Ember Bukan Sebagian dari Iman (Tempat Transit)

“Mbak, tolong lihat inbox”
“Mbak lagi sibukkah sekarang?”
Dua kalimat diatas adalah isi sms yang sering dikirimkan teman yang ingin curhat.
Menjadi tempat curhat adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Selain saya merasa mereka percaya pada saya untuk tidak ember (ember adalah sebutan bagi orang ang suka membocorkan rahasia), juga melalui curhat mereka, saya bisa banyak belajar.
Saya mengibaratkan diri sebagai tempat transit, tempat dimana seseorang berhenti sejenak untuk menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Ada banyak macam curhat yang sempat mampir kepada saya.
Ada yang curhat tentang hubungan dengan keluarganya yang tak harmonis, ada istri yang curhat tentang kelakuan suaminya, ada juga yang curhat tentang ulah tentangganya, bahkan ada juga yang curhat tentang perekonomian mereka. *curhat yang terakhir, saya tidak bisa banyak membantu*
Sebagai mahluk sosial, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya, dan saya sadar  tidak semua manusia berpikiran sama, menganut nilai-nilai yang sama dan mempunyai tujuan yang sama dengan kita. Perbedaan inilah yang kadang kala menimbulkan konflik apabila tak dijembatani dengan komunikasi yang baik dan lapang dada menerima perbedaan.

Tidak semua curhat perlu nasehat, adakalanya teman yang curhat hanya ingin didengar saja tanpa harus dikomentari atau dinasehati.
Sungguh, saya bukan orang yang pandai, apalagi sampai menasehati layaknya seorang psikolog, biasanya saya hanya mengatakan pendapat saya, bahkan seringkali saya tidak dapat memberikan solusi apapun kecuali mengatakan
"Aku siap untuk menolongmu kapan saja"
Memang kadang kita hanya ingin ada orang yang mau mendengarkan uneg-uneg  yang menyesakkan dada kita.

Saya adalah manusia biasa *bukan manusia setengah salmon*, ada saatnya saya  tidak mood mendengarkan curhat mereka, apalagi disaat sedang banyak kerja atau saat saya sendiri sedang butuh teman curhat.
Mendengarkan orang curhat itu tak bisa hanya selintas atau disambi mengerjakan pekerjaan lain.
Jika hal ini yang saya hadapi, biasanya saya meminta mereka menuliskannya dan mengirimkan lewat email, inbox facebook  atau sms. Namun tidak semua teman dapat mengungkapkan apa yang dirasa dalam bentuk tulisan, mereka menginginkan saya mendengarkan curhatnya secara lisan.
Waduh, kalau sudah seperti ini biasanya saya mengalahkan pekerjaan saya (untunglah hal seperti ini tak sering terjadi).

Dengan mendengarkan curhat, kita semakin berpengalaman. Bukankah pengalaman tak harus kita yang mengalami kejadiannya?.
Dengan mendengarkan curhat, kita telah berupaya menolong teman meringankan bebannya, walau sedikit.
Dengan mendengarkan curhat kita pun juga dapat berintropeksi diri, bisa jadi  curhat mereka adalah teguran buat kita, karena kita sendiri melakukan hal yang salah seperti yang dicurhatkan teman.
Berbahagialah menjadi tempat curhat, karena kita banyak belajar dari situ.
Satu falsafah yang saya pegang hingga kini..
”Ember bukan sebagian dari iman”
Wallahu'alam

11 komentar:

  1. Anaz ember enggak, Mbak?

    Makasih, yooooo..
    Anaz juga sering curhat :)

    BalasHapus
  2. Salahhhhhhhhhhh... huuuuu, githu aja gak tahu. Anaz panci tauk

    #sebel

    BalasHapus
  3. @Anaz > tapi lebih mirip wajan

    BalasHapus
  4. Mirip lagi ama ulekan dan sambal belacan :)

    Padahal sumpah, Anaz itu mau komen lurus2 aja. Anaz udah bosen jadi orang gila :D

    BalasHapus
  5. @anaz . komen itu sesuai niat Naz..maka luruskan niatmu dulu agar komennya lurus (lho dibaleni maneh)

    BalasHapus
  6. dengerin cerita orang juga bisa jadi bahan cerpen atau novel yang mau kita buat (kalo mau)
    hehehe

    BalasHapus
  7. aku termasuk yang berusaha meminimalisasi curhat, tapi yo kadang kalo lagi mumet, yah curhat juga dah.. sini kaka, aku mau curhat juga aah

    BalasHapus
  8. @srrriii >iya banget tuh, tp aku blm bisa bikin cerpen, ajari dunkz

    @yankmira > pasti curhat tentang usaha pembullyan seseorang krn 1 kamar dihuni 3 org...xixixii

    BalasHapus
  9. itu sih masih mending, saat aku masih SMP, pernah ada teman cewek, "tolong ambilkan recehan di saku depan rok-ku ini, tanganku masih basah nih"

    pertanyaannya, tahu gak apa yang saia pikirkan saat masih puber-pubernya saat disuruh begitu?

    BalasHapus
  10. @gajah_pesing > klo sekarang dah gak puber tho?...mau dunk nolongin ambil recehan di saku depan rok? :p

    BalasHapus

Copyright @ Elsenovi Menulis | Fluzu theme designed by Pirawa