihat sinar mata itu, saya kenal anak itu, dan saya tahu potensinya.
Seorang mayoret di sekolahnya, pembawaannya ramah, ceria, tidak sombong. Tapi apa daya…kesempatan dia menikmati indahnya masa remajanya terenggut paksa oleh pilihan sadarnya sendiri, melakukan hal yang seharusnya belum layak dia lakukan.

»»  Baca Selengkapnya...

Setiap Inchi Mengemban Tugas

Seorang temanku mengeluh ASInya sedikit, lalu (dengan terpaksa) kini setiap hari melahap 4 mangkuk sayur agar ASInya lancar, hingga tercukupi asupan bagi bayinya.
Dia memang tak suka makan sayur. Sejak gadis hingga melahirkan pun makan sesuka keinginan lidahnya.
Teman, kita bisa belajar dari kejadian ini. Bahwa sesungguhnya setiap inchi dari tubuh kita ini mengemban tugas dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban dari Sang Pemberi Kehidupan.
Tentu kasihan bayinya jika ibunya tak mampu memproduksi ASI karena gak doyan makan sayur.
Sangat egois jika hanya memikirkan rasa enak yang hanya sebatas lidah saja.
»»  Baca Selengkapnya...

Ibu, Tolong Letakkan BB Itu Dulu. Aku Butuh Dirimu

Sore ini saat saya sedang buka twitter, seorang temanku men share satu postingan yang membuatku geleng-geleng kepala, merasa "kok bisa sih?".
Membaca postingan ini  membuatku tak tahan untuk tak menulis di blogku.

Saya adalah pengguna aktif internet, saya bukan generasi digital yang terlahir dalam era internet. Saya belajar internet dari murid saya disaat usia saya 30 an. Menyadari kelak keterikatan  internet tak ubahnya keterikatan kita pada listrik saat ini, membuat saya berusaha semaksimal mungkin mengikuti perkembangan media-media baru. Semua ini berguna untuk saya pribadi maupun untuk murid-murid saya yang terlahir dalam era digital.

Dalam mengajar murid, saya juga mendekati orang tua murid untuk mau belajar internet dan media-media baru. Maksud saya mengajari para orangtua (khususnya sang ibu) adalah agar mereka dapat mendampingi putra-putrinya saat berselancar dunia maya.
Hal pertama yang saya perlihatkan adalah sisi baik dan buruknya internet (biasanya para ibu-ibu yang tak pernah online shock melihat betapa ganasnya situs porno yang tersaji di internet). Lalu saya ajarkan searching, kemudian saya kenalkan dengan beberapa media sosial, seperti facebook, twitter juga blog.
Namun apa yang terjadi sodara-sodara?
hampir semua murid saya mengeluh, mamanya jadi penguasa komputer/laptop sejak kenal facebook. Padahal maksud saya mengenalkan facebook agar para ibu ini bisa mengontrol siapa apa saja yang ada di facebook anakknya *apa cara saya mengenalkan internet ke ibu-ibu ini salah ya?*.
Bisa jadi anaknya adalah anak yang baik, namun berteman dengan anak yang tak baik di facebook, hingga dapat mempengaruhi perilakunya. Disinilah peran ibu untuk menasehati anaknya.

»»  Baca Selengkapnya...

PD Yuuuuuukkk

Teman, tadi aku membaca artikel bagus di sebuah majalah wanita, artikel mengenai rasa percaya diri pada anak.
Setelah kurangkum dan mengalami editing, kira-kira inilah inti dari artikel itu, monggo dibaca, semoga bermanfaat.

Merasa nyaman dengan apa yang ada pada dirinya adalah tanda anak mempunyai rasa percaya diri, alias PD. Karena itu, semakin tidak nyaman seorang anak dengan keadaan yang melekat pada dirinya, bisa merupakan tanda rendahnya tingkat percaya diri.
Ketidaknyamanan itu bisa berupa hal-hal berbentuk materi, misalnya, menginginkan barang-barang seperti yang dimiliki temannya atau seperti yang ada di iklan.
Bisa juga merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya (misalnya, tidak nyaman dengan kulitnya yang hitam ,rambutnya yang keriting, dll)  atau keadaan keluarganya (merasa miskin, merasa orangtuanya bodoh, dll)
»»  Baca Selengkapnya...

Ibu, Sekolah Awal Bagi Anak

Seorang anak berkomunikasi dengan menggonggong?, makan dengan cara makan seperti anjing? yup itu nyata terjadi di sebuah kota di Rusia. Seoarang anak yang "diasuh" oleh seekor anjing, orang tuanya kerap berlayar dan hanya sesekali menjenguk untuk mengirim makanan.

Seorang zoologi asal Austria, Konrad Lorenz, melakukan eksperimen pada tahun 1937 tentang pentingnya arti sosok yang merawatnya.
Konratz mengerami 5 butir telur angsa liar. Ketika telur itu menetas, Konratz-lah yang pertama kali dilihat oleh ke 5 ekor anak angsa ini. Tidak ada teman angsa lainnya untuk bermain. Sejak hari pertama menetas hanya si bapak berjanggut inilah yang menemaninya. Setelah beberapa lama, ke 5 ekor anak angsa itu telah menjelma menjadi Konratz junior, sebab cara mereka berenang, berjalan dan berperilaku persis seperti sang "pengasuhnya"

»»  Baca Selengkapnya...
Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa