Gaji Suaminya Sedikit kaleee


Bertemu kembali dengan teman yang telah sekian lama tak bersua, selalu saja menyenangkan hati. Ingin tahu beritanya, melihat segala perubahannya, dan yang paling sering mengenang saat masih bersama.
Pertanyaan pertama di saat kita berjumpa teman lama biasanya, dimana domisilinya sekarang?, kemudian disusul dengan pertanyaan, anaknya sudah berapa?, masih kerja di tempat lama? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saat berjumpa kembali, kita juga bisa melihat perubahan fisik dan gayanya.
Nah, suatu kali saya mendengar teman yang nyletuk, “Gaji suaminya kecil kaleee”, saat melihat teman lama kami yang kini tampilannya berubah. Dia yang dulu kulitnya putih, kini terlihat cukup gelap dengan raut wajah yang terlihat capek. Busananya juga terkesan kusam karena (sepertinya) sudah sering dipakai, sampai warna kainnya mbladus (pudar & terlihat kotor).

Kita memang cenderung gampang melontarkan komentar atas apa yang kita lihat dan dengar.
Padahal tidak semua harus dikomentari bukan?, dan tidak semua komentar harus di verbalkan.
Selain agak terkejut demi mendengar celetukan teman, saya juga mikir, kenapa sang komentator begitu gampangnya menuduh gajinya suami teman tersebut kecil?
Ternyata benarlah apa yang disebutkan dalam ajaran agama saya, bahwa masing-masing dari pasangan adalah “pakaian” bagi pasangannya. Pakaian berfungsi menutup yang seharusnya memang mesti ditutup, selain itu juga berfungsi sebagai identitas.
Pakaian sebagai sebuah identitas dapat kita ketahui saat seseorang mengenakan pakaian model tertentu atau seragam tertentu. Kita akan dengan mudah menebak profesi seseorang sebagai satpam jika dia mengenakan kemeja putih, celana dongker (blue black) dengan model tertentu.
Perempuan yang memakai jilbab, maka dapat dipastikan dia adalah muslimah, karena umumnya yang memakai jilbab adalah muslimah. Walaupun ini juga tak selalu benar. Adalakanya pemakaian  jilbab merupakan suatu aturan di suatu tempat, tak pandang apakah dia muslimah atau tidak. Namun bolehlah disebut bahwa jilbab adalah identitas ataupun pembeda perempuan muslim dari yang lainnya.

Jika seorang istri diibaratkan sebagai pakaian bagi suaminya, maka wajib hukumnya agar istri menampilkan citra yang baik bagi suaminya sehingga memperkecil peluang untuk “dihinakan”.
Seperti contoh kasus diatas, dengan mudah tuduhan suaminya bergaji sedikit meluncur dari mulut seseorang, bisa jadi karena dipikirnya suami teman tersebut tak mampu membelikan pakaian yang lebih layak dari pakaian yang sudah mbladus.
Memang setiap individu tak bisa seenaknya sendiri berlaku, selalu saja harus mempertimbangkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang harus patuh dengan aturan karena status sosial yang disandangnya, ada pula yang harus meredam keinginannya karena jika dilakukan akan berdampak tak baik bagi yang lain. Namun diatas semua aturan yang membatasi, yang paling aman adalah memakai patokan AturanNYA sebagai “peta” hidup, sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan.
Mungkin baju mbladus itu nyaman dikenakannya.
Meskipun kita paham, tak patut menilai orang hanya dari pakaian yang dikenakannya, namun keseharian kita mengajarkan, bahwa kesan pertama adalah kesan yang tertangkap oleh panca indera. Sebelum kita mengenal orang lain, kita terlebih dulu membuat gambaran orang tersebut berdasarkan apa yang terlihat dan terdengar. Bagaimana pakaiannya, bagaimana intonasi suaranya, bagaimana gerak tubuhnya, bagaimana pandangan matanya dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Kembali lagi ke teman berpakaian mbladus tadi, usut punya usut ternyata tuduhan bahwa suaminya bergaji sedikit itu salah lho.
Kulitnya yang dulu putih kini menjadi gelap bukan karena dia tidak mampu beli lulur, tapi karena kini dia menggunakan motor sebagai alat transportasi, dulu dia menggunakan angkot. Kalau angkot kan ada atapnya, jadi lebih terlindung dari panas, beda jika memakai motor, bagian tubuh yang tak tertutup akan cepat menghitam karena paparan matahari *pengalaman pribadi*.
Lalu wajah yang terlihat lelah, itu disebabkan kini aktivitasnya meningkat, selain mengasuh anak, dia juga masih bekerja. Kalau dulu saat kami bertemu kan belum mempunyai anak. Selain bodinya telah berubah karena melahirkan, tentulah aktivitasnya bertambah dengan mengasuh anak. Yang belum pernah mengasuh anak, cobalah barang setengah hari saja mengasuh balita sendirian, capeknya melebihi capek nyuci, setrika, masak. Percaya deh

Jadi ternyata tampil layak itu wajib ya sodara-sodara (deskripsikan sendiri kata “layak”nya ya).
Tidak hanya bagi wanita, tapi juga bagi pria. Jangan sampai menerima tamu dengan memakai kaos dalam, pergi kemana-mana dengan jaket butut yang nyucinya hanya setiap bulan purnama atau pergi kemanapun pakai sandal jepit. Senyaman-nyamannya sandal jepit, itu tak layak jika dipakai ke kondangan.

So, *nih wajib dibaca para suami*, jika istrinya minta biaya perawatan tubuh dan wajah, jangan pelit-pelit ya. Itu bukan hanya berguna bagi sang istri, tapi juga berguna menjaga (bahkan mendongkrak) citra suami.
Kok tulisannya terkesan “membela” wanita?, hehehe… saya kan wanita, belum pernah dan tidak ingin menjadi pria, jadi saya menulis ya dari sisi kewanitaan .
Begitulah pendapat saya, anda punya pendapat berbeda?, berbagi yuk.

Wallahu a’lam bishshawab

14 komentar:

  1. menyimak, terutama paragrf terkhir #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. setelah disimak, diparaktekkan dengan segenap keikhlasan ya mas

      Hapus
  2. hmm ... kayaknya yang penampilannya mbladus itu seperti saya deh :D tapi saya sih gpp dikira suaminya bergaji kecil, dan kami pun dengan cueknya keluar masuk restoran sekedar makan siang/malam. sekali 2 memang sih ada tatapan orang yang agak gimana gitu, tapi cuek saja. Yang penting mampu bayar! kebetulan pula kami adalah pasangan yang belum punya momongan jadi kemana2 kayak orang pacaran aja hehehe

    apalagi suami saya bukan tipe laki2 yg senang melihat istrinya dandan, yang penting rapi dan bersih. kalau berdandan dengan make up walau tipis pasti diprotes, disangka mau pamer kecantikan di luar sana hahaha ...

    jadi saya kira, introspeksi kembali diri kita saja, agar tak mudah menilai orang lain itu begini dan begitu :) karena tak semua seperti tampak luar :D

    BalasHapus
  3. opsss jadi postingan sendiri tuh komennya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha ini dah dijawab sendiri...dan sama dengan postingan saya >> yang penting rapi dan bersih

      Hapus
  4. kemarin aku pake baju koko dan pake peci, terus ditanyain "pak kaji mau kemana"

    dan sekarang untuk model dan panampakan ABG hampir sama semua,
    eh komenku OOT ya? bhehehe emang kok punya pasangan kudu dirawat luar dalem *benerin peci*

    BalasHapus
    Balasan
    1. apah??? benerin panci? *tambah OOT*

      Hapus
  5. setuju ah kalo wanita perlu mempercantik diri.. tp jgn sampe kejadian kyk keriting bulu mata itu kali ya mbak.. hiihih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. whaaaaaaa...enggak mbak, kapok keriting bulu mata...jadi mrebes terus, kayak orang sakit mata

      Hapus
  6. Setuju Nov, harus tampil layak buat dongkrak citra suami...qiqiqiqi...#meluncur ke salon#

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waini...contoh istri yang sangat menjaga penampilan dan bentuk tubuh..hehehe, lebih dari itu semua tujuannya adalah SEHAT ya mbak. terimakasih suah menginspirasiku untuk giat berolahraga.

      Hapus
  7. hahahah bisa ini di catet buat di liatin ke calon suami, eeh tolah toleh calon suaminya mana yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha,,,yang penting di catet dulu say, urusan jodoh kan kita gak tahu kapan datangnya :)

      Hapus

Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa