Saya Memang Pembantu Rumah Tangga

Saat menulis postingan ini, saya sangat bersyukur pada Allah yang telah menganugerahkan kedua orang tua yang hebat, yang mampu mengajarkan pada saya untuk menjadi pribadi yang lebih menghargai isi daripada bungkus. Yang mengajarkan untuk tidak perlu mengada-ada demi meningkatkan citra positif di mata orang lain. Orangtua yang mengajarkan tidak perlu mengemis perhatian orang lain. Sibuk mencari perhatian orang lain, sibuk agar diri kita dihargai/dipuji orang lain menyebabkan kita kehilangan waktu dan keikhlasan.

Saya lupa kapan tepatnya saat saya dipertemukan dengan seorang gadis hitam manis, dengan senyum yang selalu menyungging di bibirnya.
Saat itu komunitas kami (Blogger Bertuah) mengabarkan akan ada seorang tamu dari negeri jiran, Malaysia, yang akan mengadakan kunjungan ke Pekanbaru, dikabarkan dia adalah seorang penulis.
Saat dia berkunjung ke Pekanbaru itulah pertama kalinya kami bertemu. Kesan pertama saya, biasa aja, tidak ada yang istimewa darinya.  Gadis ini benar-benar tidak memberi kesan apapun di memori saya, kecuali dia datang dari luar negeri. Sudah itu saja, tidak lebih tidak kurang.
Bisa jadi saya tidak mempunyai kesan apapun darinya karena saat itu walau telah berjumpa, namun kami tidak bicara secara pribadi.  Saya pun tidak bisa mendengar suara lirihnya yang ditelan gemuruh musik di Food Court Mall Pekanbaru,tempat pertemuan kami. (soalnya dia duduk berjauhan dengan saya)

Satelah beberapa bulan berselang, saya baru bisa bicara secara pribadi dengannya, itupun lewat dunia maya, kemudian beranjak membaca tulisannya di beberapa situs. 
Membaca tulisannya layaknya membaca sebuah buku harian seorang  gadis kampung (tidak pakai “an”), lugu namun mempunyai keinginan kuat untuk maju.
Karena tertarik dengan kisah hidupnya, saya pun mengamati gadis ini lewat tulisan-tulisannya. Dan akhirnya saya terdampar dalam kekaguman padanya. Saya memberi hormat pada orang-orang seperti ini. Orang yang tidak hanya sekedar bicara, orang yang gigih menggapai asa, orang yang tidak perlu membuktikan apapun pada orang lain kecuali pada dirinya sendiri *angkat topi untuk orang-orang seperti ini*.

Gadis hitam manis itu adalah seorang PRT (Pembantu Rumah Tangga, kini sebutannya sudah berubah menjadi PLRT : Penata Laksana Rumah Tangga). Sebuah profesi yang direndahkan di masyarakat. Jujur saja, berapa banyak sih orang yang bangga punya teman seorang pembantu?. Jika punya teman seorang kepala sebuah instansi, maka begitu nama itu disebutkan,  buru-buru kita mengatakan, bahwa kita mengenalnya. Malah kadang dibumbui betapa akrabnya kita dengannya, padahal cuma kenal nama saja, orang yang dibicarakanpun mungkin tak mengenal kita.
Tapi seperti yang telah saya katakana diawal, saya tidak peduli dengan profesinya, selama profesi itu halal.
Saya mulai akrab dengan gadis ini, awal-awalnya sih ni anak garing banget. Bisa jadi dia berhati-hati bicara karena belum tahu siapa saya.Syukurlah sekarang dia sudah agak basah (maksudnya gak garing lagi).
Saya banyak belajar darinya, belajar bagaimana sebuah ide tidak hanya berhenti hanya pada paparan ide saja. Bagaimana sebuah ide harus diperjuangkan untuk terwujud.

Anazkia, begitu nama panggilannya, yang telah menginspirasi saya untuk lebih gencar menulis demi azaz manfaat. Maksudnya menulislah agar bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Betapa saya malu padanya, dia yang tinggal nun jauh disana, dia yang menyandang profesi yang direndahkan orang lain mampu menggerakkan teman-teman untuk mengumpulkan buku bagi adik-adik kita di Papua. Doh..saya sendiri yang tinggal di Indonesia, dimana Papua itu satu pemerintahan dengan tempat dimana saya tinggal malah tidak tergerak untuk berbuat hal tsb. Saya yang tidur bersama tumpukan buku, tapi tak juga berinisiatif untuk berbagi dengan apa yang saya punya.
Saya malu, dan saya belajar dari rasa malu itu.

Anaz ini seorang penulis, salah satu bukunya telah saya baca, disamping berpuluh-puluh tulisannya di dunia maya (salah satu blognya ini )
Anaz, pembantu yang tidak gaptek dengan komputer, internet dan media sosial.
Anaz yang penampilannya tetep begitu-begitu juga. Yang tidak ingin rambutnya di cat pirang, pakai sepatu hak 7 cm, tas bermerk (walau KW3), atau setidaknya pakai lipstik deh (jangan harap dia mau keriting bulu mata), mampu membuktikan bahwa orang itu bisa dihargai karena karyanya, karena manfaatnya bagi orang banyak.
Maaf, saya pernah berjumpa dengan pembantu yang bekerja di Hongkong, yang saat pulang ke Indonesia, yang berubah hanyalah gayanya saja. Tiba-tiba dia berambut pirang (tidak salah kok berambut pirang, bahkan saya pernah mengecat rambut saya warna ungu), lipstik merah menyala, blus ketat, rok mini. Tapi kelakuannya masih tetep sama, pun ilmunya.  Gayanya ini yang memancing orang untuk komentar
“Oalaaah, wong  mung pembantu ae kok gayane koyok artis dangdut”.  Sungguh saya tak ikut berkomentar seperti itu, walau menyayangkan,  jauh-jauh bekerja di negeri orang  tapi yang berubah hanya penampilannya saja.
Dunia memang selalu saja menawarkan dua sisi yang berseberangan. Disaat saya kagum dengan kemampuan Anaz, ternyata ada juga orang yang melihat ini sebagai ajang pamer.
Begini maksudnya, Anaz pernah berkata pada saya, dia tak berkeberatan dipanggil pembantu, tapi disaat dia menurunkan sebuah tulisan yang mengatakan dia adalah seorang pembantu yang terus ingin belajar, eh ada yang berkomentar miring. Seolah-olah Anaz pamer pada khalayak ramai untuk dapat pujian, 
“Aku nih pembantu yang oke, biar hanya pembantu, tapi pegangannya internet”
Wallahu’alam, saya tidak bisa menduga isi hati seseorang, yang bisa saya nilai adalah yang tertangkap oleh panca indera saya. Saya tidak berani menuduh hanya berdasarkan kata hati, karena kata hati kadang tak bisa dibuktikan secara nyata.

Tulisan ini saya sajikan agar kita tak lagi merendah satu profesi, bukankah kita juga butuh orang-orang dengan segala profesinya?. Selama dia mengerjakan tugasnya dengan baik, kita layak menghargainya.
Dan saya yakin, anaz juga tak bercita-cita sebagai pembantu awalnya, namun perjalanan hidup mengantarkannya singgah untuk menjalani profesi itu.

Salam manis buat Anaz, kapan mau mbantuin saya belajar menulis?

18 komentar:

  1. saat ini, saia membutuhkan tenaga kerja untuk rumah tangga saia, keberadaan mereka sangat membantu kinerja dan pekerjaan saia saat di rumah :)

    BalasHapus
  2. mas @gajah_pesing > bisa hubungi saia mas..saia penyalur tenaga kerja untuk rumah yang ada tangganya

    BalasHapus
  3. Subhanallah... aku baru tau ternyata Anaz yang dimaksud yang ini? bukan kaget negatif, tapi aku salut. Anaz patut jadi contoh bagi wanita-wanita lainnya. termasuk aku, nice post kaka. salam buat Anaz yaa

    BalasHapus
  4. @yangmira> terima kasih kaka :)
    kebetulan aku sering ngrusuhi dia, jadi cukup kenal dgn Anaz. Salamnya biar dibaca sendiri ma Anaz, paling ntar malam dia online. :D

    BalasHapus
  5. tertipu nih, jadi terdampar disini deh #sos #sos nice post anywei :D hitam diluar putih di dalam atau hijau diluar putih didalam (pasta gigi)

    BalasHapus
  6. kang Chandra Iman > wakakak...*binun mau komen gemana lagi?

    BalasHapus
  7. haiyah....
    Ini nulisnya ada yang dilebih2kan ini.
    Anaz yo isin, nek arep nulis sampeyan kan yang gemblung ajah, lah ini kok malah nulis Anaz yang lurus2 begini *doh

    Isin aku
    #menundukmalu

    BalasHapus
  8. mbak anaz memang hebat, saya salut sekali sama mbak. :)

    #meskipun saya tidak kenal, tapi dari setiap tulisannya mbak anaz saya dapat banyak pelajaran.
    terimakasih.. :)

    BalasHapus
  9. iya, aku kenal mbak anaz juga dari blognya mbak, ini tadi dari blognya mbak anaz langsung kesini. hwehehehehe

    BalasHapus
  10. sekalian aza gan bikin novelnya buat sahabat gan ini,,salalm kenal

    BalasHapus
  11. seseorang yang tidak disangka emang bisa dapat jadi inspirasi,kunjungi saya juga ya

    BalasHapus
  12. memang begitu kebanyakan, coba saja teman lawas, yang punya pangkat/jabatan tinggi pasti disebut2 terus, sangat berbeda intensitasnya dengan teman2 yang tidak berpangkat. entahlah, manusiawi ini namanya?

    tapi sewajarnya sih kita memang tidak membeda2kan siapapun, karena kita pun tak mau 'kan kalau diperlakukan demikian, profesi dan latar belakang pendidikan menjadi sangat tidak penting bila bertolak belakangan dengan budipekertinya :)

    Dan dengan ini saya doakan semoga Anaz tetap rendah hati, serta berhati2, di tengah derasnya hujan pujian, senantiasa sedia menahan datangnya badai fitnah ... naudzubillah :)

    BalasHapus
  13. @Anaz > yach sekali2 memujilah, gak terus2an membullymu
    @obat tradisional kanker usus, Obat Herbal Penyakit Glaukoma, Cara Cepat sembuhkan penyakit Jantung > terimakasih :)
    @vie_three >heheh iya anaz "balas dendam", nulis ttg aku..
    @nicamperenique > Amin doanya.
    yup gak blh sombong, liat kerjaan org lain, lalu merendahkannya. selama pkrjaan itu halal, gak ada yg blh merendahkannya.

    BalasHapus
  14. assalamu'alaikum.....
    bu....saya salah satu peserta yang ikut pelatihan di telkom...ibu narasumbernya..
    thanks banget atas ilmunya y...
    kapan-kapan boleh nanya tentang internet lagi..?

    BalasHapus
  15. assalamualaikum..bu, kami peserta latihan , lihat judulnya tertarik aja tapi belum di baca, ya semoga tidak pembantu betulan tapi yang lain.trims

    BalasHapus
  16. semangat berbagi... itu yang terpenting... saiia suka :)

    BalasHapus
  17. headermu apik mbakkk *penting*

    BalasHapus
  18. @izzuddin > terimaksih pak, smg pelatihannya bermanfaat ya.
    @Belajar Photoshop > Terimakasih
    @Jeng Anna > huakakakak...pasti dirimu gak percaya klo itu aku yang bikin (ya mmg harus tdk percaya)

    BalasHapus

Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa