Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan

Hijab Undel-Undel Tur Ting Slawir?


Saya sudah pernah menulis tentang hijab disini dan disini Kali ini saya menulis kembali tentang hijab dengan topik yang berbeda.

Saat memutuskan untuk mempublikasi tulisan ini di blog pribadi, semuanya didasari oleh semangat ingin berbagi. Hanya ingin berbagi dengan pembaca tentang sesuatu yang saya pahami, bukan ingin menghakimi, apalagi menghina.

Sebagai orang yang bergerak di bidang fashion, kami (saya dan seorang teman usaha) banyak membeli majalah-majalah yang memuat model busana wanita sebagai bahan “contekan”dan mengambil ide.
Karena kami memang mengkhususkan diri menjahit baju muslim/muslimah, maka majalah yang kami beli adalah majalah yang banyak memuat model busana muslim.
Namun lama kelamaan kok saya menjadi sedih saat melihat trend berhijab akhir-akhir ini.
Kenapa trendnya menjadi banyak menyalahi aturan busana muslimah?
Menurut saya semakin lama kok gayanya semakin berlebihan ya?.
Dari model kerudung yang diundel-undel, ditumpuk-tumpuk, dilipat-lipat, sampai penambahan asesori di kepala segede baskom.
Belum lagi jika ada yang memakai kerudung dengan tambahan untaian manik-manik yang ting slawir (menggantung di sana-sini) di kepala.
Namun walau bertumpuk-tumpuk tapi tidak sempurna menutup dada.

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Namun dalam hal manusia berusaha memperindah sesuatu, Allah menetapkan aturan.
Beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam berhijab yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu sebagai berikut :

1.Menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan (QS. Al Ahzab/33:59)
Sabda Rasulullah : "Wahai Asma!, sesungguhnya apabila seorang wanita telah haidh (sudah baligh), maka tidak boleh terlihat darinya ini dan ini"
Kemudian Rasulullah menunjuk wajah dan telapak tangan beliau.

2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan.(QS An Nur/24:31)
Sabda Nabi : "Ada tiga golongan, jangan engkau tanya tentang mereka (karena mereka golongan orang-orang yang binasa). Seorang istri yang suaminya sedang tidak ada, padahal suaminya telah mencukupkan kebutuhan duniawinya, namun setelah itu dia bertabarruj (bersolek untuk laki-laki yang bukan mahromnya), maka janganlah engkau tanya tentang mereka.
Dalam bahasa sederhana saya tuh gini lho : salah satu fungsi hijab kan untuk menutupi "perhiasan" (bentuk tubuh dan perhiasan yg melekat di tubuh yang harus ditutupi) agar tidak menarik perhatian. Tapi lha kok malah penutupnya dibikin heboh dan sengaja dibuat untuk menarik perhatian... lha iki trus njuk piye tho?

3. Bukan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas).
Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar. Ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang memakai pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya di hari Kiamat lalu membakarnya dengan api neraka"

4. Tidak memakai pakaian yang ada gambar mahluk hidupnya.
(disarikan dari majalah As-Sunnah, no 11/THN. XVI, Rabiul Akhir 1434)

Dari beberapa buku yang saya baca, diutamakan memakai pakaian berwarna gelap. Wallahu a'lam

Jadi jika Allah telah menetapkan syarat seperti tersebut diatas, sejatinya tak lagi ada yang berlebih-lebihan dalam berhijab.
Sebenarnya masih ada banyak syarat yang belum saya cantumkan disini, namun semoga beberapa syarat yang sudah saya tuliskan dapat menjadi bahan renungan kita (terutama saya), apakah gaya berpakaian kita telah syar'i?

Untuk apa sih kita sibuk berjam-jam didepan cermin mematut diri demi tampil genjreng wah membahana jika apa yang kita kenakan dilaknat Allah?
Bukankan sederhana itu indah?

Semoga kita semua dapat istiqomah hidup sesuai aturan Allah.

*Terima kasih buat #beliau yang telah banyak memberikan buku-buku bermanfaat.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya*





»»  Baca Selengkapnya...

Pakaian Kebesaran

Gambar diambil dari sini

Saya jadi ingat larangan Almh mama untuk tidak mengenakan daster selain untuk tidur (bahkan untuk keseharian di rumahpun dilarang). Nah karena “prinsip” itu, mama tidak pernah membelikan saya daster. Seumur-umur saya hanya berpengalaman mempunyai 1 potong daster, itupun saya beli sendiri karena tertarik dengan corak batik dan warnanya yang tak biasa. Sekarang daster semata wayang itu sudah tak lagi terpakai, karena robek.
Wah masa’ pakai daster aja dilarang sih?. Hehehe, setiap orang mempunyai aturan yang dianggap terbaik bagi dirinya kan?. Pakai daster itu sah-sah saja, tidak mengganggu aliran listrik *apa hubungannya??*. Jadi kalau orang lain merasa nyaman memakai daster ya monggo saja. Bahkan untuk beberapa wanita, daster telah dianggap sebagai pakaian kebesaran. Pakaian kebesaran dalam arti sesungguhnya, karena memang ukurannya yang besar atau pakaian kebesaran dalam arti "pakain wajib", yaitu pakaian yang paling sering dikenakannya.

Semua benda di dunia ini dibuat untuk tujuan tertentu dan ada aturan pakainya. Daster tidak dirancang untuk digunakan keluar rumah, menjemput anak sekolah, belanja atau aktivitas di luar rumah.
Menurut hasil tanya pada mbah google, definisi daster adalah pakaian longgar yang digunakan untuk di dalam rumah.
Mungkin alasan malas berganti baju, kerap saya jumpai ibu-ibu yang menjemput anaknya dengan masih mengenakan daster (kadang baby doll). Yang memakai jilbab, menutupi dasternya dengan jilbab besar hingga siku atau menambahkan cardigan/jaket.
Nah jika kedua alasan itu yang menyebabkan para ibu-ibu “salah kostum”, maka saya memberikan sedikit alternatif agar tak masuk kategori salah kostum saat menjemput anak sekolah atau saat belanja.
Daster memang pakaian yang nyaman, dengan model sederhana, longgar dan biasanya bahannya dingin/adem dan tak kaku. Maka jika tak ingin direpotkan acara berganti baju saat akan keluar rumah, maka bisakanlah di rumah memakai baju yang juga layak dikenakan saat keluar rumah.
"Akh baju untuk keluar rumah kan gak nyaman".
Ikh sapa bilang? Bisa kok bikin baju rumah yang nyaman laksana daster tapi dengan model yang yang orang tidak akan menamainya sebagai daster.
Ini salah satu contoh "daster" yang bisa dikenakan di luar rumah.
Kalau tak ingin lengan panjang, tinggal mendekin lengannya aja.
"Mahal dunk!"
Tidak juga, banyak kok kain katun yang murah. Kain katun kan juga dingin dan tidak kaku.
"Akh harus menjahitkan dund!"
Kalau tak bisa menjahit dan tak mau menjahitkan, maka jelilah saat memilih baju rumah yang akan dibeli.
"Akh suka-suka saya dong, mau pake apa aja!"
Waduh kalau alasannya sudah kayak gitu, ya saya tidak bisa memberi saran lagi, karena saya kan tidak berhak memaksa orang untuk mengenakan baju dengan model apa.
#kemudianhening.

Apakah teman-teman juga suka pakai daster di luar rumah?


»»  Baca Selengkapnya...

Siti, Pemijat Andalanku

Gambar diambil dari sini


Di studio jahit kami sedang kekurangan karyawan jahit dan bordir. Empat penjahit dan tiga pembordir yang selama ini membantu kami, ternyata belumlah cukup, akibatnya kami sering lembur hingga larut malam.
Tak pelak lagi, kami pasang mata, pasang telinga dan pasang pengumuman demi mendapatkan penjahit yang kami inginkan.
Salah satu pengumuman kami pasang di tempat kami mengaji. Tak lama kemudian pengumuman kami direspon oleh seorang perempuan, Siti namanya.

Saat Siti datang, kami sedang mengerjakan pesanan baju seragam sebuah SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) dan sebuah SMA.
Hari pertama bekerja, Siti menjahit seragam model baju Melayu (di Pekanbaru, setiap hari Jumat semua murid sekolah diwajibkan mengenakan seragam dengan model baju Melayu, baju khas Riau). Ternyata Siti belum pernah menjahit baju Melayu, sehingga dia bingung saat memasang kekek (kain persegi yang menghubungkan antara badan dan lengan, salah satu potongan yang menjadikan baju Melayu berbeda dari baju kurung).
Penjahit lainnya segera mengajarkan padanya tehnik menjahit kekek.
Hasil jahitan Siti dibawah standar kami. Kami memintanya untuk membuka kembali jahitan dan menjahit ulang hingga sesuai dengan standar jahit kami.
Jika penjahit lain bisa menjahit tiga hingga empat helai sehari, maka Siti kebalikannya, tiga atau empat hari menjahit satu baju. Padahal baju yang dijahitnya adalah baju dengan model paling sederhana.

Karena hasil jahitannya tak kunjung seperti yang kami harapkan, maka Siti kami pindahkan ke bagian memasang payet. Ini kami lakukan atas nama tak tega memberhentikannya. Kami memberikan pekerjaan memasang payet “jalan”, yaitu payet yang dijahit berjajar atau berbaris lurus, sebuah tehnik menjahit payet yang paling sederhana.
Selama dua hari di bagian pemayet, kami melihat hasilnya sesuai standar, maka kami pun lega, karena tak perlu memberhentikannya.

Sampai pada saat libur lebaran telah usai, Siti belum juga muncul di studio jahit.
Hingga dua minggu berlalu, Siti belum juga datang. Kami sengaja tidak menelponnya, karena memang pekerjaan memasang payet masih bisa diselesaikan oleh dua orang pemayet yang telah ada.
Sampai di suatu malam, Siti menelponku, dia mengundurkan diri dari studio jahit kami, alasannya dia kurang suka memasang payet. Saat kujelaskan bahwa kami tidak bisa menerima hasil jahitannya karena kurang rapi, dia menjawab, “Kan bisa diajari sampai rapi kak”.
Aku terdiam sejenak, bisa sih kami mengajari hingga jahitannya sesuai dengan yang kami harapkan, tapi kapan waktunya?, semua penjahit sibuk dengan tugasnya, dan aku sendiri sibuk dengan membuat pola dan menggunting kain. Istilahnya, kami tak lagi “bisa bernapas” jika sudah ada di studio jahit, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya.
Siti mengatakan, maksud dia bekerja pada kami agar ilmu dan tehnik menjahitnya bisa bertambah, dengan kata lain dia bermaksud belajar menjahit pada kami.
Lalu kukatakan, bahwa kami bukannya tak mau mengajari dia, tapi kami tak punya waktu untuk mengajarinya di studio jahit.

Keesokan harinnya, Siti kembali meneleponku, dia menyatakan ingin les privat menjahit padaku (aku memberi les privat menjahit di malam hari), tapi uang lesnya dicicil.
Subhanallah, besar sekali tekad Siti untuk bisa menjahit. Sebenarnya seluruh waktuku sudah tersita untuk kerja. Dini hari aku bangun untuk mengerjakan pesanan handicraft, setelah subuh kerja domestik rumah tangga, lalu segera berangkat ke studio jahit, sore mengajar Bahasa Inggris, malamnya mengajar menjahit. Aku bisa leyeh-leyeh hanya di hari Minggu. Jika hari Minggu masih juga menerima murid, jadi kapan dunk istirahatku? *lho kok nanya?*
Namun, kok (lagi-lagi) gak tega ya menolak permintaan Siti. Apalagi mengingat dia seorang janda dengan satu orang anak yang ditinggal di kampungnya. Dia sendiri di Pekanbaru menyewa sebuah rumah yang ditinggali bersama kakaknya (yang juga seorang janda).
Siti dan kakaknya sehari-hari berjualan kaos kaki muslimah di area pesantren di mana kami mengaji.

Setelah berpikir waktu mana yang bisa kusisipkan untuk mengajar Siti, maka kutelepon dia untuk mulai belajar hari Jumat seusai waktu sholat Jumat dan hari Minggu tanpa perlu membayar. Siti menolak, dia tak mau belajar jika tidak membayar. Dia yakin bisa membayar walau harus dicicil. Duh tak sanggup aku menerima uang dari orang yang untuk kebutuhan sehari-harinya saja masih harus gali lubang tutup lubang.
Akupun menawarkan solusi, dia tak perlu membayar uang les padaku, sebagai gantinya, aku minta dia rutin memijatku sebelum belajar. Siti pun menyetujuinya. Siti memang belajar memijat dan bekam saat dia bekerja di Batam. Aku pernah dipijatnya saat punggungku terasa sakit, pijatannya lembut dan terasa enak di badan.

Kini, sudah sebulan Siti les padaku. Sebelum les dia memijatku selama satu jam, lalu aku mengajarinya selama 1,5 jam.
Siti “kupromosikan” pada teman-temanku sebagai pemijat handal. Alhamdulillah tetangga sebelah rumahku kini menjadi pelanggan tetap pijat dan bekamnya (malah rencananya mau belajar memijat pada Siti).
Selain pijat badan dan bekam, Siti juga bisa memijat wajah dan creambath. Nah sekarang aku tidak pernah nyalon untuk creambath lagi, karena lebih enak creambath di rumah, dibantu Siti.
Jadilah kini aku selalu riang gembira (kalau bisa salto deh *lebaaaaaay*) menyambut hari Jumat dan Minggu, karena akan menerima perawatan badan, wajah dan rambut, dan aku bisa menikmatinya sambil terkantuk-kantuk saking enaknya.

Karena melihat Siti lebih piawai memijat daripada menjahit, dan uang yang dihasilkan dari memijat lebih banyak dibanding dengan jualan kaos kaki, Siti kuminta konsentrasi memijat saja. Namun Siti menolak, dia bilang, ingin jadi penjahit daripada pemijat.
Apapun yang diinginkan Siti, jadi penjahit, pemijat atau pedagang, aku berharap dia mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan anaknya, dapat mandiri, agar tak lagi merepotkan orang tuanya.

Aaakh ternyata aku dan Siti sedang melakukan barter.
Indahnya hidup jika mampu berbagi ya, tak harus menunggu hingga kaya harta bukan?
Punya ilmu menjahit dan memijatpun bisa kok berbagi.

»»  Baca Selengkapnya...

Sedang Senang Prakarya

Sebagian buku kiriman teman yang belum sempat kutamatkan
Akhir-akhir ini sedang malas membaca, buku bacaan pemberian dari teman menumpuk, belum satupun yang tamat. Buku setebal 500 halaman biasanya kubaca hingga tamat dalam jangka waktu 3-5 hari, kini buku setebal 200 halaman saja nyeleseinnya seminggu.
Padahal aku setiap hari selalu membaca, sebenarnya sih senengnya baca majalah wanita, tapi majalah wanita cepet banget kubaca, paling lama 2 jam dah habis, kadang iklan kecil-kecilpun kubaca juga. Makanya aku lebih suka beli buku, lebih irit. *teteup pakai prinsip hemat bahagia*

Sekarang ini lagi senang-senangnya bereksperimen bikin jamu dan masker dari bahan alami hasil browsing atau nyoba pakai resep sendiri.
Dari bikin jamu kunyit asam (klo ini sih rutin kubuat sejak jaman dahulu kala), jamu pelangsing (pengen langsing sih), masker wajah dan masker tubuh (dari campuran madu dan minyak zaitu, sampai yang terbaru adalah masker badan dari telur dan minyak zaitun).
Masker badan hasil racikan sendiri, terdiri dari telur dan minyak zaitun yang bikin heboh. Bau amis telurnya susah hilang dari badan, belum lagi aku kan harus berdiam diri di kamar mandi (tanpa baju tentunya) selama 15 menit agar masker meresap, dingin ciiiiin. Untuk menghilangkan bau amis telur, aku harus berendam di air hangat hasil rebusan daun pandan, sirih dan serai. Baru deh harum mewangi

2 botol dan lulur hasil racikan sendiri
Jika biasanya di malam hari aku menulis atau membaca buku, kini lebih sering bikin prakarya, prakarya apa aja, dari njahit baju, bikin bros dari kain perca atau seperti sekarang, sedang menyelesaikan kristik

Kristik yang sedang kukerjakan. Gambar kucing dan ulat kecil.
Kalau teman-teman pembaca sekarang sedang senang-senangnya ngapain?
Berbagi yuuuuk

»»  Baca Selengkapnya...

World Hijab Day


8 tahun yang lalu, pemerintah Inggris, tepatnya di London membuat sebuah larangan bagi para mahasiswa untuk mengenakan simbol keagamaan apapun bentuknya, termasuk hijab di tempat umum. Keputusan ini mengundang protes banyak orang, khususnya wanita muslim yang memang diwajibkan mengenakan busana yang menutupi aurat.

Kericuhan ini membuat para petinggi negara panik dan dibuatlah Konferensi London 4 September 2004 yang dihadiri 300 delegasi dari 102 organisasi di Inggris dan 35 negara lainnya. Pertemuan ini menghasilkan dukungan kepada para muslimah dan memperbolehkan untuk tetap mengenakannya di muka umum. Tanggal itu pula ditentukan sebagai Hari Solidaritas Hijab Dunia.
Wanita di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Turki dan sebagainya pun merayakan hari berhijab sejak tanggal tersebut. Hari ini bukan hanya sekedar hari memakai hijab, melainkan menyemangati wanita di seluruh dunia agar tak takut lagi menentukan pilihan berbusananya atas larangan siapapun.

Di Prancis, anak perempuan dilarang masuk ke sekolah tertentu jika ia mengenakan hijab. Di Turki, wanita pemakai hijab tidak boleh mendapat perawatan medis, dan di Tunisia, wanita berhijab akan dimasukkan ke bui dan disiksa. Inilah contoh konkret betapa berartinya Hari Solidaritas Hijab Dunia dikumandangkan.
(Sumber : wolipop )

Bersyukurlah muslimah di Indonesia kini bebas mengenakan hijab (waktu SMA saya masih merasakan "tekanan" dari pihak sekolah saat mengenakan hijab)
Saya pernah memposting tentang hijab disini

Tadi saat saya kelayapan di twitterland menemukan kultwit bagus dari @awyyyyy , seorang tuip yang sedang belajar di tanah Arab.
Saya sarikan kultwitnya ya, kira-kira seperti ini :
Hijab sebenarnya tidak berhubung langsung dengan akhlak, sebab hijab itu masuk bagian syariat (Islam) sementara akhlak ranahnya adalah (Ihsan). Maka jika muslimah berusaha kaaffah ("sempurna") dalam din-nya, agamanya, dia harus ber-Islam sekaligus ber-Ihsan. Artinya, hijab adalah keharusan menyendiri bagi setiap muslimah, tanpa melihat akhlaknya baik atau belum.Otomatis, dalam aturan syariat, jika seseorang itu telah baligh, maka dia mendapat taklif (pembebanan, melakukan syariat itu), dan salah satunya adalah berhijab. Maka muslimah harus tahu, saat dia baligh, dia punya keharusan berhijab, tanpa melihat akhlaknya baik atau belum, siap atau belum siap, saat baligh, saat saat itu juga dia dikenai kewajiban berhijab
Maka tentu bukan jadi alasan andai muslimah belum mau berhijab sebab akhlaknya belum baik.
Penjilbaban hati hanyalah pelarian istilah saja untuk kabur dari keharusan mengenakan hijab dalam keseharian. Perkara mengenakan atau tidak, itu kembali kepada kebebasan muslimah masing-masing. namun harus tahu syariat seperti itu. Artinya, jika dia memilih tidak mengenakan, itu pilihan dia, namun konsekuensi syariat tetap jalan, yaitu dosa.
Tepiskan cibiran andai kebetulan ada muslimah tapi akhlaknya masih urakan,(misalnya ada komentar "Masa' berhijab tapi kok begitu moralnya") sekali lagi!!, hijab tak berhubung langsung dengan akhlak.
Untuk itu, hindari komentar seperti diatas dengan menjadi muslimah yang kaaffah, berperilakulah yang baik, dan tentu saja kenakan hijab.
Jangan termakan dengan hasutan "Tidak perlu berhijab, asal tampil rapi" (tanpa harus menutup semua aurat), atau hijab adalah adatnya orang Arab saja.
Andai benar berhijab adalah adat, maka harus diketahui, bahwa jika adat diakui syariat, dengan nash, maka ia jadi bagian syariat. Jika telah ditetapkan syariat, maka ia tak lagi jadi adat yang bisa ditinggal kapan saja.
Hal ini sangat maklum sekali, terutama bagi yang mempelajari ilmu ushul fiqh.
Benarkah hijab adalah adat Arab?. Saat opening ceremony olimpiade London 2012 kemarin, ada segerombolan orang yang mengenakan pakaian khas pedesaan Inggris, yang penggembala/petani wanitanya mengenakan apa?, penutup kepala dan baju panjang kan? Artinya itu bukan adat Arab.
Berdasarkan penjelasan diatas, kini sudah saatnya memulai komitmen menjadi muslimah kaaffaah dengan berhijab dan berhias akhlak yang baik.
Hijab adalah proteksi alamiah bagi seorang muslimah, bodyguard Ilahy. Hijab menjadi proteksi bagi dirinya sendiri (sehingga berakhlak baik) dan proteksi dari gangguan luar serta dapat mengangkat harkat.
Jika dicermati rata-rata alasan keengganan sebagian muslimah berhijab, bukan sebab tidak siap, tapi lebih karena nafsu. Tentu saja nafsu apapun, tidak harus nafsu syahwat saja. Entah itu nafsu ketakutan tidak bisa kerja, ketakutan terlihat tidak menarik, dll.
Percaya, saat muslimah berjilbab, dia semakin anggun, cantik dan saat yang sama semakin berwibawa dan "terhormat".

Nah, masihkah para muslimah ragu berjilbab setelah membaca postingan ini?
Apa alasan keraguanmu?
»»  Baca Selengkapnya...

Santun dan Nyaman Saat Menyusui di Tempat Umum

-->

 Tadi pagi saya melihat seorang ibu yang dengan “tanpa rasa bersalah” mengeluarkan bagian tubuhnya demi menyusui bayinya di tempat umum. Waduh sepertinya ibu ini belum tahu perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk menyusui di tempat umum.

Ruang khusus untuk ibu menyusui yang tersedia di negara kita ini sangatlah kurang, sehingga kadang seorang ibu harus menahan malu atau risih saat harus menyusui bayinya di tempat umum. Tentulah proses menyusui menjadi tidak nyaman jika ibunya saja sudah merasa risih.

Menyusui adalah kodrat seorang wanita, dan bayi tak mau tahu saat dimanapun/kapanpun merasa lapar/haus dia akan meminta haknya untuk menyusu. Jadi hal yang wajar jika seorang ibu harus menyusui di tempat umum. Namun menjadi tidak wajar jika harus menampakkan payudaranya di tempat umum kan?. Selain memperlihatkan aurat, juga tidak sesuai dengan kesantunan umum.
Untuk itu diperlukan beberapa perlengkapan agar ibu nyaman menyusui di tempat umum.
Apa saja persiapan, perlengkapan dan yang harus dilakukan sebelum menyusui?
»»  Baca Selengkapnya...

Miss Universe Tidak Naik Motor di Siang Bolong

SUMPAH!!! ini bukan foto saya (walau mirip saya )

Perempuan di belahan dunia manapun menginginkan mempunyai fisik yang sempurna, kulit halus mulus, rambut tebal mengkilat, gigi putih bersih. Hal yang wajar bukan?, siapa sih yang tidak ingin tampak sempurna?.
Begitu pula saya.  Dengan kemampuan saya yang terbatas, saya mencoba semaksimal mungkin merawat tubuh, hingga mendekati seperti yang saya inginkan. Sebisa mungkin saya menghindari matahari siang, menempelkan masker ini dan itu yang dipercaya bisa meningkatakan kelembaban dan kelembutan kulit, luluran, minum jamu dan usaha lainnya.
Saya menganggap manusia wajib menjaga tubuh dan jiwanya sendiri, dan salah satu usaha menjaga raga adalah seperti tersebut diatas.

Namun dalam kenyataan hidup, ada banyak perempuan tak mampu menolak untuk menjadi tidak terawat. Saya melihat bagaimana seorang ibu 1 anak, mungkin usia 23-an tahun, tubuh dan wajahnya hitam legam, kusam. Ibu itu seorang pengumpul sampah plastik, yang setiap hari menyusuri jalanan berdebu dengan membawa karung besar sebagai wadah sampah plastik yang dipungutnya. Ibu tersebut memakai bedak dingin, sehingga wajahnya coreng moreng oleh bedak dingin, mungkin bedak itu luntur disana-sini akibat keringat.
Pemandangan tersebut saya lihat sebagai upaya ibu itu merawat kecantikan ditengah susahnya mencari sesuap nasi.

»»  Baca Selengkapnya...

Belajar dari Kuku yang Njengat


Maafkan saya duhai pembaca, jika ada dari pembaca yang tidak paham arti kata “Njengat”.
Njengat adalah bahasa Jawa yang menggambarkan keadaan tidak rata karena tidak tertutup sempurna atau terkelupas.
Begitu pula nasib kuku jempol tangan kanan saya yang njengat.
Hal ini terjadi saat saya sedang menyikat lantai ruang tempat cuci, nah kuku jempol saya secara tidak sengaja  terselip diantara celah sambungan ubin (yang mulai retak karena terkena obat peluruh lumut) dan saya yang tidak sadar bahwa kuku saya terselip di ubin, dengan semangat 45 mengerakkan sikat ke depan. Dapat dibayangkan betapa kaget dan sakitnya. Kuku yang masih manis menempel di daging, serasa dipaksa lepas.
Sakitnya bukan hanya di jempol saja, namun menjalar keseluruh tangan kanan hingga ke bahu.

Keadan seperti itu tentu mempengaruhi kecepatan kerja saya. Walaupun terasa sakit namun saya paksakan juga untuk bekerja.
Entah karena kuku yang njengat atau karena kondisi tubuh saya yang tidak fit, maka sekawanan penyakit nggreges (panas dingin), pilek dan panas dalam singgah ke tubuh.  Lengkaplah sudah syarat untuk memaksa saya istirahat, yang berarti tiduran seharian.
Whuaaaaaaaaaaa…… walaupun tidur adalah hobi saya, namun menjadi siksaan saat pekerjaan belum selesai. Bertumpuk kain yang harus saya bikin pola bajunya belum tersentuh, tugas mengajar juga terganggu, tugas domestik rumah tangga juga tak dapat saya lakukan dengan baik. Bahkan untuk membalas SMS pun kesulitan (karena saya hanya mengandalkan jempol tangan kanan utk memencet keypad).
»»  Baca Selengkapnya...

Bulu Mata Takut Matahari


-->
-->Ini pengalamanku 2 tahun lalu. Pengalaman bodoh van konyol.
Setiap wanita pastilah ingin terlihat cantik, untuk itu banyak yang dengan suka rela mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk mendapatkan ukuran cantik yang seperti dia harapkan.
Tak jarang juga untuk cantik kita-kita para wanita ini rela menahan sakit, misalnya agar terlihat langsing maka maksa deh pake korset yang ukurannya sengaja dipilih 1 angka lebih kecil dari ukuran yang semestinya. Iya sih, perut terlihat agak kecil tapi jadi susah bernafas.

Nah aku yang menjunjung  tinggi tampil cantik alami, ternyata pernah juga tergoda untuk cantik tidak alami *halah bahasanya*, alias cantik maksa
Sejak SD aku diajari (Almh) mamaku membuat jamu,lulur,creambath sendiri. Semuanya dibuat dari bahan alami. Jadi untuk urusan perawatan tubuh & rambut, kami melakukan sendiri di rumah. Saat (Almh) mamaku masih ada, aku ke salon hanya untuk potong rambut, itu pun kadang-kadang, karena lebih sering
(Almh) mamaku yang memotong rambutku. *jadi kangen Almh mama *

»»  Baca Selengkapnya...

Cara Menghitamkan Rambut

Umumnya orang asia berambut hitam, dan memang wajah eksotik asia lebih terlihat menonjol jika berambut hitam berkilau.
Ini adalah beberapa cara tradisional untuk menghitamkan rambut.
1. Dengan menggunakan daun seledri .
Caranya , ambil lebih kurang 10 batang seledri, tumbuk/blender dengan segelas air matang, saring dan embunkan selama semalam.
Keramaslah seperti biasa dan guyurkan air seledri tersebut pada bilasan terakhir sambil mengurut kulit kepala. diamkan selama 1 jam, lalu bilas hingga bersih.

»»  Baca Selengkapnya...
Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa