Tampilkan postingan dengan label Asal aja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal aja. Tampilkan semua postingan

Ngoreti

Krim kaki dan body lotion yang dikoreti


Saya tidak menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang mendekati kata “Ngoreti”.
Ngoreti adalah kosa kata dalam Bahasa Jawa. Karena saya tidak dapat menjelaskan arti kata ngoreti dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, maka saya akan memberi contoh apa sih ngoreti itu?.
Contohnya begini : Jika kita menuang sirup dari botolnya hingga sirup habis, maka akan kita dapati sisa-sisa sirup yang masih menempel di seluruh permukaan botol bagian dalam bukan?. Kemudian kita (baca : saya) akan melakukan aksi ngoreti dengan cara menuangkan sedikit air matang ke dalam botol lalu mengguncangnya hingga botol bersih dari sisa sirup dan kitapun mendapat setengah gelas sirup hasil ngoreti *panjang ya contohnya*.

Semalam saya baru saja ngoreti body lotion dan krim untuk kaki dari wadahnya. Tiba-tiba saya ingat salah seorang teman yang komentar “Ya ampuuuuun, kalau aku dah kubuang tuh”.
Hehehe, atas nama hemat pangkal kaya, ngoreti pangkal cantik, maka saya terbiasa mengoreti kosmetika saya hingga wadahnya bersih dari sisa kosmetik yang menempel. Lumayan lho, hasil ngoreti body lotion, bisa saya pakai untuk mengolesi kedua tangan dan kaki. Sedangkan hasil ngoreti krim untuk kaki, bisa untuk 5 kali pakai, karena krim itu kental dan pemakaiannya sedikit, hanya di tumit saja.
Sebenarnya bukan hanya atas nama hemat, namun lebih pada MENGHINDARI MUBADZIR.
Saya, salah seorang dari sekian banyak penduduk dunia yang keukeuh menghindari mubadzir, karena saya tidak mau jadi temannya setan (kan dalam Hadist dikatakan pelaku mubadzir adalah teman setan).
Saya pernah menulis di sini, dan di sana bagaimana budaya mubadzir yang telah mengakar dan menyebabkan kita kehilangan  sesuatu yang harusnya bisa kita manfaatkan.

Saya juga tidak melihat keuntungan dari membuang begitu saja (tanpa ngoreti dahulu isinya) wadah kosmetik. Justru dengan ngoreti, kita bisa meringankankerja alam untuk mendaur ulang.
Dengan ngoreti, yang kadang harus “merusak” kemasan/wadah, juga mengurangi potensi pemalsuan.
Sering kita dengar kosmetik yang dipalsukan dengan memanfaatkan wadah bekas, lalu mengisinya dengan kosmetik palsu bukan?. Yah walaupun para pemalsu itu bisa saja membuat kemasan baru yang sama, namun ada banyak kasus pemalsuan dengan menggunakan wadah bekas.

Menurut saya aksi ngoreti bukan tindakan yang mencerminkan perilaku hemat yang kebablasan alias pelit medit bin kikir. Beda jauuuuh temans (cari sendiri perbedaannya ya)
Dalam melakukan tindakan kita akan memilih hal yang terbaik. Jika membuang wadah dengan sisa yang masih menempel dipandang adalah hal yang paling baik, maka lakukan saja. *masih berpikir apa keuntungan membuang wadah yang masih bersisa*

Semoga kita semua terhindar dari sifat mubadzir.

Wallahu a’lam bishshawab

»»  Baca Selengkapnya...

Sate Labil

Soto daging buatanku
Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, almh mama sering mengingatkanku untuk belajar memasak.
Beliau berkata,
“Dik, belajar masak sekarang, kasihan nanti suami dan anak-anakmu, masa dikasih makan telur ceplok sama kornet tiap hari?!”.
Lalu aku akan menjawab,
“Besok kalau nyari calon suami dikasih syarat, harus terima calon istrinya gak suka masak, lagian kan bisa pakai jasa katering”. #ngeyel

Karena ke-keukeuhan-ku tidak mau menyalakan kompor, sampai-sampai masak mie instanpun, almh mama yang memasakkan *duuuuuh jadi pengen nangis kalau ingat emakku yang hebad dan baik itu*.Aku menggoreng tempe menjadi peristiwa penting bagi orang tuaku, maka akan mengalir pujian saat makan tempe hasil gorenganku. Aku tahu, pujian itu mereka lontarkan agar aku semakin bersemangat untuk belajar memasak. Namun sepertinya sia-sia saja pujian mereka, karena sampai akhir hayat mamaku tak juga keinginan untuk bisa masak tumbuh dalam diriku.
***
Mengapa aku tidak suka memasak?.
1. Aku tidak suka suasana dapur dan bau bawang/bumbu-bumbu lainnya.
2. Beli makanan jadi lebih murah (emang sih ada yang lebih mahal, tapi kebanyakan lebih murah ya kan..kan?? *cari dukungan*)
3. Aku tidak suka terkena percikan minyak, bikin kulit belang-belang, gak mulus lagi.  #kemayu.
4. Aku menganggap ada hal lain yang lebih penting dikerjakan dari hanya “sekedar” memasak. Udah capek-capek, eh hasilnya “cuma gitu doang”.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia *eh yang ini abaikan….ini sila ke lima dari pancasila ya*
Gara-gara pemikiran di atas itulah aku tidak suka masuk dapur. Jika disuruh masak atau membersihkan kamar mandi, aku akan memilih membaca sambil tiduran aja deh *plak! Itu bukan pilihan!*

Bahwa setiap kejadian dapat merubah arah hidup maupun pandangan seseorang, itu benar adanya.
Saat mamaku masih sakit, aku memilih untuk tidak bekerja demi bisa merawat beliau, namun untuk urusan memasak, papa yang turun tangan. Aku masih belum juga mau menyalakan kompor *karena kupikir kan ada papa yang rela memasak* #plak. Kemudian mama meninggal *pas nulis kalimat ini air mata turun, deras. Berhenti sejenak menulis, dipuaskan dulu menangisnya. Semoga almh mamaku diberi tempat yang layak dan semoga aku bisa menjadi anak sholehah, yang akan menjadi tabirnya dari panasnya api neraka. Amin*, maka aku dituntut untuk harus bisa memasak, karena papaku tidak mau makan makanan yang dibeli di luar, harus masak sendiri.
Terereeeeeeeeeeeeeng jreeenk!, berubah drastislah menu keseharian kami (aku dan papa). Jika saat masih ada mama, papaku makan masakan Minang (gulai, balado, dan masakan-masakan yang bersantan kental), kini cukup puas hanya dengan tumis dan balado. Tidak ada gorengan, tidak ada camilan di sore hari, tidak ada kacang tojin bikinan sendiri.

Papaku tidak protes, karena tahu anak perempuan satu-satunya yang cantik dan menggemaskan ini akan sedih dan gundah gulana jika diminta memasak.
Bagaimana denganku sendiri?, walau masakanku rasanya suka tak tentu arah, tapi aku telan aja. Asal ada sayur aku semangat mengunyah makanan, soal rasa nomer delapan belaslah.
Sampai suatu hari……
Aku membaca kicauan (tweet) teman, yang mengatakan pentingnya makan “makanan rumah”, karena selain bahan dan proses memasakknya lebih terjamin, juga ada “rasa” yang tidak akan diperoleh jika kita memakan”makanan luar”.
Iseng-iseng kutanya pada beberapa teman laki-laki yang statusnya telah menjadi suami, ternyata benar sodara-sodara!, 99% dari responden surveiku ini lebih suka jika istrinya memasak untuk keluarganya, walau rasanya tak seenak jika membeli di luar, namun (kata mereka) dalam masakan tersebut, ada “rasa”cinta, perhatian dan kasih sayang. ….Duuuuhhh romantis kaaaannn???.

Gara-gara tweet tersebut, aku mulai berpikir, benar juga ya, bahwa makanan rumah itu punya aura positif dan energi bagi keluarganya, bukan sekedar pengganjal perut dan rasa enak di lidah. Oke dwech, dengan semangat tinggi, kutumbuhkan niat untuk belajar memasak.
Dimulai dengan ubek-ubek internet, nyari resep, lalu praktek. Hasilnya??? belum ada yang sekali jadi, enak dan sesuai dengan harapanku .  Adaaaaa saja yang rasanya kurang, walau telah merasa memasak sesuai dengan resep yang kubaca. Tapi gak nyerah dunk. Biasanya praktek yang ke dua atau ketiga atau keempat, kelima dan seterusnya  makananku sudah layak untuk ditelah, bukan dikunyah lalu dilepeh.
***

“Ibu berpesan : makanan paling baik & paling mulia adalah yang kau makan di rumah. Kebiasaan menjajan timbulkan watak yang tidak hargai keluarga”
, begitulah sebuat retweet dari teman. Walaupun tidak setuju 100%, namun kicauan ini semakin memacuku untuk bisa memasak dengan baik, rasa sesuai di lidah, setidaknya lidah keluargaku.
Mulai berpikir, jika tidak dari sekarang belajar memasaka, lalu kapan lagi?. Keburu kelak (jika diizinkanNYA) punya anak, dan terus makan makanan luar, wah bisa-bisa aku menurunkan kebiasaan buruk pada anakku. Hobi njajan dan tentu saja resiko yang menyertainya.

Jika aku “mengagungkan” makanan rumah, bagaimana pula jika ada yang mampu memasak makanan rumah namun karena pekerjaan/jarak/waktu tak memungkinankan mereka makan makanan rumah?. Jawabnya, ya sekurang-kurangnya setiap hari ada makan makanan rumah gitu, entah sarapan atau makan malam.
Teringat teman, pasangan suami istri dengan 2 orang anak,  yang tinggal di Bekasi dan bekerja/sekolah di Jakarta. Mereka berangkat pukul 5.30 pagi, anak-anak sarapan di mobil, sarapannya setangkup roti panggang dan segelas susu, setelah mengantarkan anak-anak sekolah, pasangan suami istri ini masih mempunyai waktu sebelum masuk kantor, biasanya mereka mencari sarapan di sekitar kantor mereka, bubur ayam, lontong sayur, ketoprak atau apa saja yang mereka inginkan. Makan siang tentu saja dilalui di luar rumah, sementara anaknya makan siang dari katering di sekolahnya. Sampai di rumah pukul 19, pastinya sudah capek jika harus memasak, maka makan malam mereka lewatnya di restoran atau warung. Hari libur adalah hari dimana anak-anak dan suaminya bisa merasakan makanan rumah.
Jika mengingat hal diatas, maka berbahagialah mereka yang bisa makan makanan rumah, jangan hanya karena rasanya yang tak seenak makanan diluar maka lebih memilih makan di luar.
***


Seminggu yang lalu aku ngajar dan disuguhi sate padang bikinan bundanya muridku, rasanya enak. Sepulang ngajar, aku meminta resep sate padangnya, bundanya muridku bukan hanya menerangkan langkah-langkah membuatnya saja, namun juga memberikan bumbu sate yang dia gunakan, jadi aku tinggal memasak dagingnya dan membuat kuahnya tanpa harus menggiling bumbunya.
Dengan semangat 45, cerah ceria, gegap gempita, sorak sorai bergembira, aku mulai mengolah bahan. Kres kres kres, prek, klunting klunting *bunyi memotong, menggeprek dan mengaduk*
akhirnya masak sudah sate padangku. Sukseskah? TIDAK SODARA-SODARA! *nangis salju*
Sate padangku sama sekali gak mirip sate, lebih mirip daging buat soto, warnanya hitam (walau bukan gosong), rasa kuahnya juga mirip jamu. Lebih parah lagi warna kuah satenya jadi hijau dan terigunya tak tercampur rata, jadi mbrindil-mbrindil.
Dengan malu-malu (sangat malu sih), aku mengatakan pada papa bahwa sate padangnya gagal total, gak bisa dimakan, pahit. *coba! adakah yang lebih parah dariku?, memasak kok rasanya bisa pahit?*. Seperti biasanya, papaku hanya tersenyum, tidak marah (juga tidak kaget, mungkin karena sudah menduga bakal gagal ya? #kebiasaan). Jadilah makan malam kami lagi-lagi berlauk rendang (salah satu masakanku yang sukses jaya, setelah 5 kali gagal), sambal dan lalap.

Meski sekarangpun aku masih aras-arasen (enggan) belajar memasak, namun kupaksakan untuk terus belajar. Aku tak mau kelak jika waktu itu tiba, aku belum siap hanya karena menunda dan menuruti keenggananku.
Lalu benarlah apa yang dinasehatkan almh mamaku, belajar masak.
Walau dulu sering ngeyel dan meremehkan memasak, kini aku sudah isyaf (walau belum insyaf sepenuhnya #teteupngeyel), mulai belajar memasak. Agar kelak keluargaku tidak bingung ini makan sate atau makan jamu sih?

Oh ya, bagaimana nasib sateku yang gagal?... ternyata sate itu labil, kini dia menjelma menjadi soto daging.
Kuahnya (yang rasanya mirip jamu) kubuang, lalu aku memasak kuah soto, trus dagingnya direbus di kuah soto tersebut, lalu jadilah soto yang sumpah! enak! *harus pakai tanda seru, penting*, bisa dimakan manusia dan tidak perlu siap-siap ambulans
Gak percaya kalau aku bisa masak soto?..lihat aja foto di postingan ini. terlihat enak kan? *pamer*


Ada yang bisa mengajariku memasak?
»»  Baca Selengkapnya...

Siti, Pemijat Andalanku

Gambar diambil dari sini


Di studio jahit kami sedang kekurangan karyawan jahit dan bordir. Empat penjahit dan tiga pembordir yang selama ini membantu kami, ternyata belumlah cukup, akibatnya kami sering lembur hingga larut malam.
Tak pelak lagi, kami pasang mata, pasang telinga dan pasang pengumuman demi mendapatkan penjahit yang kami inginkan.
Salah satu pengumuman kami pasang di tempat kami mengaji. Tak lama kemudian pengumuman kami direspon oleh seorang perempuan, Siti namanya.

Saat Siti datang, kami sedang mengerjakan pesanan baju seragam sebuah SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) dan sebuah SMA.
Hari pertama bekerja, Siti menjahit seragam model baju Melayu (di Pekanbaru, setiap hari Jumat semua murid sekolah diwajibkan mengenakan seragam dengan model baju Melayu, baju khas Riau). Ternyata Siti belum pernah menjahit baju Melayu, sehingga dia bingung saat memasang kekek (kain persegi yang menghubungkan antara badan dan lengan, salah satu potongan yang menjadikan baju Melayu berbeda dari baju kurung).
Penjahit lainnya segera mengajarkan padanya tehnik menjahit kekek.
Hasil jahitan Siti dibawah standar kami. Kami memintanya untuk membuka kembali jahitan dan menjahit ulang hingga sesuai dengan standar jahit kami.
Jika penjahit lain bisa menjahit tiga hingga empat helai sehari, maka Siti kebalikannya, tiga atau empat hari menjahit satu baju. Padahal baju yang dijahitnya adalah baju dengan model paling sederhana.

Karena hasil jahitannya tak kunjung seperti yang kami harapkan, maka Siti kami pindahkan ke bagian memasang payet. Ini kami lakukan atas nama tak tega memberhentikannya. Kami memberikan pekerjaan memasang payet “jalan”, yaitu payet yang dijahit berjajar atau berbaris lurus, sebuah tehnik menjahit payet yang paling sederhana.
Selama dua hari di bagian pemayet, kami melihat hasilnya sesuai standar, maka kami pun lega, karena tak perlu memberhentikannya.

Sampai pada saat libur lebaran telah usai, Siti belum juga muncul di studio jahit.
Hingga dua minggu berlalu, Siti belum juga datang. Kami sengaja tidak menelponnya, karena memang pekerjaan memasang payet masih bisa diselesaikan oleh dua orang pemayet yang telah ada.
Sampai di suatu malam, Siti menelponku, dia mengundurkan diri dari studio jahit kami, alasannya dia kurang suka memasang payet. Saat kujelaskan bahwa kami tidak bisa menerima hasil jahitannya karena kurang rapi, dia menjawab, “Kan bisa diajari sampai rapi kak”.
Aku terdiam sejenak, bisa sih kami mengajari hingga jahitannya sesuai dengan yang kami harapkan, tapi kapan waktunya?, semua penjahit sibuk dengan tugasnya, dan aku sendiri sibuk dengan membuat pola dan menggunting kain. Istilahnya, kami tak lagi “bisa bernapas” jika sudah ada di studio jahit, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya.
Siti mengatakan, maksud dia bekerja pada kami agar ilmu dan tehnik menjahitnya bisa bertambah, dengan kata lain dia bermaksud belajar menjahit pada kami.
Lalu kukatakan, bahwa kami bukannya tak mau mengajari dia, tapi kami tak punya waktu untuk mengajarinya di studio jahit.

Keesokan harinnya, Siti kembali meneleponku, dia menyatakan ingin les privat menjahit padaku (aku memberi les privat menjahit di malam hari), tapi uang lesnya dicicil.
Subhanallah, besar sekali tekad Siti untuk bisa menjahit. Sebenarnya seluruh waktuku sudah tersita untuk kerja. Dini hari aku bangun untuk mengerjakan pesanan handicraft, setelah subuh kerja domestik rumah tangga, lalu segera berangkat ke studio jahit, sore mengajar Bahasa Inggris, malamnya mengajar menjahit. Aku bisa leyeh-leyeh hanya di hari Minggu. Jika hari Minggu masih juga menerima murid, jadi kapan dunk istirahatku? *lho kok nanya?*
Namun, kok (lagi-lagi) gak tega ya menolak permintaan Siti. Apalagi mengingat dia seorang janda dengan satu orang anak yang ditinggal di kampungnya. Dia sendiri di Pekanbaru menyewa sebuah rumah yang ditinggali bersama kakaknya (yang juga seorang janda).
Siti dan kakaknya sehari-hari berjualan kaos kaki muslimah di area pesantren di mana kami mengaji.

Setelah berpikir waktu mana yang bisa kusisipkan untuk mengajar Siti, maka kutelepon dia untuk mulai belajar hari Jumat seusai waktu sholat Jumat dan hari Minggu tanpa perlu membayar. Siti menolak, dia tak mau belajar jika tidak membayar. Dia yakin bisa membayar walau harus dicicil. Duh tak sanggup aku menerima uang dari orang yang untuk kebutuhan sehari-harinya saja masih harus gali lubang tutup lubang.
Akupun menawarkan solusi, dia tak perlu membayar uang les padaku, sebagai gantinya, aku minta dia rutin memijatku sebelum belajar. Siti pun menyetujuinya. Siti memang belajar memijat dan bekam saat dia bekerja di Batam. Aku pernah dipijatnya saat punggungku terasa sakit, pijatannya lembut dan terasa enak di badan.

Kini, sudah sebulan Siti les padaku. Sebelum les dia memijatku selama satu jam, lalu aku mengajarinya selama 1,5 jam.
Siti “kupromosikan” pada teman-temanku sebagai pemijat handal. Alhamdulillah tetangga sebelah rumahku kini menjadi pelanggan tetap pijat dan bekamnya (malah rencananya mau belajar memijat pada Siti).
Selain pijat badan dan bekam, Siti juga bisa memijat wajah dan creambath. Nah sekarang aku tidak pernah nyalon untuk creambath lagi, karena lebih enak creambath di rumah, dibantu Siti.
Jadilah kini aku selalu riang gembira (kalau bisa salto deh *lebaaaaaay*) menyambut hari Jumat dan Minggu, karena akan menerima perawatan badan, wajah dan rambut, dan aku bisa menikmatinya sambil terkantuk-kantuk saking enaknya.

Karena melihat Siti lebih piawai memijat daripada menjahit, dan uang yang dihasilkan dari memijat lebih banyak dibanding dengan jualan kaos kaki, Siti kuminta konsentrasi memijat saja. Namun Siti menolak, dia bilang, ingin jadi penjahit daripada pemijat.
Apapun yang diinginkan Siti, jadi penjahit, pemijat atau pedagang, aku berharap dia mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan anaknya, dapat mandiri, agar tak lagi merepotkan orang tuanya.

Aaakh ternyata aku dan Siti sedang melakukan barter.
Indahnya hidup jika mampu berbagi ya, tak harus menunggu hingga kaya harta bukan?
Punya ilmu menjahit dan memijatpun bisa kok berbagi.

»»  Baca Selengkapnya...

Sak Dek Sak Nyet

Gambar diambil di sini


Almarhumah ibuku, semasa hidupnya sering berkata padaku “Kok senangnya sak dek sak nyet”.
Sak dek sak nyet adalah sebuah kosa kata dalam Bahasa Jawa yang artinya disaat mempunyai keinginan, saat itu juga harus dilaksanakan.

Dulu sih aku abai dengan julukan sak dek sak nyet, tapi akhir-akhir ini mulai kurasa Almh. ibuku benar menyematkan julukan itu padaku.
Bulan ini aku sering sak dek sak nyet (padahal seringnya kan dah dari dulu ya, baru nyadar sekarang)
Dimulai dari tiba-tiba ingin mencoba masker telur untuk tubuh. Kebetulan ada telur ayam kampung. Aku hanya ingin merasakan bagaimana sih kalau badan dimaskerin pakai telur?. Selama ini aku hanya memakai masker telur untuk wajah saja, hasilnya lumayan, lembut dan kencang *tsaah*.
Sebelum memecahkan cangkang telur, aku sudah berpikir, setelah maskeran harusnya mandi dengan air rebusan pandan dan sirih, untuk menghilangkan bau amisnya. Tapi ya karena sak dek sak nyet tadi, aku ingin maskeran saat itu juga, jadi aku tidak menyiapkan air rebusan pandan dan sirih.
Hasilnya??,Amis. Yup!, amis bau telur mentah, walau setelah maskeran aku mandi dengan sabun, tapi tetap saja masih tercium bau amisnya.
Jadilah saat itu juga, kira-kira pukul 21, aku bergelap-gelap ria ke kebun di belakang rumah untuk mengambil beberapa lembar daun pandan dan serai, lalu ke halaman samping untuk memetik daun sirih. Ketiga bahan tadi kurebus di panci besar.
Coba jika aku tidak sak dek sak nyet, pastinya aku tak perlu bergelap-gelap ria dan tidak tersiksa dengan bau amis .

Sekarang ini aku sedang gemar-gemarnya bikin pernak-pernik dari kain dan felt. Suatu malam, tiba-tiba punya ide membuat tas dari celana jins yang sudah robek di bagian pahanya. Malam itu juga aku mengerjakan, padahal beberapa bahan belum tersedia, seperti ritsleting untuk tas, kain perca dengan motif yang kuinginkan dan lain-lain.
Di studio jahit banyak sekali kain perca, namun karena ide ini muncul di malam hari, disaat aku sudah ada di rumah, maka yang ada hanya perca batik (karena aku selalu menyimpan perca batik di rumah).
Akhirnya tas dari celana jins jadi juga, namun aplikasinya kurang memuaskan karena warnanya kurang cerah, ini disebabkan oleh bahan aplikasi yang kugunakan memang tidak ada yang berwarna cerah. Jika aku mau menunggu hingga pagi, aku bisa mendapatkan bahan aplikasi yang kuinginkan di studio jahit.

Walaupun sak dek sak nyet tidak selamanya buruk (baiknya adalah orang yang sak dek sak nyet adalah pantang menunda mengerjakan suatu pekerjaan), namun merencanakan sesuatu berikut langkah-langkahnya tentu akan menuai hasil yang maksimal.

Hidup adalah lahan pembelajaran, tempat memungut hikmah, setidaknya dengan peristiwa tersebut, aku paham bahwa ada saatnya harus menahan untuk mengerjakan sesuatu, karena beberapa sebab. Jika ngeyel mengerjakan saat itu juga maka hasil yang didapat tidak maksimal.

Apakah pembaca juga pernah mengalami sak dek sak nyet?

»»  Baca Selengkapnya...

Sedang Senang Prakarya

Sebagian buku kiriman teman yang belum sempat kutamatkan
Akhir-akhir ini sedang malas membaca, buku bacaan pemberian dari teman menumpuk, belum satupun yang tamat. Buku setebal 500 halaman biasanya kubaca hingga tamat dalam jangka waktu 3-5 hari, kini buku setebal 200 halaman saja nyeleseinnya seminggu.
Padahal aku setiap hari selalu membaca, sebenarnya sih senengnya baca majalah wanita, tapi majalah wanita cepet banget kubaca, paling lama 2 jam dah habis, kadang iklan kecil-kecilpun kubaca juga. Makanya aku lebih suka beli buku, lebih irit. *teteup pakai prinsip hemat bahagia*

Sekarang ini lagi senang-senangnya bereksperimen bikin jamu dan masker dari bahan alami hasil browsing atau nyoba pakai resep sendiri.
Dari bikin jamu kunyit asam (klo ini sih rutin kubuat sejak jaman dahulu kala), jamu pelangsing (pengen langsing sih), masker wajah dan masker tubuh (dari campuran madu dan minyak zaitu, sampai yang terbaru adalah masker badan dari telur dan minyak zaitun).
Masker badan hasil racikan sendiri, terdiri dari telur dan minyak zaitun yang bikin heboh. Bau amis telurnya susah hilang dari badan, belum lagi aku kan harus berdiam diri di kamar mandi (tanpa baju tentunya) selama 15 menit agar masker meresap, dingin ciiiiin. Untuk menghilangkan bau amis telur, aku harus berendam di air hangat hasil rebusan daun pandan, sirih dan serai. Baru deh harum mewangi

2 botol dan lulur hasil racikan sendiri
Jika biasanya di malam hari aku menulis atau membaca buku, kini lebih sering bikin prakarya, prakarya apa aja, dari njahit baju, bikin bros dari kain perca atau seperti sekarang, sedang menyelesaikan kristik

Kristik yang sedang kukerjakan. Gambar kucing dan ulat kecil.
Kalau teman-teman pembaca sekarang sedang senang-senangnya ngapain?
Berbagi yuuuuk

»»  Baca Selengkapnya...

Gaji Suaminya Sedikit kaleee


Bertemu kembali dengan teman yang telah sekian lama tak bersua, selalu saja menyenangkan hati. Ingin tahu beritanya, melihat segala perubahannya, dan yang paling sering mengenang saat masih bersama.
Pertanyaan pertama di saat kita berjumpa teman lama biasanya, dimana domisilinya sekarang?, kemudian disusul dengan pertanyaan, anaknya sudah berapa?, masih kerja di tempat lama? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saat berjumpa kembali, kita juga bisa melihat perubahan fisik dan gayanya.
Nah, suatu kali saya mendengar teman yang nyletuk, “Gaji suaminya kecil kaleee”, saat melihat teman lama kami yang kini tampilannya berubah. Dia yang dulu kulitnya putih, kini terlihat cukup gelap dengan raut wajah yang terlihat capek. Busananya juga terkesan kusam karena (sepertinya) sudah sering dipakai, sampai warna kainnya mbladus (pudar & terlihat kotor).

Kita memang cenderung gampang melontarkan komentar atas apa yang kita lihat dan dengar.
Padahal tidak semua harus dikomentari bukan?, dan tidak semua komentar harus di verbalkan.
Selain agak terkejut demi mendengar celetukan teman, saya juga mikir, kenapa sang komentator begitu gampangnya menuduh gajinya suami teman tersebut kecil?
Ternyata benarlah apa yang disebutkan dalam ajaran agama saya, bahwa masing-masing dari pasangan adalah “pakaian” bagi pasangannya. Pakaian berfungsi menutup yang seharusnya memang mesti ditutup, selain itu juga berfungsi sebagai identitas.
Pakaian sebagai sebuah identitas dapat kita ketahui saat seseorang mengenakan pakaian model tertentu atau seragam tertentu. Kita akan dengan mudah menebak profesi seseorang sebagai satpam jika dia mengenakan kemeja putih, celana dongker (blue black) dengan model tertentu.
Perempuan yang memakai jilbab, maka dapat dipastikan dia adalah muslimah, karena umumnya yang memakai jilbab adalah muslimah. Walaupun ini juga tak selalu benar. Adalakanya pemakaian  jilbab merupakan suatu aturan di suatu tempat, tak pandang apakah dia muslimah atau tidak. Namun bolehlah disebut bahwa jilbab adalah identitas ataupun pembeda perempuan muslim dari yang lainnya.

Jika seorang istri diibaratkan sebagai pakaian bagi suaminya, maka wajib hukumnya agar istri menampilkan citra yang baik bagi suaminya sehingga memperkecil peluang untuk “dihinakan”.
Seperti contoh kasus diatas, dengan mudah tuduhan suaminya bergaji sedikit meluncur dari mulut seseorang, bisa jadi karena dipikirnya suami teman tersebut tak mampu membelikan pakaian yang lebih layak dari pakaian yang sudah mbladus.
Memang setiap individu tak bisa seenaknya sendiri berlaku, selalu saja harus mempertimbangkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang harus patuh dengan aturan karena status sosial yang disandangnya, ada pula yang harus meredam keinginannya karena jika dilakukan akan berdampak tak baik bagi yang lain. Namun diatas semua aturan yang membatasi, yang paling aman adalah memakai patokan AturanNYA sebagai “peta” hidup, sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan.
Mungkin baju mbladus itu nyaman dikenakannya.
Meskipun kita paham, tak patut menilai orang hanya dari pakaian yang dikenakannya, namun keseharian kita mengajarkan, bahwa kesan pertama adalah kesan yang tertangkap oleh panca indera. Sebelum kita mengenal orang lain, kita terlebih dulu membuat gambaran orang tersebut berdasarkan apa yang terlihat dan terdengar. Bagaimana pakaiannya, bagaimana intonasi suaranya, bagaimana gerak tubuhnya, bagaimana pandangan matanya dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Kembali lagi ke teman berpakaian mbladus tadi, usut punya usut ternyata tuduhan bahwa suaminya bergaji sedikit itu salah lho.
Kulitnya yang dulu putih kini menjadi gelap bukan karena dia tidak mampu beli lulur, tapi karena kini dia menggunakan motor sebagai alat transportasi, dulu dia menggunakan angkot. Kalau angkot kan ada atapnya, jadi lebih terlindung dari panas, beda jika memakai motor, bagian tubuh yang tak tertutup akan cepat menghitam karena paparan matahari *pengalaman pribadi*.
Lalu wajah yang terlihat lelah, itu disebabkan kini aktivitasnya meningkat, selain mengasuh anak, dia juga masih bekerja. Kalau dulu saat kami bertemu kan belum mempunyai anak. Selain bodinya telah berubah karena melahirkan, tentulah aktivitasnya bertambah dengan mengasuh anak. Yang belum pernah mengasuh anak, cobalah barang setengah hari saja mengasuh balita sendirian, capeknya melebihi capek nyuci, setrika, masak. Percaya deh

Jadi ternyata tampil layak itu wajib ya sodara-sodara (deskripsikan sendiri kata “layak”nya ya).
Tidak hanya bagi wanita, tapi juga bagi pria. Jangan sampai menerima tamu dengan memakai kaos dalam, pergi kemana-mana dengan jaket butut yang nyucinya hanya setiap bulan purnama atau pergi kemanapun pakai sandal jepit. Senyaman-nyamannya sandal jepit, itu tak layak jika dipakai ke kondangan.

So, *nih wajib dibaca para suami*, jika istrinya minta biaya perawatan tubuh dan wajah, jangan pelit-pelit ya. Itu bukan hanya berguna bagi sang istri, tapi juga berguna menjaga (bahkan mendongkrak) citra suami.
Kok tulisannya terkesan “membela” wanita?, hehehe… saya kan wanita, belum pernah dan tidak ingin menjadi pria, jadi saya menulis ya dari sisi kewanitaan .
Begitulah pendapat saya, anda punya pendapat berbeda?, berbagi yuk.

Wallahu a’lam bishshawab
»»  Baca Selengkapnya...

Tak Bisa Kutolak, Karena Kau yang Terindah

Tak bisa kutolak, karena kau yang terindah.
Yang mungkin memuaskan segalanya.



»»  Baca Selengkapnya...

Hubungan Jarum Pentul dan Kendaraan Umum

Aku sudah akrab dengan jarum pentul sejak SMP, karena aku memilih tata busana sebagai kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.
Jarum dengan salah satu ujungnya terdapat bulatan kecil sebagai penahan agar jarum tak tembus seluruhnya pada kain ini ternyata juga berfungsi sebagai senjata saat aku di kendaraan umum.

10 tahun yang lalu aku adalah pengguna kendaraan umum.
Dan sungguh aku sangat tidak nyaman menggunakan kendaraan umum (khususnya kendaraan umum di daerahku).
Entah sudah berapa puluh kali aku mengalami hal hal yang menyebalkan dan menjijikkan.
Dari dituduh belum bayar oleh kernetnya yang lupa kalo aku dah bayar, kendaraan dipenuhi asap rokok, lama ngetem, musik yang berdentum memekakan telinga, duduk yg empet-empetan (berdesakan), copet dan beribu ketidaknyamanan lainnya.

Ketidaknyamanan yang paling sering kualami adalah "pelecehan seksual" (padahal penampilanku tak "mengundang", aku mengenakan gamis lebar, jilbab dan tanpa make up wajah).
Pertama kali aku mengalami kekurangajaran ini adalah saat aku pergi kursus akuntansi. Saat di oplet (sebutan untuk angkot di Pekanbaru) aku merasakan ada tangan menyentuh pinggangku, kupikir orang yg berniat mencopet, lalu aku bergeser, eh laki laki yang memegang pinggangku ikutan geser, dan bodohnya aku diam saja, karena aku takut (padahal aku kan korban, kenapa harus takut?).
Sejak itu aku bertekad untuk lebih berani demi harga diri dan demi memberi pelajaran pada yang kurang ajar padaku.

Kejadian kedua adalah saat di bis kota. Seorang laki laki setengah baya yang berdiri disampingku (aku duduk) menempelkan (maaf) alat kelaminnya ke lenganku, kukira karena bis penuh penumpang dan berdesakan, aku baru sadar ada yang janggal dengan posisi bapak itu setelah bis berkurang penumpangnya, lha kok bapak itu masih aja nempel di lenganku, kan bisa geser tho pak! . Whewh! langsung aja aku protes ke muka bapak itu. Ikh sebelnya dia cuma senyam senyum mesum *mentolo tak kepruki* lalu melenggang turun bis. Haydegh!

Nah setelah itu aku mengalami beberapa pelecehan lagi, tapi tetap aja gak ngaruh kalo aku protes, marah, bahkan pernah kupukul pake payung yg selalu kubawa (payung lipat). Semuanya menampakkan ekspresi tidak bersalah plus senyum (yang lebih mirip menyeringai) mesum. *menjijikkan sekali*

Trus saat aku naik oplet, kejadian ini berulang lagi, laki laki yang duduk disebelahku tiba-tiba meletakkan tangannya di pahaku, serta merta aku menepis tangannya dan berkata dengan keras (dg gaya bahasa Pekanbaru)
"Kurang ajar kali kau, megang-megang anak orang! Kau kira aku binimu?!! Pikiran kau tuh dah busuk!"...eh tanpa rasa dosa dia njawab gini
"Ngapa pulak aku megang-megang kau, kau tu yang ingin kupegang", lalu para temannya tertawa *ikh najong tralala dwech!*

Kupikir tidak efektif meredakan orang orang seperti itu dengan protes, marah dan menatapnya dengan tatapan tak suka.
Aku harus mencari cara lain untuk "menyadarkan" sekaligus memberi pelajaran pada orang tidak beradab seperti itu.
Terpikir olehku membawa jarum pentul sebagai "senjata". Jarum pentul selain mudah dibawa, juga mempunyai efek mengagetkan jika tertusuk dan tidak meninggalkan luka serius.

Jarum pentul kusematkan di tas, nah saat ada cowok yang tangannya tiba-tiba dipinggangku, tanpa bicara aku menusukkan jarum pentul itu ke tangannya (dengan tanpa ekspresi dan tidak banyak gerak), tanpa kuduga cowok itu terkaget seperti kesetrum dan melepaskan tangannya dari pinggangku, lalu cowok itu berkata "Kak! baek-baeklah! jangan nusuk", dan dengan kalemnya aku bilang gini
"Kalo tangan kau tak ke badan aku, tak mungkin kau tertusuk, kau tengok aku mencucuk-cucukkan jarum ke mana-mana? (sambil memperagakan menusukkan jarum pentul ke suatu objek), makanya jaga tangan kau tu". Cowok itu diam aja.
Wehehe,...berhasil! berhasil!.
Aku terus mempraktekkan hal ini hingga Alhamdulillah aku mampu membeli kendaraan sendiri sebagai alat transportasi, namun sebatang jarum pentul masih juga tersemat di tasku *buat jaga-jaga kalau naik kendaraan umum*

HIDUP JARUM PENTUL!! 
»»  Baca Selengkapnya...

Just a Note



Before you talk, listen.
Before you react, think.
Before you spend, earn.
Before you criticize, wait.
Before you pray, forgive.
Before you quit, try.
Before you die, prepare Imaan..

Trus apa lagi ya?
tambahin sendiri deh
»»  Baca Selengkapnya...

Dosa Sosial

Tas yang kubawa sehari-hari (gak pake mahal)

Kalimat “dosa sosial” saya dapatkan dari sebuah tayangan talk show di televisi.
Saya tergelitik dengan kalimat ini, kemudian saya menerjemahkan dengan versi saya sendiri tentang makna dosa sosial. Dosa sosial adalah perilaku yang menafikan atau menghilangkan rasa down to earth , rasa empati dengan masalah sosial yang sedang terjadi di sekitar kita.

Ini adalah salah satu contoh dosa sosial :
Bulan lalu , tanpa sengaja saya melihat sebuah tayangan di televisi yang menampilkan artis tidak terkenal, yang dengan bangga mengatakan bahwa tasnya berharga 150 juta (itu harga tas sebiji!!), dan yang paling mahal berharga 800 juta. Demi mendengar pernyataan itu saya terkejut, bukan terkejut tentang harganya, tapi terkejut dengan ekspresi artis itu, bangga gitu kelihatannya.
Lalu tas seperti apa yang seharga rumah itu?, ternyata tas biasa, bukan tas yang mirip kantong ajaib Dora Emon, atau tas yang jika kita miliki maka kita akan dijamin bahagia dunia akhirat.
Saya sama sekali tidak kagum dengan pernyataan artis tidak terkenal itu. Saya membayangkan, apa yang akan dia rasakan saat menyandang tas tersebut, lalu didepannya melintas orang-orang gerobak (orang yang tidak punya rumah, lalu menjadikan gerobak sebagai rumahnya, yang bisa dibawa kesana kemari bagai siput membawa cangkangnya), merasa bersalahkah dia?

»»  Baca Selengkapnya...

Miss Universe Tidak Naik Motor di Siang Bolong

SUMPAH!!! ini bukan foto saya (walau mirip saya )

Perempuan di belahan dunia manapun menginginkan mempunyai fisik yang sempurna, kulit halus mulus, rambut tebal mengkilat, gigi putih bersih. Hal yang wajar bukan?, siapa sih yang tidak ingin tampak sempurna?.
Begitu pula saya.  Dengan kemampuan saya yang terbatas, saya mencoba semaksimal mungkin merawat tubuh, hingga mendekati seperti yang saya inginkan. Sebisa mungkin saya menghindari matahari siang, menempelkan masker ini dan itu yang dipercaya bisa meningkatakan kelembaban dan kelembutan kulit, luluran, minum jamu dan usaha lainnya.
Saya menganggap manusia wajib menjaga tubuh dan jiwanya sendiri, dan salah satu usaha menjaga raga adalah seperti tersebut diatas.

Namun dalam kenyataan hidup, ada banyak perempuan tak mampu menolak untuk menjadi tidak terawat. Saya melihat bagaimana seorang ibu 1 anak, mungkin usia 23-an tahun, tubuh dan wajahnya hitam legam, kusam. Ibu itu seorang pengumpul sampah plastik, yang setiap hari menyusuri jalanan berdebu dengan membawa karung besar sebagai wadah sampah plastik yang dipungutnya. Ibu tersebut memakai bedak dingin, sehingga wajahnya coreng moreng oleh bedak dingin, mungkin bedak itu luntur disana-sini akibat keringat.
Pemandangan tersebut saya lihat sebagai upaya ibu itu merawat kecantikan ditengah susahnya mencari sesuap nasi.

»»  Baca Selengkapnya...

Perempuan Harus Hemat dan Bertangan Seribu

-->

Seorang teman ngetweet begini  : “Laki-laki fokus di satu pekerjaan di satu waktu, dan perempuan melakukan beragam pekerjaan di satu waktu”.
Kalimat itu bisa benar, bisa juga tidak. Namun karena saya adalah seorang perempuan, maka saya hanya bisa menulis dengan pandangan saya sebagai perempuan.

Ketika pindah ke Pekanbaru (sebelumnya saya tinggal di Madiun, Jawa Timur), kami tidak mempunyai  pembantu. Hal ini dilakukan atas nama penghematan pengeluaran. Maka Almh mama membagi tugas pada saya dan abang. Saya bertugas menyapu rumah, menyiapkan peralatan makan saat waktu makan akan tiba dan harus bisa mencuci/setrika baju sendiri. Pekerjaan itu saya lakukan saat duduk di kelas 5 SD. Yang tadinya saya hanya mencuci/setrika baju sendiri, guna menghemat deterjen dan listrik, maka jadilah saya sebagai tukang cuci/setrika seluruh baju anggota keluarga (kecuali baju papa, karena berat dan besar).

»»  Baca Selengkapnya...

Mimpiku (bagian2)


Aku ingin punya kebun kecil di halaman rumah, sederhana saja, seperti ini, agar bisa menanam tomat dan selada, juga kemangi, makanan kesukaanku.



dan perpustakaan kecil di rumah, kira-kira seperti ini.

Sebenarnya gak persis kayak gini sih, pokoknya ada satu pojok ruangan  yang bisa kupakai leyeh-leyeh dengan di buku-buku di sekitarku. Gak mewah, hanya rak buku biasa saja, dipenuhi dengan buku-buku yang kugemari.
Pojok yang juga  bisa kupakai untuk bergelut dengan hobiku, menjahit dan membuat craft dari kain. Whooooooo *mbayangin* 

Mimpi yang sederhana.
tidak menyalahkan orang yang mempunyai mimpi besar, aku pun mempunyai mimpi besar yaitu bahagia dunia akhirat.
Namun kali ini posting mimpi "kecil" yang semoga terwujud  dalam waktu dekat.

Amin.
»»  Baca Selengkapnya...

Aku dan Sahabat

-->

Salah satu hal yang paling  kusyukuri dalam hidup ini adalah saat diperkenankanNYA untuk mempunyai sahabat-sahabat yang istiqomah berjalan di JalanNYA.
Dari beberapa sahabat, aku bisa mengambil banyak pelajaran, berbagi suka dan duka.
Seperti contohnya, sahabatku sejak masa SMU sampai sekarang. Yenti namanya. Aku mengenalnya saat pertama kali mendaftar sekolah di SMKK.
Saat kelas 1 kami satu kelas kemudian berpisah di kelas 2 dan 3.
Aku dan Yenti selalu masuk ranking 3 besar *tsaaah, nyombong*. Banyak cerita yang kami alami. Misalnya saat aku tergila-gila dengan guru PMP yang selain pinter, juga berwajah bak potomodel, Yentilah orang pertama yang mencium gelagat lebayku dan dia pula yang rajin mengirim informasi tentang “Pak PMP” tersebut. *(me)malu(kan) kalau mengingat masa itu*.
Aku juga sedih tiada tara saat Yenti yang memutuskan mengenakan jilbab lalu mendapat tekanan dari beberapa guru dan kepala sekolah (karena saat aku setingkat SMA, peraturan sekolah tidak membolehkan siswanya memakai pakaian dengan model berbeda dari yang telah ditentukan sekolah. Diawal tahun 90an memakai jilbab memang belum sebebas sekarang). Hampir setiap minggu dia dipanggil ke ruang kepsek, “dinasehati” agar tidak lagi mengenakan rok panjang dan kemeja lengan panjang. Belum lagi untuk beberapa mata pelajaran, dia tidak boleh mengikuti jika masih mengenakan jilbab. Yenti memilih keluar kelas, duduk di dekat jendela agar dapat mendengarkan penjelasan guru. *haduh jadi pengen nangis kalau ingat kejadian itu*

»»  Baca Selengkapnya...

Belajar dari Kuku yang Njengat


Maafkan saya duhai pembaca, jika ada dari pembaca yang tidak paham arti kata “Njengat”.
Njengat adalah bahasa Jawa yang menggambarkan keadaan tidak rata karena tidak tertutup sempurna atau terkelupas.
Begitu pula nasib kuku jempol tangan kanan saya yang njengat.
Hal ini terjadi saat saya sedang menyikat lantai ruang tempat cuci, nah kuku jempol saya secara tidak sengaja  terselip diantara celah sambungan ubin (yang mulai retak karena terkena obat peluruh lumut) dan saya yang tidak sadar bahwa kuku saya terselip di ubin, dengan semangat 45 mengerakkan sikat ke depan. Dapat dibayangkan betapa kaget dan sakitnya. Kuku yang masih manis menempel di daging, serasa dipaksa lepas.
Sakitnya bukan hanya di jempol saja, namun menjalar keseluruh tangan kanan hingga ke bahu.

Keadan seperti itu tentu mempengaruhi kecepatan kerja saya. Walaupun terasa sakit namun saya paksakan juga untuk bekerja.
Entah karena kuku yang njengat atau karena kondisi tubuh saya yang tidak fit, maka sekawanan penyakit nggreges (panas dingin), pilek dan panas dalam singgah ke tubuh.  Lengkaplah sudah syarat untuk memaksa saya istirahat, yang berarti tiduran seharian.
Whuaaaaaaaaaaa…… walaupun tidur adalah hobi saya, namun menjadi siksaan saat pekerjaan belum selesai. Bertumpuk kain yang harus saya bikin pola bajunya belum tersentuh, tugas mengajar juga terganggu, tugas domestik rumah tangga juga tak dapat saya lakukan dengan baik. Bahkan untuk membalas SMS pun kesulitan (karena saya hanya mengandalkan jempol tangan kanan utk memencet keypad).
»»  Baca Selengkapnya...

Motivator KW 13

-->
 Setiap kali saya berhenti di lampu merah simpang empat Pasar Pagi Arengka, saya menghabiskan waktu menunggu lampu hijau dengan membaca banner/iklan yang banyak  disangkutkan pada tiang lampu merah atau pagar pembatas jalan.
Yang paling menarik adalah banyaknya iklan untuk menghadiri seminar yang ditujukan untuk memotivasi diri, yang tentu saja menghadirkan motivator terkenal maupun  tidak dikenal *.
Ada iklan seminar sehari memotivasi diri menjadi wirausaha dengan tanpa modal uang, ada juga iklan meningkat kepercayaan diri, seminar bagaimana membentuk anak penghafal Al Quran dalam “sekejap” dan seambreg iklan lainnya.

Saya amati, akhir-akhir ini banyak sekali muncul sosok motivator-motivator dadakan dan karbitan yang menawarkan berbagai solusi menghadapi kehidupan dengan cara bijaksana.
Sesungguhnya jika kita cermati, ada banyak motivator “berkeliaran” di sekitar kita. Mereka adalah orang-orang tanpa label “Motivator”, namun sesungguhnya mereka membawa pesan bijaksana.
Sebagai contoh : Saya punya sahabat sekaligus patner kerja yang saya anggap sebagai motivator, hanya karena dia senantiasa mengatakan “Nikmati saja rejekimu hari ini”.
Ini sering kali dia katakan saat saya mulai mencela rasa makanan yang tak sesuai dengan lidah saya. Baginya, pantang mencela makanan yang halal dan baik. Begitu makanan terhidang, maka dia akan memakannya dengan tenang.
Sementara saya?, jika makanan itu terasa tak enak, walau tak basi, maka mulut ini sepertinya otomatis akan mengatakan “Gak enak” *kok kayak iklan mie instan aja ya?*.
Namun penjelasan dia yang singkat itu mampu membungkan mulut saya hingga sekarang untuk tak lagi mengatakan “Gak enak”. Itu saya lakukan setelah “mengurai” makna kalimat “Nikmati saja rejekimu hari ini”.
»»  Baca Selengkapnya...

Berdoa Agar Ibu Tidak Menghipnotis Saya

Siang itu aku bergegas memacu motorku menuju Omah Ilmu, sebuah rumah penuh buku, dimana aku dan beberapa teman yang tergabung dalam satu komunitas peduli dengan tata ruang kota Pekanbaru berkumpul. Di tengah perjalanan, seorang ibu (berusia kira-kira 50 tahunan) melambaikan tangannya padaku yang sedang melintas di jalan raya. Aku segera menepi dan menghentikan motorku. Aku tahu maksud ibu tersebut pastilah ingin menumpang. Hal serupa sering kualami, kadang justru aku yang menawari untuk memboncengkan perempuan (hanya perempuan ya, kalau laki-laki gak berani ) yang kulihat berjalan  menuju/di perumahan (karena kan angkot dilarang masuk dalam perumahan). Sebelum ibu itu membonceng, aku bertanya padanya, kemana tujuannya, dia hanya menjawab “Sampai simpang aja nak” (maksudnya sampai simpang lampu merah pertama yang kami jumpai). Biasanya jika lokasi yang dituju sang “penumpang” tak jauh dari lokasi yang kulewati (walau kadang harus berlawanan arah) aku rela mengantarnya (tapi kalau jauh ya gak kuantar sampai di tempat).
»»  Baca Selengkapnya...

Aku dan Mimpiku (bagian 1)


Dalam beberapa postingan di blogku ini aku ingin menceritakan beberapa mimpiku (baca : harapanku).
Namun kali ini aku ingin berbagi (baca : bercerita) tentang “Mimpi serial”ku. Mimpi yang benar-benar mimpi *ikh bahasanya mbuled akh*, bukan mimpi dalam arti harapan atau keinginan. Maksudnya aku akan bercerita tentang mimpi dalam tidurku yang kurasa kok seperti sinetron Tersanjung yang episodenya sampai 200.

Mimpiku ini (sepertinya) berawal pada bulan Desember *perlu diketahui, aku jarang sekali bermimpi saat tidur*.
Seperti biasanya, sepulang mengajar privat pukul 21.00, masuk rumah, mandi, oleskan krim malam anti aging *tsaah*, baca buku sebentar, lalu ketiduran *ngorok*, dan terbangun sekitar pukul 2 dini hari. Nah sebelum terbangun itulah aku bermimpi *ya iyalah, mimpi kan pas lagi tidur*, mimpi tentang sebuah rumah yang aku gak tau itu rumahnya siapa. Udah gitu aja. So aku gak terlalu menganggap aneh mimpi tersebut. Beberapa hari kemudian aku bermimpi tentang rumah itu lagi, kali ini aku melihat beberapa orang keluar dari rumah tersebut, tapi tetap aja gak tahu siapa saja orang-orang yang keluar dari rumah tersebut. Yo wes, berlalulah mimpiku itu seperti angin berhembus. Eh lha kok keesokan harinya aku mimpi rumah itu lagi, lagi dan lagi. Walau tak setiap hari aku bermimpi tentang rumah dan penghuninya itu, tapi mimpi itu yang sering  kali hadir dalam tidurku.
»»  Baca Selengkapnya...

Jins Kesayangan

Hai teman-teman, apa kabaaaarr?..bertemu lagi dengan saya di sini. *lebay*
Setelah sekian lama tidak posting, sekarang saya posting, mengapa saya posting?, ya karena saya ingin posting, kalo ingin berenang kan gak disini.

Gini lho teman-teman, saya ingin cerita tentang celana jins kesayangan saya, sungguh celana ini walau dari jenis jin, tapi tidak ada hubungannya dengan jin Ifrit, jin Tomang maupun jin Botol (baik botol kecap atau saos)
Celana jins ini sudah menemani saya selama berabad-abad (baca : bertahun-tahun), kalau tidak salah sudah 8 tahun (atau lebih bahkan). Celana jins ini  saya beli seharga Rp.80.000, harga termurah untuk celana jins yang saya punya. Karena saya memiliki tinggi tubuh yang semampai laksana potomodel *kalimat terakhir boleh diabaikan* agak sulit untuk menemukan ukuran jins yang pas dan enak dipakai, selalu saja panjang celananya bermasalah, tidak sesuai dengan panjang kaki saya, jadi saya selalu membeli jins dengan merk tertentu yang harganya cukup mahal.
Nah saat melihat ada jins yang panjang kakinya sepertinya cukup untuk membalut kaki saya, segera saja saya dekati, saya pegang dan saya coba, namun sayang, ukuran pinggangnya terlalu besar, namun ukuran panggulnya pas. Terpaksa saya membongkar kembali celana jins ini untuk mengecilkan bagian pinggangnya.

Karena sering dipakai, maka tak ayal lagi jins ini terlihat belel dan bagian lututnya robek duluan, tapi dengan sedikit daya kreatif saya tambal bagian yang robek tersebut dengan rajutan yang dipadu dengan pita
Lalu....jerenjeeenjeeeng...inilah wujud celana jins kesayangan saya...

Wujud celana jins kesayangan


Detail Aplikasi
»»  Baca Selengkapnya...

Kemudian Aku Meleleh

Pagi ini aku sudah di depan laptop, menuliskan segala kegundahan dan kejengkelanku.
Hampir saja tulisan itu kupublish, namun tiba-tiba ada beberapa baris tulisan dari orang yang begitu kukagumi dan kuhormati muncul di media sosial.
Yang terjadi aku menyimpan tulisan yang sudah siap publish tersebut di dokumen laptop.

Aku selalu kehilangan kata-kataku jika sudah berhadapan dengan orang ini.
Sejatinya tulisan ini kutujukan pada beliau, namun ternyata bahasa hatiku tak mampu kujelaskan dengan kalimat.
Lalu, kenapa juga masih saja menulis di blog jika gak tau apa yang akan dituliskan?.
Aku berterus terang disini, aku menjadi kuat karena beliau. Hormatku pada beliau, melebihi kedatangan beliau di dini hari, saat aku sedang sakit.
Kuproklamirkan disini, aku meleleh karena beliau.
Entah diujung mana kita berakhir, tapi berjalan bersamamu memberiku kekuatan akan kejujuran rasa.
Sekian
»»  Baca Selengkapnya...
Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa