Sekarang dan Selamanya

Sangat menyenangkan mempunyai teman-teman yang selalu ada saat kita butuhkan, bahkan ketika kita tak butuhpun dia ada.
Alhamdulillah saya dikelilingi teman-teman yang senantiasa mengingatkan untuk menjadi lebih baik. Seperti pagi tadi, saat saya membuka message di internet, seorang teman mengingatkan saya, bahwa saya punya kewajiban untuk membagi waktu dengan baik. Saya pikir, hanya orang-orang yang pekalah yang mampu membaca kerisauan orang di sekitarnya. Bisa jadi teman saya itu melihat bahwa saya sudah terlalu jauh meninggalkan kewajiban saya.

Rutinitas hidup yang keras dan penuh persaingan duniawi seringkali menggeser keinginan untuk mengejar pahala, surga dan investasi akhirat.
Dan ini memang saya rasakan. Bukan hanya pekerjaan yang memudarkan kegiatan-kegiatan ruhiyah, namun juga kesenangan. Saya bisa seharian tidak tidur hanya untuk chatting dengan teman. Dalihnya sih membantu teman yang sedang curhat, tapi apalah artinya waktu 30 menit untuk mengerjakan 2 rakaat sholat malam dan ngaji satu lembar dari ratusan lembar dalam Al Qur’an dibanding chatting selama 5 jam ?. (eh ini tidak ngomong soal agama ya, ini karena saya beragama Islam, maka contoh ibadah itulah yang bisa saya tuliskan disini)
Kebetulan saya bukan penikmat game di komputer atau internet, juga bukan penikmat sinetron. Jadi saya tidak terganggu oleh rayuan 2 kesenangan itu. Namun saya melihat ada banyak orang yang merelakan waktunya berjam-jam setiap hari untuk bermain game atau menonton tayangan tak bermanfaat.
Jika mau sekali saja kita memilah aktivitas yang bernilai ruhiyah dan aktivitas tak bermanfaat alias mudharat, maka bisa saja bejana aktivitas tak bermanfaatlah yang terisi penuh, sementara yang bermanfaat dan bernilai ruhiyah hanya sedikit. Itu pula yang terjadi pada saya. Bejana mudharat ternyata lebih banyak isinya daripada bejana dengan isi aktivitas ruhiyah.

Terhentinya amalan kebaikan atau bahkan sekedar menurunnya semangat beramal salih dalam khazanah Islam disebut futur.
Dalam bentuk yang paling ringan futur menjelma dalam bentuk kemalasan, berlambat-lambat untuk berbuat baik dan bentuk yang terberat adalah terhentinya aktivitas beramal salih.
Futur tidak pandang bulu, dapat menyerang siapa saja.

Kuatnya pengaruh lingkungan.
Perilaku seseorang amat dipengaruhi oleh tuntutan diri dan tuntutan lingkungannya.
Karena manusia adalah anggota suatu lingkungan masyarakat, maka standar yang muncul dalam suatu lingkungan akan memicu seseorang untuk menyesuaikan dirinya dengan standar tersebut.
Bila standarnya tinggi maka seseorang akan berusaha memicu dirinya sesuai dengan standar tinggi, dan begitu pula sebaliknya.
Kuatnya pengaruh lingkungan Ini juga telah disebutkan dalam hadis shohih, yang meminta kita untuk berteman dengan orang-orang salih.
Walaupun keimanan seseorang itu tak selamanya stabil, kadang naik, kadang turun, namun diharapkan dengan dikelilinginya kita oleh para salih, akan mampu mengembalikan kita pada standar yang dicanangkan.

Beginilah yang saya alami, ketika saya mulai menjauh dari teman-teman yang konsisten untuk terus menambah amalan ruhiyahnya, maka pelan namun pasti saya mulai tenggelam dalam hal-hal keduniawian.
Ketika ada teman yang menanyakan, “Kok jarang muncul di pengajian, sibuk ya?”,  maka si setan yang selalu sibuk saat manusia beribadah mengilhamkan pada saya untuk menjawab, “Ngaji kan gak hanya di pengajian” atau “Bekerja kan juga beribadah”. Nah, setan memang piawai membuat yang menjadi bingung. Namun pengalaman saya mengatakan, diam sejenak mendengarkan kegelisahan hati,  mampu mengantarkan kita pada jawaban-jawaban indah dan Insya Allah benar. Jawaban dari nurani.
Selayaknya upaya untuk salih dilakukan sekarang dan selamanya.

Wallahu’alam



4 komentar:

  1. saya merasa lebih nyaman bertemu dengan teman2 sekarang dibandingkan dulu saat berbarengan dengan satu gerakan, saya tidak nyaman dan merasa terbebani. Pun jika akhirnya kesannya berurusan dengan hal2 sekarang sepertinya jauh dengan sang khalik, tergantung kita... apakah sholat dan ibadah2 kita sudah terjaga? Bahwa konteks kualitas seseorang tak hanya dilihat dari luar saat berinteraksi...namun saat melakukan hal lain dengan alami dan hubungan dengan manusia.
    Beberapa kali sy terhubung dengan gerakan, saya merasa mereka baik namun terlalu ekslusif di beberapa hal. Tak satu atau dua gerakan yg pernah saya "cicipi' sebagai pencarian akan ruhiyah saya. namun setelah saya tercebur saya malah merasa hampa dan tidak merasakan kenikmatan beribadah seperti semasa saat saya SMA, saya sudah terbeban karena sebagian gerakan sudah tak lagi utuh.
    Sekarang saya malah happy dan menganggap bahwa yang dilihat sekarang tak hanya urusan duniawi, meski secara kasat terlihat sangat duniawi...
    Jika akhirnya melakukan interaksi dengan internet membuat kita akhirnya futur, manajemen waktu kita yang salah...jika akhirnya bertemu dengan teman2 yang beberapa prilakunya tidak baik kita ikutan juga tidak baik, berarti ada yang salah dengan kita....saya punya komitmen awal jika bertemu dengan perilaku2 yg tidak sesuai. Berat? saya malah enjoy karena saya masih komitmen dengan diri saya.
    Satu lagi!
    Saya malah enjoy dengan pengajian non gerakan, kajian2 yg dibawakan ustadz tanpa ada embel2 gerakan tertentu...karena itu murni! betapapun jika dalam dakwah perlu pengorganisasian yang matang, namun saya melihat gerakan itu tak lagi murni..ada poltik dan kepentingan lain yg terselip.
    Kadang kita merasa kabur bahkan takabur ketika menambah amalan ruhiyah dengan mengikuti pengajian, saya berprinsip belajar dengan siapa saja tentang makna hidup itu lebih mengena. Belajar secara kontekstual lebih dapat saya rasakan dibandingkan hanya dijejali teori dakwah yang mungkin si pendakwah belum menjalani...
    ilmu itu luas, menambah amalan ruhiyah dan rasa syukur pada Allah dapat dilakukan dengan membaca alam dan isiinya. Bukan saja membaca bukan hanya konteks fisik dengan buku.
    Salam...

    BalasHapus
  2. @slam >apanya yang "kalau"?

    BalasHapus

Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa